Infrastruktur

99,9 Persen Kabupaten Flores Timur Diterangi Listrik, Bupati Flotim Sebut Tinggal Satu Desa Lagi

Bupati Kabupaten Flores Timur, Anton Hubertus Hadjon saat menghadiri Rakornas Forkopimda 2019 di Sentul, Bogor, Jawa Barat. (Foto bungkornel)

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,-Kabupaten Flores Timur adalah kabupaten tertinggi rasio elektrifikasinya yang disusul Kota Kupang. Pembangunan kelistrikan di Flores Timur jauh lebih cepat dari kabupaten lainnya di NTT dan nyaris tuntas.  Saat ini sudah mencapai 99,9 persen rakyat Flotim menikmati listrik.

‘Pemerintah sangat serius membangun kelistrikan untuk memenuhi kebutuhan warga. Saat ini  listtrik di Flores Timur sudah mencapai 99,9 persen. Semua desa dan kelurahan sudah diterangi listrik, tinggal satu desa dan beberapa dusun lagi yang akan dibangun jaringan listriknya,” kata Bupati Flores Timur, Anton Hubertus Hadyon, di sela-sela Rakornas Forkopimda  2019 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor Jawa Barat, Rabu (13/11/2019).

Dikatakan Bupati Hayon, sebagian besar pembangkit listrik bersumber dari tenaga disel dan juga didukung dengan tenaga surya. Kedua sumber ini digunakan PLN untuk menerangi seluruh warga Flotim. Di Solor sudah 100 persen, di daratan sudah 100 persen dan di Adonara tinggal  beberapa dusun yang akan dibangun oleh PLN.

“Seluruh pembangunan kelistrikan di Flotim dilakukan oleh PT. PLN. Sudah 99,9 persen warga terlayani penerangan listrik. Meskipun ada wilayah yang dayanya masih terbatas, namun mereka sudah menikmati listrik, tinggal dibenahi lagi kedepannya. Kami ucapkan terima kasih kepada PLN yang telah membangun jaringan penerangan listrik di seluruh Flotim,” ucap Bupati Hayon.

Orang nomor satu di Flotim ini berharap, dengan dibangunnya listrik yang merata di semua kecamatan, kelurahan dan desa-desa, akan mendukung peningkatan ekonomi dan pendidikan warga sehingga angka kemiskinan dapat berkurang secara perlahan-lahan.

“Kehadiran listrik harus dapat memberikan dampak bagi warga. Warga harus menggunakan listrik untuk berbagai aktivitas ekonomi dan pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup. Kita bersyukur adanya perhatian yang besar dari PLN terhadap pemenuhan kebutuhan listrik, dan kita harus manfaatkan semaksimal mungkin,” ujarnya.

Untuk satu desa dan beberapa dusun yang belum terbangun, tambah Bupati Hayon, dirinya akan berkoordinasi lagi dengan PLN dan pihak terkait lainnya. Dia menargetkan ditahun 2020 seluruh wilayah Flotim sudah mencapai 100 persen penerangan listrik.

2020 Seluruh Rumah di Flores Tuntas Dialiri Listrik

Sebelumnya, seperti diberitakan Berita Satu.Com  pada April 2019 lalu, bahwa pada akhir April 2019, rasio elektrifikasi di delapan kabupaten di Flores baru 77,5% dan bila ditambah Lembata, rasio elektrifikasi rata-rata 77,2%. Ditagetkan, pada akhir 2019 rasio elektrifikasi di Flores mencapai 90%.

“Paling rendah adalah rasio elektrifikasi di Manggarai Timur yang baru 45,48% dan tertinggi adalah Flores Timur yang sudah mencapai 100%,” kata Djoko Abumanan, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara di Ruteng, NTT, beberapa waktu lalu.

Rasio elektrifikasi 23 kabupaten di NTT, kata Djoko, rata-rata 71,44%. Tertinggi adalah Kota Kupang dan Kabupaten Flores Timur yang mencapai 100%. Di kedua wilayah ini, jaringan transmisi sudah tersambung. Kupang adalah ibu kota Provinsi NTT. Sedangkan, Flores Timur mendapat cukup banyak perhatian dari pemimpin tertinggi NTT.

Peringkat kedua adalah Kabupaten Ende yang mencapai 97,24%. Itu terjadi karena Kota Ende sudah lama menjadi markas kantor PLN. Sejak zaman Belanda, Ende sudah menjadi kota. Seiring dengan akses jalan, jaringan transmisi juga sudah tersambung ke berbagai wilayah kabupaten.

Peringkat ketiga dan keempat adalah Kabupaten Ngada dan Nagekeo dengan rasio elektrifikasi, masing-masing 93,85% dan 84,95%. Rasio elektrifikasi di kedua kabupaten ini cukup tinggi karena letaknya yang dekat dengan pembangkit, ada akses jalan yang cukup baik ke permukiman, dan jaringan transmisi yang sudah banyak tersambung. Sekitar 13 tahun lalu, Nagekeo adalah bagian dari Kabupaten Ngada. Satu gubernur NTT berasal dari Ngada, yakni Herman Musakabe.

Kondisi kelistrikan di Manggarai Timur cukup memprihatinkan. Rasio elektrifikasi di kabupaten yang terbentuk 13 tahun lalu itu baru 45,48% dan jika dihitung hanya sambungan listrik yang dibangun PLN, rasio elektrifikasinya baru 25%. Penduduk kabupaten ini tersebar di pegunungan yang sulit dijangkau kendaraan bermotor dan itu menyulitkan pembangunan jaringan transmisi.

Dua kabupaten Manggarai lainnya juga tertinggal. Hal itu terlihat pada rasio elektrifikasi di Manggarai yang baru 63,17% dan rasio elektrifikasi di Manggarai Barat yang hanya 62,69%. Ini terjadi karena penduduk di dua kabupaten ini yang terlalu menyebar. Ada yang tinggal di pegunungan, ada yang tinggal di pulau-pulau kecil. Akses jalan masih terbatas. Pihak PLN kesulitan membangun jaringan transmisi. Sekitar 13 tahun lalu, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat adalah satu kabupaten dengan luas lebih dari Bali.

Sungguh pun demikian, secara umum, rasio elektrifikasi di Flores, lebih tinggi dari rasio elektrifikasi di NTT. Rasio elektrifikasi NTT per April 2019 baru 71,36%, sedang rasio elektrifikasi di Flores sudah 77,5% dan Kabupaten Lembata, kabupaten baru di timur Flores sudah mencapai rasio elektrifikasi 74,81%. Sekitar 13 tahun lalu, Lembata adalah bagian dari Flores Timur.

Diberitakan Kompas.com, belum lama ini, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) optimis rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) akan mencapai 100 persen dalam waktu dekat. Saat ini kondisi rasio elektrifikasi di NTT yang saat ini telah mencapai 73,72 persen, telah meningkat dari tahun lalu yang baru mencapai 62 persen.

GM PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) Ignatius Rendoyoko, seperti diberitakan Kompas.com, menjelaskan bahwa PLN melihat wilayah ini merupakan salah satu provinsi yang tertinggi dalam optimalisasi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan ( EBT), khususnya dalam pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Pengerjaan proyek PLTS di NTT dilakukan melalui penggunaan bidang lahan tanah yang tidak lagi produktif, sehingga nilai ekonomisnya akan bisa terkonversi melalui aplikasi PLTS,” paparnya di Kupang, NTT, seperti dikutip dari Kontan.co.id, Senin (16/9/2019) lalu.(bungkornell/sft)

To Top