Edukasi

Bung Karno di Sumba, Kesaksian Gadis Anggota Koor Lagu Indonesia Raya

WAINGAPU,- SUARAFLORES.NET,–Usianya kurang lebih 76 tahun. Tubuhnya ramping dengan kerudung rambut air  hitam bercampur uban. Kulitnya yang hitam manis terlihat anggun sisa kecantikannya yang alami sederhana. Gaya bicaranya yang lembut nan santun nyaris berdialeg Belanda. Ia tinggal di sebuah rumah tua yang sangat sederhana di tengah Kota Waingapu, Sumba Timur. Rambu Piras, demikian perempuan tegap, tegas nan jujur ini biasa disapa. Ia adalah mantan penari dan penyanyi di kala Presiden Yang Mulia, Panglima Tertinggi, Ir. Soekarno ke Pulau Sumba.

Suasana rumah tua yang pernah terbakar itu tampak sepi. Di depannya ada teras kecil pun sepi dengan pekarangan kecil yang sunyi tanpa hiasan tanaman bunga. Ketika media ini mendatangi rumahnya yang berdinding kayu dan beratap seng, ia keluar dari dalam kamarnya dan menyapa. Wajahnya tampak ceriah penuh dengan garis-garis sejarah masa lalu. Secara khusus tentang kesaksiannya ketika Bung Karno menginjakkan kakinya di Waingapu, Sumba Timur sekitar tahun 1950-an.

Ketika disentil mengenai tokoh kaliber kelas internasional Bung Karno, Rambu Piras sumringah dan langsung menggelontorkan luapan cerita kehebatan Sang Proklamator yang dijuluki “Singa Podium” itu. Ia bicara berapi-api dengan suara yang lantang seolah kembali ke masa lalunya menyambut Bung Karno di Lapangan Umbu Putik Marisi ketika masih gadis belia bersama rekan-rekannya.

Dikisahkannya, saat Bung Karno datang, para pejabat di Sumba mencari pemuda-pemudi Sumba yang gagah dan cantik jelita di penjuru sumba untuk menjadi penari dan penyanyi menyambut Bung Karno yang akan berkunjung ke Waingapu. Saat itu, ia masih gadis belia yang masih sangat muda. Ia tinggal dengan sebuah keluarga Belanda yang membawa misi zending ke Sumba. Keluarga Belanda itu memiliki anak-anak kecil, dan ia sebagai pembantu yang menjaga anak-anak bersama ibunya di Sumba Barat. Di rumah orang Belanda itu ada radio, dan lewat siaran radio dia mendengar Presiden Bung Karno akan berkunjung ke Sumba.

Ia kemudian dihubungi dan diajak untuk ikut dalam kelompok paduan suara yang menyanyikan Lagu Indonesia Raya dalam acara penyambutan Bung Karno di Kota Waingapu. Ia pun ikut dalam persiapan penyambutan itu dengan terlebih dahulu meminta ijin kepada orang Belanda tersebut. Waktu itu, Indonesia sudah merdeka, tapi keluarga Belanda itu masih di Sumba menjalankan misi Zending.

“Waktu Bung Karno mau datang, saya ikut dalam paduan suara. Saya lalu minta ijin sama tuan Belanda untuk pergi ke Kota Waingapu. Saya diijinkan dan saya sangat gembira mau lihat Bung Karno yang sangat terkenal waktu itu. Saya bersama teman-teman saya kemudian pergi ke Waingapu bergabung bersama teman-teman putri yang lain,” katanya mengingat kembali masa lalunya.

Baca juga: Kisah Para Tokoh Tentang Kunjungan Soekarno di Maumere

Baca juga: Dikala Bung Karno Tepuk Bahu Si Tukang Kayu

Dikisahkannya, saat itu di Sumba belum ada jalan raya yang bagus seperti saat ini. Saat itu juga tidak ada kendaraan baik bemo maupun bus. Orang-orang desa berbondong-bondong pergi ke Kota Waingapu. Ada yang berjalan kaki berhari-hari, ada yang menunggang kuda, dan ada pula yang menumpang truk, termasuk ia dan kawan-kawannya.

Ketika tiba di Waingapu, ia bersama kawan-kawannya bergabung dalam kelompok paduan suara. Mereka diurus oleh pejabat-pejabat daerah. Suasana Kota Waingapu yang masih seperti kampung sepi yang berbalut pepohonan hijau terlihat sangat ramai. Terlihat di sana-sini manusia dari berbagai penjuru Pulau Sumba tumpah ruah di kota yang pernah dibombardir tentara Jepang untuk dijadikan markas pertahanan militer untuk menyerang Australia ini.

Rambu Piras si gadis cantik bersama rombongan paduan suara kemudian pergi ke lapangan dan duduk panggung persis di belakang tempat Bung Karno dan tamu-tamu kehormatan duduk. Ketika Bung Karno tiba di lapangan Umbu Putik Marisi, riuah-rauh hingar bingar, gegap gempita suara warga tak bisa dibendung.  

Dikatakannya, puluhan ribu warga yang sudah sejak pagi menunggu seakan meluapkan kegembiraannya, penuh suka cita menyambut sang pemimpin besar revolusi. Tak puas berdiri di lapangan bertanah, warga begitu banyak yang memanjat pohon. Dari atas pohon mereka menyaksikan Bung Karno menumpang sebuah mobil terbuka dan melambai-lambaikan tangannya. Ia mengenakan pakaian yang gagah dan sangat tampan berpeci hitam.

