Peristiwa

Angkut Ratusan Penumpang, KM Lambelu Ditolak, Begini Penjelasan Bupati Sikka

Suara Flores
Warga Orang Tua Tolak Karantina di SD Santo Yoseph Maumere

MAUMERE, SUARAFLORES.NET – Pada Minggu (5/4/2020), sejumlah elemen mahasiswa di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau  Flores menggelar aksi penolakan KM Lambelu yang dijadwalkan akan bersandar di Pelabuhan L. Say Maumere pada Senin (6/4/2020) malam.

Dalam orasi, mereka menyampaikan penolakan terhadap KM Lambelu yang mengangkut  ratusan penumpang yang akan turun di Pelabuhan L. Say. Mereka  mendesak pemerintah Kabupaten Sikka untuk segera menutup Pelabuhan L. Say yang sampai saat ini masih melayani penumpang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Kita minta pemerintah segera mengambil sikap untuk menutup dermaga ini. Kita keberatan KM Lambelu bersandar di pelabuhan,” ujar Ketua GMNI Cabang Sikka, Alvianus L Ganggung.

Saat aksi berlangsung, para mahasiswa yang terdiri dari PMKRI, GMNI dan sejumlah Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan L. Say Maumere ini dibubarkan oleh pihak kepolisian. Para aktivis ini kemudian diangkut menggunakan mobil dalmas Polres Sikka untuk diambil keterangan.

Adapun 11 tuntutan para mahasiswa, pertama, mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan untuk segera mengeluarkan surat larangan terhadap pelayanan pelayaran kapal penumpang dan maskapai penerbangan yang ada di Kabupaten Sikka untuk sementara waktu.

Kedua, Mendesak Pemkab Sikka agar berkomitmen secara tegas menolak berlabuhnya KM. Lambelu di Pelabuhan L. Say Maumere. Ketiga, mendesak Pelni dan agen pelayanan penumpang lainnya untuk siap bertanggungjawab sepenuhnya, jika penumpang yang ada dalam kapal ada yang terinfeksi covid-19.

Keempat, jika dipaksakan untuk berlabuh makan kami mendesak pihak pemerintah untuk berkoordinasi dengan Pelni untuk mengupayakan agar KM Lambelu berlabuh pada siang hari sehingga proses pengawasan lebih efektif.

Kelima, melakuan pendataan secara detail dan menyeluruh kepada seluruh penumpang agar bisa mengetahui tempat asal keberangkatan dan tujuan penumpang. Keenam, mengenakan pengawasan yang maksimal di pintu masuk dan pintu keluar Pelabuhan L. Say Maumere.

Kedelapan, melakukaan koordinasi dengan Pemkab sedaratan Flores dan Lembata agar menyiapkan transportai dan mobilisasi para penumpang menuju daerah tujuan masing-masing.

Baca juga: http://www.suaraflores.net/ende-kembali-memanas-sekda-dan-dprd-seteru-terkait-karantina-pendatang/

Baca juga: Psikolog: Panik, cemas dan ketakutan yang akut jadi pintu masuk virus

Kesembilan, mendesak pemerintah untuk tidak memperbolehkan para perantau yang datang dari daerah terpapar covid-19 untuk melakukan karantina mandiri di rumah. Kesepuluh, mendesak Pemkab Sikka untuk segera mengadakan Swab sebagai alat pendeteksi virus corona.

Kesebelas, jika tuntutan kami tidak diindahkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, maka dalam kurun waktu 1×24 jam, kami kelompok cipayung dan seluruh TKBM Lorens Say melakukan aksi lanjutan dengan kekuatan massa yang lebih besar.

Warga Minta Penumpang Lambelu Dikarantina Jauh dari Pemukiman

Terkait rencana pemerintah yang hendak menggunakan sejumlah gedung sekolah sebagai tempat karantina penumpang, ratusan warga dan orang tua murid melakukan protes keras. Warga dan orang tua beralasan bahwa gedung sekolah adalah tempat untuk belajar bukan tempat untuk karantina penumpang kapal.

Aksi protes ini dilakukan warga orang tua murid SD Inpres Maumere, Jalan Wairklau, Kelurahan Madawat, Kota Maumere, Senin (6/4/2020) pagi.

“Kami minta agar pemerintah menyiapkan mereka pada lokasi yang aman, jauh dari keramain. Jangan pakai gedung sekolah. Kami yakin pemerintah paham soal ini. Karena kita disarankan untuk jaga jarak,” ujar Hendrikus Anton Djuang, Ketua RT003/RW/008, Kelurahan Madawat, Kota Maumere (6/4).

Baca juga: Ketua Fraksi Golkar Ende Minta Pemda Segera Lakukan Operasi Pasar

Baca juga: Wilayah Perbatasan Ende, Sikka dan Nagekeo Dijaga Ketat

Hal yang sama juga disampaikan oleh Yuven Fernandes selaku Sekretaris RT003, bahwa pada dasarnya pihaknya tidak setuju SDI Maumere dijadikan tempat karantina penumpan dalam situasi saat ini.

“Masih ada tempat yang lebih aman. Pemerintah tolong pertimbangkan jarak dan keramaian kota. Karena kita semua diminta jaga jarak dan berada dalam rumah.

Selain di SDI Maumere, aksi protes yang sama pun dilakukan oleh warga atau orang tua murid SD Santo Yoseph di Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere. Mereka pun tidak ingin sekolah yang ada di tepi jalan itu dijadikan karantina penumpang.

 “Pemerintah tolong cari tempat lain yang lebih aman. Jangan di sini,” ujar sejumlah warga di lokasi.

Terhadap fakta tersebut, sebagai pemimpin daerah, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo langsung turun ke lokasi untuk bertemu dengan warga yang protes.

Kepada warga, Bupati mengharapkan agar warga saling mendengarkan satu sama lain. Tidak saling betengkar. Pemerintah dengan berjuang keras untuk mencari tempat karantina yang aman dan nyaman bagi semua masyarakat Kabupaten Sikka.

“Kapal Lambelu akan masuk malam ini. Kami sudah menghimbau kepada pihak Pelni agar kapal setiap penumpang diperiksa terlebih dahulu sebelum semua penumpang turun di pelabuhan. Oleh Karena itu, para penumpang dikarantina di atas kapal selama 6 hari. Iya, kapal itu berada di tengah laut selama 6 hari,” jelas Bupati Robi.

Hadir bersama Bupati Robi, yakni Dandim 1603 Sikka, Letkol.Inf. Zulnalendra Utama dan Kapolres Sikka, AKBP Sajimin. (sfn02)

To Top