Politika

Calon Menteri dari NTT Mengerucut Satu Nama, Siapakah Dia?

Mantan Duta Besar Cili, Dr. Aloysius Lela Madja, yang menjadi salah satu pembicara dalam Forum Aspirasi Indonesia, beberapa pekan lalu, di Puri Denpasar, Jalan gatot Subroto, Jakarta Selatan. (Foto:SFN)

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,– Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, Ir. H. Joko Widodo dan KH. Dr. Maruf Amin Oktober 2019, puluhan nama menteri berseliweran di alam raya media sosial. Ada calon menteri dari kubu Jokowi, ada calon menteri dari kubu Maruf Amin, baik dari kalangan partai, relawan Jokowi, purnawirawan TNI dan Polri, dan ada kalangan profesional. Hingga detik ini kartu-kartu calon menteri masih menjadi teka-teki karena hanya Jokowi-Amin sendirilah yang tahu. Sebuah pertanyaan bagi rakyat, khususnya rakyat NTT, siapakah orang yang akan dipilih Jokowi untuk menjadi menteri di Kabinet Indonesia Kerja Jilid II?

Pertanyaan yang dilecutkan warga memang wajar, karena dalam Pilpres 17 April 2019 lalu, Provinsi NTT sebagaimana Provinsi Bali, Sulawesi Utara, Papua, Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan beberapa provinsi lain, menjadi basis utama kemenangan Jokowi-Amin atas pasangan Probowo-Sandiaga Uno. Hampir 3 juta rakyat pemilih terdata di NTT menjatuhkan pilihannya pada 01 alias Jokowi-Amin. Dari prosentase yang ditargetkan parpol pendukung 80 prosen,  oleh rakyat NTT malah melonjak menjadi 88 prosen. Dengan demikian, wajar jika rakyat NTT meminta jatah menteri kepada Jokowi-Amin. Lalu siapakah orang (tokoh atau politisi) dari NTT yang layak dipilih Jokowi untuk menjadi menteri?

Dalam peta yang diperoleh media dari parpol-parpol pendukung Jokowi-Amin, seperti Partai Golkar, PDIP, Partai NasDem (yang memiliki basis besar di NTT), ada beberapa nama yang mencuat ke media massa yang diprediksi bakal menjadi calon menteri. Dari Partai Golkar, ada pengusaha dan politisi senior nasional anggota DPR-RI, Melchias Markus Mekeng Bapa, dan politisi muda yang saat ini lolos menjadi anggota DPR-RI, Ketua DPD Partai Golkar NTT, Melky Lakalena, juga ada kader Partai Golkar yang saat ini menjadi Wakil Gubernur NTT, Josef Alexander Nae Soi. Lalu dari PDIP sebagai partai pemenang pemilu, ada politisi nasional dan anggota DPR-RI, Andreas Hugo Parera, pengusaha dan anggota DPR-RI 4 periode, Herman Hery, politisi muda yang baru lolos menjadi anggota DPR-RI, Ansy Lema, dan ada mantan Ketua DPD PDIP NTT dan Gubernur NTT dua periode, Frans Lebu Raya. Sementara itu, dari Partai NasDem, ada pengusaha dan anggota DPR-RI, Johnny G. Plate yang juga Sekjend Partai Nasdem dan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat.

Melihat rekam jejak dan track record, baik di dunia usaha dan politik semua nama tersebut layak dipilih Jokowi- Amin untuk menjadi menteri dari kalangan parpol, kecuali Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi karena saat ini menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Meski demikian, dari rekaman dan pantauan media serta dari konfirmasi langsung media ini kepada para politisi tersebut, hingga detik ini semua politisi tersebut tidak atau belum menyatakan kesediaannya menjadi calon menteri dari NTT. Menurut mereka, semua proses tersebut diserahkan ke parpol mereka masing-masing dan menjadi hak prerogatif dari presiden dan wakil presiden terpilih. 