“Saya dan kawan-kawan saya yang bertugas sebagai paduan suara duduk persis di belakang Bung Karno. Karena dari kampung (anak kampung), kami memang agak gugup dan grogi karena baru pertama kali melihat orang besar seperti Bung Karno, para menteri dan para duta besar yang ikut dalam rombongan kepresidenan. Tetapi kami sangat senang, bangga dan juga terharu bisa melihat langsung presiden pertama Indonesia itu. Saya lihat banyak orang seperti lautan. Manusia tidak bisa diperikarakan karena sangat banyak orang yang datang,”aku penerjemah bahasa Belanda ini.

Baca juga: Ribuan Rakyat Sikka Sambut Soekarno, Lagu Proklamasi Berkumandang

Baca juga: Frans Seda Tokoh Tiga Zaman dan Bandara Tertua di Flores

Acara pun dimulai, dan Rambu Piras bersama kawan-kawannya tampil ke depan panggung untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang dipimpin seorang dirijen. Mereka pun menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia itu hingga selesai. Namun, rupanya Bung Karno yang berdiri sangat memperhatikan mereka melihat lagu Indonesia Raya yang mereka nyanyikan tidak penuh semangat. Bung Karno kemudian meminta menyanyikan sekali lagi dengan penuh semangat. Dan mereka pun menyanyikan lagi sesuai permintaan Bung Karno.

“Bung Karno suruh kami nyanyi sekali lagi. Rupanya Bung Karno lihat kami nyanyi kurang semangat atau loyo-loyo, jadi dia minta kami nyanyi ulang. Kami pun menyanyikan dengan penuh semangat, dan setelah selesai diberi tepuk tangan memuji kami. Saya lihat Bung Karno tersenyum bangga,” kisahnya sembari menambahkan semua anggota paduan suara mengenakan busana adat asli Sumba.

Seusai menyanyikan Lagu Indosia Raya, mereka pun kembali ke tempat duduknya. Acara selanjutnya, Bung Karno memberikan sambutan sebagai kepala negara. Ketika Bung Karno maju berdiri di atas panggung, semua warga sorak gembira teriak hidup Bung Karno berkali-kali. Warga terlihat sangat histeris melihat Putra Sang Fajar itu.

Baca juga: Mufida Jusuf Kalla Bersama Rombongan Tiba di Bandara Frans Seda

Baca juga: Diam-diam Kristo dan Honing Bergerak ke Senayan

Dalam kutipan pidato Bung Karno yang masih diingat Rambu Piras, Bung Karno menegaskan bahwa Indosia adalah negara merdeka yang mandiri dalam mengelolah seluruh kekayaan alam yang kaya raya. Bung Karno juga mendorong warga untuk bersatu, bekerja keras, berjuang membangun bangsa.

“Di benua lain hanya ada padang pasir, hanya ada padang gurun yang kering kerontang, tapi di sini kita punya air, kita punya hutan, kita punya tanah, kita punya laut. Bumi kita bumi merdeka yang kaya raya. Bangkit bersatu dan berjuang membangun kita punya Indonesia,”ungkapnya mengingat sepenggal pidato Bung Karno.

Dia menambahkan, sebelum berpidato, Bung Karno memperkenalkan beberapa duta besar yang hadir dan juga para menteri yang ikut serta dalam rombongannya. Setelah selesai acara, mereka kemudian diajak ke rumah jabatan bupati Sumba Timur.

Rambu Piras mengungkapkan dengan gembira, kisah kedatangan Bung Karno itu tidak akan ia lupakan sepanjang hidupnya. Terlebih lagi, saat ia dan kawan-kawan penari dari Sumba di undang Bung Karno ke Jakarta untuk ikut memeriahkan acara pekan olah raga asia tenggara di Istora Senayan-Jakarta sekitar tahun 1960-an. Oleh tokoh-tokoh dan pejabat orang NTT di Jakarta, setelah menari, mereka kemudian bertemu lagi dengan Bung Karno di Istana Negara Indonesia.

“Ya, suatu saat kami diundang Bung Karno untuk menari di Jakarta. Setelah usai kegiatan, kami diundang ke istana negara. Di sana kami dijamu oleh Bung Karno. Kami semua memang dari kampung jadi banyak cerita lucu-lucu, seperti kaku, gugup, dan gemetar ketika masuk istana negara diperiksa oleh Paspampres dan ketika bertemu soerang presiden di istana yang megah,” ungkapnya tersenyum.

Dia mengaku, Bung Karno adalah seorang pemimpin hebat, penuh kharisma dan sangat mencintai rakyatnya. Mengingat Bung Karno, ia terus mendukung putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri hingga menjadi pemimpin partai  hingga menjadi presiden. Meski tidak menjadi pengurus PDI/PDIP, ia tetap mendoakan anak-anak Soekarno, agar terus melanjutkan perjuangan sang ayah.

Untuk mengenang Bung Karno, dia berharap pemerintah dan rakyat Sumba membangun patung Bung Karno di Waingapu, agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan perjuangan Bung Karno. Dengan adanya patung itu, maka setiap orang, setiap pemuda-pemudi Sumba akan terus mencari tahu siapa Bung Karno. Mereka juga pasti terus mengingat tokoh besar itu dengan seluruh perjalanan hidupnya.   (bungkornell/suaraflores.net)

To Top