Infrastruktur

Banjir Awal Tahun, Pagar Puskesmas Hancur, Warga Waigete Heran

Wens Wege, Anton Bata dari Fraksi Hanura dan Putri Waiblama dari Fraksi Demokrat Sejahtera Saat Meninjau Proyek Pembangunan Puskesmas Waigete pada Oktober 2019 Lalu

MAUMERE, SUARAFLORES.NET –Di awal tahun 2020 banjir melanda sejumlah titik di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Bangunan gedung gantung, turap pengaman goyang, rumah warga hancur, pohon tumbang di mana-mana. Dari semua kondisi itu, paling heboh terjadi di Kecamatan Waigete. Warga heran menyaksikan banjir yang kemudian menghancurkan pagar puskemas yang baru saja dibangun oleh pelaksana proyek.

Mendapat informasi tersebut, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo langsung turun ke lokasi, (29/1/2019). Kehadiran orang nomor satu di Puskesmas Waigete bikin banyak orang shock. Bupati bikin aksi viral yang menghebohkan jagat media sosial.

Seperti dalam video yang viral, Bupati ancam tendang dan mendorong pengawas proyek. Kepada pengawas proyek, ia meminta agar proyek pagar pengaman tersebut dibongkar total dan dibangun ulang.

Aksi bupati ini, bikin viral di alam raya media social melalui berbagai pemberitaan media online dan elektronik. Sekaligus menjadi opini baru awal tahun 2020 ini.

Netisen banyak memuji alias memberi apresiasi kepada sang pemimpin yang memasuki dua tahun kepemimpinannya bersama Wakilnya Romanus Woga. Apalagi saat itu, Bupati sedang libur, tapi ia terjun untuk melihat dari dekat dan mengambil solusi.

Pada 03 Januari 2020, setelah aksi viral yang dilakukan oleh Bupati Sikka, masyarakat Kabupaten Sikka, khususnya Waigete kembali ramai. Kurang lebih 3 meter dinding gedung puskesmas bagian dalam hancur seketika. Saat itu, tangan Anggota DPRD Sikka, Wens Wege dari Fraksi Hanura mencoba memegang dan menggerakan dinding gedung yang dibangun menggunakan bata merah dan terlihat sudah kering itu.

Wens Wege kepada Suara Flores mengatakan bahwa saat itu ia melakukan peninjauan proyek bersama Bupati Sikka dan Ketua DPRD Sikka. Hancurnya dinding gedung tersebut, saat dirinya memegang dan hendak menggerakan dinding gedung tersebut, namun apalah daya sebagian dinding itu hancur begitu saja.

“Saya pegang dan mau goyang. Saya rasa aneh, ketika mau goyang langsung miring dan jatuh. Hancurnya seakan-akan tak ada campuran. Batu lain, campuran semennya lain, terpisah. Demi masyarakat, saya siap menghadapi itu. Tidak apa-apa. Karena kami di Hanura sudah turun sejak Oktober. Dan juga sudah sampaikan kepada Kadis Kesehatan dan PPK, walau saat ini baru viral. Saya berterima kasih kepada Bupati Sikka yang mengisi waktu libur dengan lembur di Waigete,” ujarnya Mantan Guru SMAK Yohanes XXIII itu, (4/1/2019) siang.

Menyaksikan peristiwa banjir ini, sejumlah warga di Waigete mengaku heran dan kaget. Mereka menyebut banjir menuju Puskemas Waigete itu baru pertama kali terjadi. Mereka heran karena pada tahun – tahun sebelumnya belum pernah terjadi.

“Ini baru pertama kali. Kami juga heran. Kok bisa ya banjirnya malah ke arah Puskesmas. Padahal, sebelumnya banjir melalui kali. Kami minta pemerintah serius tangani masalah ini,” ujar Endy, warga Desa Egon, Kecamatan Waigete

Anton, warga Desa Egon lainnya meminta agar pemerintah saling berkoordinasi untuk mencaritahu penyebab terjadinya banjir besar menghancurkan pagar puskemas.

“Dari dulu memang ada banjir tapi melalui kali mati, bukan ke arah puskemas,” ujar Anton, salah satu petani Moke di Waigete itu.

Sebelumnya diberitakan media ini, tiga Anggota DPRD Kabupaten Sikka melakukan monitoring terkait pelaksanaan pekerjaan pembangunan Puskesmas Waigete. Langkah itu dilakukan tiga wakil rakyat ini untuk melihat secara dekat perkembangan fisik proyek.

Tiga Anggota DPRD Kabupaten Sikka tersebut, yakni Wenseslaus Wege (Hanura), Anton Bata (Hanura) dan Putri Waiblama (Demokrat).

Setelah memantau fisik proyek, mereka menyebut bahwa fisik proyek berjalan lambat. Mestinya, kata mereka, fisik proyek harus sudah mencapai 60 an persen.

“Pengawas kontraktor melaporkan fisik proyek baru 35 persen. Ini tidak bisa dibenarkan karena material mudah dijangkau. Bagi kami mestinya proyek ini cepat selesai bukan lambat begini,” kata Anton Bata di lokasi proyek.

Progres pekerjaan, kata Anton, belum mencapai target. Sebenarnya progres pekerjaan harus mencapai 60 persen berdasarkan kontrak.

Pengawas Kontraktor kepada Suara Flores menyampaikan terima kasih atas semua kritikan dan masukan dari para wakil rakyat.

“Kami berterima kasih DPRD Sikka sudah ikut mengawasi. Semua kritikan dan masukan kami terima sebagai dukungan untuk menjaga kualitas proyek,” ujar Winanto. (sfn02).

To Top