Sebelumnya, pada kemenangan Jokowi-Kalla di Pilpres 2014, dari sekian nama politisi NTT itu, nama Frans Lebu Raya sempat heboh dan mencuat akan menjadi salah satu menteri Kabinet Indonesia Kerja Jilid I. Hanya saja, kala itu, Frans Lebu Raya lebih memilih untuk menuntaskan kerja besarnya membangun NTT hingga akhir masa jabatan. (baca Kompas.com 2014). Apakah saat ini Jokowi masih membutuhkan Frans Lebu Raya atau tidak? Semua masih misteri.

Selain kalangan parpol, dari kalangan non parpol  atau profesional dan pengusaha,  jauh-jauh hari media ini pernah menurunkan berita tentang Kombes Pol. Gories Mere yang saat ini menjadi Kepala Staf Khusus Presiden Bidang Keamanan yang layak menjadi menteri dari NTT. Berita tersebut mendapat simpatik dari nitizen sangat besar dengan jumlah like dan share sebanyak kurang lebih 15 ribu orang. Rupanya sosok pria hebat nan sukses di bidang keamanan nasional, Gories Mere asal Flores itu sangat didukung penuh rakyat NTT untuk menjadi calon menteri di kabinet baru Jokowi. Apalagi di mata Jokowi, Gories bukanlah sosok yang asing.

Pakar Hukum dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Prof. Johanes Tuba Helan, M.Hum, mengatakan, Gories Mere layak menjadi menteri karena memiliki sejumlah kemampuan, (baca Suaraflores.Net). Selain Gories, Tuba Helan yang adalah akademisi NTT pertama yang mengusulkan calon menteri juga mengatakan, nama lain, yaitu Johnny G. Plate. Menurutnya, dua orang tersebut yang berkapasitas dan berkinerja baik serta berprestasi, sehingga layak diusung menjadi calon menteri.

Beberapa saat kemudian, tokoh muda NTT dan pengurus Forum Keluarga Flobamora (FKM) di Jakarta, Drs. Didinong Say kepada media ini menginformasikan bahwa Gories Mere tidak bersedia karena usia dan lebih memilih bekerja secara khusus mendukung Jokowi. Sementara itu, Johnny Plate memilih tidak berkomenter ketika disentil soal calon-calon menteri. “Soal menteri saya tidak berkomentar. Semua kami serahkan kepada Presiden Jokowi,” kata Johnny singkat saat ditemui media ini di sela-sela  acara Festival Budaya Manggarai di Anjungan NTT-Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu, 17 Agustus 2019 lalu. Selain Johnny, acara tersebut juga dihadiri Gories Mere, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan para sesepuh NTT lainnya.

Selain kalangan purnawirawan, dari kalangan relawan Jokowi dan kalangan profesional  NTT, secara mengejutkan memunculkan nama baru, yaitu: Andi Gani Nena Wea, anak kandung Jacob Nuwa Wea, kader senior DPP PDIP yang kemudian menjadi Menteri Tenaga Kerja di era Presiden Megawati Soekanoputri berkuasa. Nama tokoh muda asal Flores-NTT yang telah lama berkiprah dalam dunia usaha nasional dan internasional itu kemudian melejit seketika menghiasi halaman jagad media cetak dan elektronik nasional. Nama Andi Gani terus menjadi materi diskusi rutin para aktivis, jurnalis dan tokoh-tokoh muda NTT di Jakarta, secara khusus mengemuka ke udara saat Forum Aspirasi Indonesia pimpinan Petrus Selestinus, SH, dan kawan-kawannya menggelar sebuah pertemuan dan konferensi pers di Hotel Puri Denpasar, Jln. Gatot Subroto, Jakarta selatan dua pekan lalu. (Baca: Forum Aspirasi Indonesia, Suaraflores.Net).

