Edukasi

Di Balik Seminar Mini di Gereja Kalvari, Begini 3 Rekomendasi yang Disampaikan Pater Hendrik

Suara Flores

MAUMERE, SUARAFLORES.NET — Sebagai bagian dari rangkaian acara Persidangan Klasis Flores Istimewa IV dan Persidangan Majelis Klasis Flores X tahun 2020, panitia menyelenggarakan seminar atau studi mini dengan menghadirkan tiga Narasumber, yakni Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, Pendeta Dr, Mery Kolimon, dan Pater Hendrikus Maku, SVD.

Bupati dalam presentasinya menyinggung kebijakan pemerintah daerah dalam membangun kerukunan hidup beragama. Sementara itu, Pendeta Mery Kolimon dalam pemaparannya berbicara tentang GMIT dalam perannya sebagai mitra pemerintah menyikapi isu-isu sosial. Sebagai pembicara ketiga, Pater Hendrik membawakan materi dengan judul Ekumene dan Dialog Antargereja dalam Pandangan Katolik.

Sebagai implementasi dari pemaparannya, Pater Hendrik memberikan tiga rekomendasi. Ketiga rekomendasi tersebut, yakni, pertama, untuk para pemimpin agama. Matahari sudah terbit, hari sudah siang, sudah waktunya kita harus bangun dari tidur. Para pelaku dialog antargereja harus sudah move on dari eksklusivisme yang dipicu oleh klaim kebenaran, saling mempersalahkan, saling mengumpat, dan lain-lain. Para pelaku dialog antargereja mesti sepakat untuk mengatakan “tidak!” terhadap indiferentisme, proselitisme, mengidentikkan etnisitas dengan agama, dan khotbah yang berisikan ujaran kebencian. Sebab perilaku yang demikian sesungguhnya mencerminkan kualitas pemahaman dan penghayatan keagamaan yang tak bermutu dan dangkal.

Kedua, pemerintah. Sebagai orang tua dari semua penganut agama, pemerintah mesti bersikap jujur dan adil. Tidak dapat disangkali bahwa isu agama sering kali dijadikan sebagai komoditas politis dalam perhelatan pilkada atau pileg yang tidak sedikit meninggalkan “rasa pedih” tersendiri bagi para pelaku demokrasi, toh semua itu adalah bagian dari suatu permainan. Karena itu, aneka kebijakan yang diambil mesti adil dan merata, tanpa dikotomi kawan atau lawan, kawan dikawal sementara lawan ditampar, sahabat disayang sementara musuh dipukul, dan seterusnya.

Baca juga: PMKRI Laporkan Dugaan Korupsi SPAM Ende ke Kejaksaan

Baca juga: Soal Jual Potensi Sikka, Pemerintah Diminta Fokus Bangun Infrastruktur di Objek Wisata

Ketiga, awam dan para pelaku dialog antargereja. Mesti disadari bahwa dewasa ini, beragama berarti beragama bersama orang yang menganut agama lain. Artinya, (1).   Kita tidak pernah beragama atau menjalankan agama yang kita anut di dalam ruang tertutup, dan dalam kesendirian. Umat beragama yang tekun dalam menjalankan agamanya akan selalu berjumpa dengan yang lain. Yang lain itu tidak harus dari agama atau aliran kepercayaan yang sama, tetapi juga dari agama atau aliran kepercayaan yang lain. (2). Kepenuhan identitas dari umat beragama tidak hanya diukur dari kesalehan hidup yang dilaksanakan di wilayah privat, tetapi juga terbaca dari praksis atau penghayatan keagamaannya di ruang publik.

Dalam perspektif ini, doktrin-doktrin agama dan penghayatannya mesti bisa memperkuat etika publik. Mengapa? Sebab sejatinya, agama-agama itu ada untuk manusia dan bukannya manusia untuk agama. Agama dengan demikian mesti menutrisi kemanusiaan dan bukan sebaliknya. Dari kedua arti ini, agama dapat dimengerti sebagai jembatan perjumpaan dengan yang lain dalam merajut perdamaian.

Secara metaforis, agama bisa dilukiskan seperti sebuah kampung tradisional, di mana rumah-rumah disusun membentuk lingkaran dan karena itu mereka hanya memiliki satu halaman untuk semua. Beragama dengan demikian berarti bertetangga dengan yang lain.

Dari gambaran ini, umat beragama dan/atau para pelaku dialog antargereja mesti memiliki kualitas diri tertentu yang bisa diandalkan dalam menjalin relasi yang sehat dengan yang lain. Umat beragama mesti bisa bertentangga dengan yang lain. Umat beragama mesti siap untuk berjumpa dengan yang lain di depan halaman rumah yang satu dan sama, milik bersama dari semua penganut agama. (sfn02).

To Top