Sorotan Redaksi

Air Mata Rakyat Ende Tak Henti, Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni Tanpa Insinyur Marsel Petu

Perayaan Fertival Parade Kebangsaan di Kota Ende, Flores, NTT. (Foto:Infopublik)

“Banjir air mata puluhan ribu rakyat Ende di Bandara Aboeroesman tak terbendung. Peti mati Sang arsitek Kota Ende turun dari pesawat di hadapan Gunung Meja. Ia diusung dengan bendera setengah tiang bak Panglima Perang yang pulang dari medan pertempuran politik. Kabut duka menyulubungi Kota Pancasila Sakti itu. Sesak di dada, namun apa boleh buat Dewa Langit, Dewa Matahari, Ibu Bulan, dan Sang Mata Air Ilahi telah memanggil pulang. “

Bupati Ende, Ir. Marsel YW. Petu.(Foto:PosKupang)

ENDE, SUARAFLORES.NET,- Setiap tahun di Kota Ende, Pulau Flores, digelar Festival Parade Pesona Kebangsaan yang dimulai dari 29 Mei hingga 1 Juni untuk memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Festival Pesona Kebangsaan ini melibatkan berbagai etnis dengan tampilan busana adat masing-masing daerah ini menjadi sejarah baru di Flores, NTT ketika Bupati. Ir. Marsel. YW. Petu-Ahmad Djafar menjadi bupati dan wakil bupati. Dengan mengusung sebuah maskot besar Pancasila, oleh Bupati Marsel bukan sekedar mengenang bahwa Kota Ende adalah tempat Ir. Soekarno (Bung Karno) merenungkan lima butir Pancasila di bawa Pohon Sukun, tetapi lebih dalam dari itu untuk menanamkan ideologi dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang beraneka ragam budaya, bahasa, suku, agama dan adat istiadat.

Rakyat Kota Ende sejak Parade Kebangsaan ini digelar sangat antusias. Mereka terlibat aktif mengikuti parade tersebut dengan mengenakan berbagai busana adat bermotif daerah masing-masing. Ada orang Jawa, orang Bali, orang Batak, orang Papua, orang Ambon, orang Sulawesi, orang Minangkabau, dan juga warga NTT yang ada di Ende ikut mengenakan busana masing-masing daerahnya. Parade ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir sejak Insinyur Marsel Petu menjadi Bupati Ende. Kegiatan yang tergolong unik dan langka di hari lahir Pancasila ini menarik perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat NTT, pemerintah pusat dan secara khusus media lokal dan nasional. Parade dan berbagai atraksi budaya dipubilkasikan secara luas ke penjuru Indonesia dan dunia. Para wisatawan asing pun tidak ketinggalan menyaksikan kekayaan budaya Indonesia di Bumi Flores itu.

Kini Insinyur pelanjut titah doktrin ideologi Pancasila Sakti Soekarno itu telah pergi menghadap Tuhan dan Leluhur Panjaga Bumi Ende. Ia menghembuskan nafas terakhir di Hari Minggu, 26 Mei 2019 di Kota Kupang dalam sebuah misi politik dan pemerintahan. Di kala puluhan ribu bola mata rakyat Ende telah lelap tertidur. Di saat tubuh letih puluhan ribu rakyat Ende di kota, di pulau-pulau, gunung, bukit dan lemba di desa -desa terpencil tertidur pulas letih bekerja. Lepas tengah malam, Insyur Pengagas dan Pencetus Parade Kebangsaan itu masih terus bekerja dan berjuang, kemudian secara tiba-tiba ia mengalami serangan jantung (menurut medis) dan jatuh menutup mata dan mulut untuk selamanya, tidak lagi membuka mulut sedetik pun untuk sekedar mengucapkan ‘selamat tinggal rakyatku teruskan perjuangku membangun Kota Ende dan menjaga Pancasila.’ Banjir air mata puluhan ribu rakyat Ende di Bandara Aboeroesman tak terbendung, Sang arsitek Kota Ende turun dari pesawat di hadapan Gunung Meja. Ia diusung dengan bendera setengah tiang bak Panglima Perang yang pulang dari medan pertempuran politik. Kabut duka menyulubungi Kota Pancasila Sakti itu. Sesak di dada, namun apa boleh buat Dewa Langit, Dewa Mata Matahari, Sang Mata Air Ilahi, telah memanggil pulang.

Kali ini dalam perayaan Hari Lahir Pancasila akan terasa penuh haru. Pasalnya, suara lantang keras nan tegas sang pencetus Parade Kebangsaan itu telah ‘terbenam di ufuk barat Bumi Pancasila. Tubuh tegapnya yang kokoh dan gagah tampan serasi berbalut busana adat Mosalaki Tana Ende tinggal kenangan dalam album sejarah. Gaya khasnya menyambut dan merangkul berbagai perbedaan kelompok dan golongan, suku dan agama di Kota Ende tinggalah cerita bernas dari bibir ke bibir oleh setiap orang. Keramahan yang lembut dengan rokok tembako dan sirih pinang serta tuak di meja-meja perjamuan adat masih tergambar di bola mata warga Ende. Meski demikian, Gegap-gempita dan suasana persaudaraan dan persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang digaungkan Marsel Petu ke Persada Nusantara pasti tidak mati karena masih ada Marsel Petu kedua, yaitu Wakil Bupadi Ahmad Djafar, sahabat karibnya yang paling tahu tentang bagaimana keduanya melangkah dalam suka dan duka membangun Kota Ende dan menjaga Pancasila, merawat Kebhinekaan dari waktu ke waktu. Agar, ke depan, persaudaraan, persatuan dan kesatauan budaya dan agama, semangat nasionalisme, pluralisme yang ditanamkan puluhan tahun ‘tidak lekang oleh panas dan rusak oleh hujan dan badai politik dari arah manapun.’

Meski raga Marsel Petu telah mati selamanya, tapi jiwa nasionalisme, semangat kerja keras, dan secara khusus kecintaannya kepada Ideologi Pancasila dan Bung Karno tidak mati tenggelam dan hanyut ditelan bumi. Jiwa nasionalisme, kerja keras dan kecintaannya itu kini ia tinggalkan dan titipkan kepada seluruh rakyat Kota Ende, Flores bahkan Provinsi NTT. Saksi mata menuturkan, ternyata beberapa jam jelang detik-detik dijemput sakrat maut, Sang Insinyur Marcel Petu bercerita berapi-api mengenai persiapan menggelar Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019 di Kota Ende. Marsel bertekat menjadikan Kota Ende sebagai Kota Wisata Sejarah Pancasila dan Kota Wisata Sejarah Bung Karno.

“Iya, dalam perbincangan secara lisan, Pak Marsel bercerita berapi-api tentang persiapan menyambut Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Dia ingin menggalakan Wisata Sejarah Pancasila dan Bung Karno di Ende. Hal itu ia sampaikan secara lisan kepada Ketua DPD I Partai Golkar NTT, Melky Lakalena seusai rapat di Kantor DPD Golkar mempresetasikan hasil Pemilu 2019,” kata Ketua DPD I Golkar NTT, Drs.Melky Lakalena, Putra Tana Ende yang kini terpilih sebagai Anggota DPR-RI 2019-2024 beberapa hari lalu.

Selamat Jalan Sang Insinyur, Selamat berjumpa Sang Khalik dan Para Leluhur Pahlawan kita. Doakan rakyat Ende tetap bersatu. Doakan Pancasila Tetap Kuat dan Kokoh di Bumi Indonesia. (Bungkornell/ suaraflores.net)

To Top