Disaksikan media, dalam forum yang didominasi tokoh-tokoh akademisi, aktivis, relawan Jokowi asal NTT, politisi muda lintas partai politik, dan para jurnalis muda tersebut, sepertinya tanpa rekayasa kemudian mendaulatkan pengusaha muda nan sukses Andi Gani untuk menjadi calon menteri Jokowi pada Kabinet Indonesia Kerja Jilid II akan datang. Selain dari gencarnya relasi antara Andi dan Jokowi, Andi dinilai layak karena berdiri di semua golongan dan parpol. Sebagai pengusaha muda, Andi telah banyak membangun Indonesia di bidang ekonomi dan bisnis melalui berbagai jabatan pada beberapa perusahaan yang dijabatnya hingga saat ini. Menurut Ketua Forum Aspirasi Indonesia, Petrus Selestinus, SH, dan para nara sumber dalam forum tersebut, posisi Andi sangat netral karena dia mewakili kaum muda rakyat NTT, mewakili dunia usaha, relawan Jokowi, dan bisa berdiri di tengah semua parpol, suku, golongan dan agama karena ia sudah puluhan tahun berkarya di tingkat nasional dan internasional. Selain itu, ia juga memiliki masa pendukung kaum buruh di organisasi besar Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSPSI).

Pasca pertemuan tersebut, nama Andi Gani makin viral di media sosial, setelah diberitakan berbagai media nasional maupun media lokal NTT.  Ribuan netisen memberikan dukungan kepada Andi. Kabar tersiar, sejak terlibat aktif dalam Pilpres 2014 dan 2019 sebagai salah satu penyokong kemenangan Jokowi-Kalla dan Jokowi-Amin, Andi kian dekat dengan sang kepala negara. Meski kartu nama Andi diprediksi sudah ada di saku Jokowi, masih menjadi teka-teki karena gaya bermain Jokowi sulit ditebak.    

Krisis Tokoh, Pentingnya Ada Menteri dari NTT

Dosen Universitas Indonesia (UI), Dr. Prudentius Maring

Dalam Forum Aspirasi Indonesia yang menjadi satu-satunya forum demokrasi sipil yang terbuka berbicara tentang calon menteri, hadir dua orang doktor asal NTT, yaitu mantan Duta Besar Republik Cili, Dr. Aloysius Lela Madja dan Dosen Universitas Indonesia (UI), Dr. Prudentius Maring. Menurut Aloysius yang tampil menjadi pembicara dalam forum tersebut, NTT mengalami krisis kaderisasi kepemimpinan di tingkat nasional. Dia juga menilai, orang NTT masih belum kompak saling mendukung dalam memenangkan perjuangan besar di tingkat pusat, dan belum bersatu dalam membangun Provinsi NTT. “Kita ini belum kompak, masih berjuang sendiri-sendiri. Kalau ada yang sukses itu karena dia berjuang sendiri. Kita tidak seperti kawan-kawan kita dari Sumatera Utara (orang Batak atau Medan)  yang sangat kompak, bersatu, dan bersama-sama memperjuangkan kepentingan mereka. Ini harus menjadi refleksi kita bersama,” kata Doktor Aloysius Lela Madja perihatin.

Dalam sejarah kata dia, dahulu ada tokoh-tokoh nasional dari NTT yang mendapat kepercayaan penuh dari negara menduduki berbagai jabatan, seperti Fransiskus Seda yang beberapa kali menjadi menteri. Selain itu, ada beberapa tokoh bermunculan dan mendapat kepercayaan menjadi menteri, seperti Yacob Nuwa Wea di era Presiden Megawati. Setelah itu, kaderisasi calon-calon pemimpin dari NTT di tingkat nasional terus menurun, belum adalagi tokoh-tokoh yang luar biasa. Oleh karena itu, ia sepakat jika periode ada tokoh-tokoh muda baik dari kalangan politisi dan profesional yang diorbitkan dan direkomendasikan menjadi calon menteri Jokowi. “Sudah saatnya kita dorong dan orbitkan tokoh-tokoh muda dari NTT untuk menjadi calon-calon menteri ke depan. Siapa saja boleh. Asalkan kita harus kompak dan bersatu saling mendukung,”pinta Aloysius, mantan Dubes Cili di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) tersebut.     

Sedangkan Dosen Universitas Indonesia (UI), Dr. Prudentius Maring,  dalam kesempatan dialog, menegaskan bahwa sangat penting dan sangat strategis bagi orang (rakyat) NTT memiliki seorang menteri di Kabinet Indonesia Kerja Jilid II nanti. Mengapa penting? Karena untuk membantu kerja besar Presiden Jokowi membangun Indonesia, secara khusus NTT lima tahun ke depan. Jika tidak ada putra (orang) NTT di Kabinet Indonesia Kerja Jilid II, maka rakyat NTT sudah pasti sangat kecewa karena sudah dua periode memenangkan Jokowi, tetapi satu pun orang NTT tidak menjadi menteri. “Kita perlu punya seorang menteri dari NTT untuk membantu kerja Presiden Jokowi di NTT. Selama ini kita lihat berulang kali Jokowi bolak-balik ke NTT untuk mengurus sendiri program –program kerjanya di NTT. Jika kita punya seorang menteri, maka Jokowi tidak perlu berkali-kali ke NTT, tetapi hanya menugaskan seorang menteri dari NTT untuk membantu mengurusi  program kerja membangun NTT,” kata Doktor Prudentius semangat.

Dikatakannya pula, dengan memiliki seorang menteri dari NTT, maka akan menjadi jembatan aspirasi dan kepentingan rakyat NTT yang masih tertinggal dalam kemiskinan. Oleh karena itu, ia mengaku sepakat dengan para tokoh lainnya bahwa sudah saatnya orang NTT harus menyiapkan kader-kader calon menteri atau pemimpin nasional yang bersih, berkapasitas, berpengalaman, berintegritas moral, dan berkualitas baik.   

Setuju dengan dua doktor kelas nasional dan internasional, Prudentius Maring dan Aloysius Lela Madja, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Yustinus Juang, berbicara barapi-api  menegaskan bahwa dirinya sangat sepakat mendukung penuh kader muda dari NTT untuk menjadi menterinya Jokowi. Salah satunya, kata Justinus adalah Andi Gani. Alumni STFK Ledalero-Flores itu berharap Presiden Jokowi memilih Andi Gani sebagai tokoh muda yang berkapasitas dan berkualitas nasional karena sudah memiliki pengalaman kerja di berbagai bidang.  “Sebagai orang muda, kami mendukung penuh tokoh muda untuk menjadi menteri. Andi Gani adalah representasi dari orang muda, maka sangat layak dan pantas jika dipilih Jokowi menjadi menteri dari NTT,” tegas kader PSI tersebut lantang.

Untuk diketahui, selain Yustinus Juang, ada juga kader-kader politisi muda NTT, seperti Willy Nuwa Wea (anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP), Paskalis da Cunha,SH (Anggot Badan Hukum DPP Partai NasDem), ada kader asal NTT dari Partai Bulan Bintang (PBB), dan lain sebagainya.  Selain bersepakat mendorong nama Andi Gani dan beberapa politisi besar lainnya, mereka juga mendorong agar Presiden Jokowi juga mempertimbangkan pengabdian kerja-kerja putra-putra NTT di berbagai kementerian, lembaga dan BUMN. Mereka berharap, sebagaimana dinamika saat ini, ada jabatan-jabatan strategis di berbagai kementerian, seperti dirjen dan komisaris BUMN yang dapat dipercayakan kepada putra-putra NTT yang  tentunya sesuai kinerja dan golongan jabatan, serta pengalaman kerja. (kornelismoanita/sfn)

To Top