Edukasi

Dikala Bung Karno Tepuk Bahu Si Tukang Kayu dari Iligai

Suara Flores
Laurensius Bura

SUARAFLORES.NET– Kisah sejarah perjalanan Presiden Ir. Soekarno (Bung Karno) tak dapat dipisahkan dengan Pulau Flores. Dokumen sejarah bangsa tertulis rapi tentang jejak kaki Bung Karno di Kota Ende hingga lahirnya Pancasila. Selain dokumen sejarah, banyak pula buku dan cerita lisan para pelaku sejarah. Salah satunya Laurensius Bura, salah satu tukang kayu dari Maumere, Kabupaten Sikka.

Beberapa waktu lalu, media ini menemui Laurensius di kediamannya, Kota Maumere. Pria tua yang sudah memakai tongkat tersebut sontak bangga ketika diwawancara  tentang pengalamannya ketika bertemu Bung Karno di Kota Ende puluhan tahun silam. Pria uzur berusia 84 tahun itu terlihat bersemangat. Wajahnya terlihat cerah dengan mata berbinar dan pikirannya terbang mengingat lagi Bung Karno, si pria tampan, tegak penuh kharisma.

“Wah, Soekarno pemimpin yang hebat. Pidatonya menyala bagai api membakar langit. Ketika berpidato ia sangat semangat tak kenal lelah meski berjam-jam di atas panggung. Satu sampai dua jam ia masih semangat berpidato. Ia sangat dekat dengan rakyat. Ketika kunjungi rakyat, ia pasti menggunakan mobil terbuka,” aku pria berambut putih ini dengan suara lantang.

Dikisahkannya, waktu itu sekitar tahun 1949, ia telah berada di Kota Ende. Pria kelahiran Kampung Puho, Desa Iligai, Kecamatan Lela ini mengikuti kursus tukang kayu di Sekolah Pertukangan St. Yoseph milik Misi Pastoral.  Di sekolah pertukangan itu, ia dikenal sebagai pemain musik yang baik.

Selain mencari pengetahuan tentang tukang kayu, Laurens pun berlatih musik bersama teman-temannya. Grup musik Vanvare milik pastoral menjadi wadah menggali pengetahuan tentang musik. Ia berperan sebagai pemain bas melalui alat musik “bomberdoon” atau terompet bas.

Baca juga: Kongres Pemuda Indonesia dan Lahirnya Lagu Maumere Manise

Selain terkenal suka melawan, kehebatan bermain musik bas dari terompet ini membuat ia terkenal. Bersama teman seangkatan ,mereka dididik oleh Bruder Aloysius Zuits sebagai guru musik Vanvare. Sebagai pemain bas terbaik pria yang akrab disapa Sius ini selalu dilibatkan dalam berbagai acara, seperti pernikahan dan acara pemerintahan melalui Grup Musik Vanvare.

Pada tahun 1951, Soekarno datang di Kota Ende. Bersama rombongan, Soekarno turun di tengah laut Kota Ende. Karena telah populer dan dipimpin rohaniwan Belanda waktu itu, Grup Musik Vanvare tampil dalam penerimaan Sang Proklamator ini.

Soekarno diterima di ujung jembatan pelabuhan Ende. Laurens bersama teman-teman pemain musik berdiri paling depan. Ia melihat langsung Soekarno berjas putih, peci hitam, tinggi dan ganteng. Saat itu, Soekarno dikawal oleh orang-orang berpakaian militer.

“Saya waktu itu senang sekali lihat langsung Bung Karno. Wuih, orangnya memang memiliki aura pemimpin yang hebat. Gaya jalannya saja menunjukan ia pemimpin besar dan merakyat,” kisah pria tua yang duduk memegang tongkat menghadap meja makan di ruang makan rumahnya.

Meski di usia 84 tahun, sopir mobil truk “Kawan Kita” ini tampak tegar. Ia masih terlihat kuat walau berkaki tiga akibat ditabrak motor saat pulang misa di Gereja Sentrum Maumere beberapa tahun lalu. Dalam berbagai pertemuan, pria kelahiran tahun 1931 ini selalu bercerita tengan sejarah dan patut dikutip generasi penerus.

Diceritakannya lagi, ketika bertemu Soekarno, ia berumur 19 tahun. Waktu Soekarno datang, ia berdiri paling depan. Posisi berdiri yang strategis, menjadi kesempatan pertama untuk melihat Soekarno. Selain melihat lebih dekat, ia  dapat mendengar secara jelas kata-kata yang disampaikan.

Lanjut dia, ketika Soekaro menginjakan kaki di jembatan pelabuhan Kota Ende, pemimpin yang disegani dunia ini disambut lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh Grup Musik Vanvare. Sebagai pemain bas, Laurens menunjukan kepiawainnya di hadapan Soekarno. Lewat lagu Indonesia Raya, ia bersama teman-teman disapa Soekarno. Ia ditepuk bahunya oleh tokoh hebat berkelas dunia itu.

Rupanya Putra Sang Fajar terkagum-kagum dengan penampilan Grup Musik Vanvare. Melihat dan mendengar sajian musik Lagu Indonesia Raya tersebut, Bung Karno yang berdiri dekat dengan mereka, meminta grup musik itu sekali lagi menyanyikan lagu tersebut. “Lagi satu kali loh,” kata Laurens mengulangi permintaan Soekarno saat menyapa mereka. Iya, dia menepuk bahu saya lalu mengoyang-goyangkan jari telunjuknya di hadapan kami. Ia menegur kami karena syair terakhir lagu Indonesia Raya harus dinyanyikan 2 kali,” ungkapnya mengenang.

Usai melantukan lagu Indonesia Raya, lanjut Laurens, berbagai lagu barat memeriahkan kehadiran Soekarno yang disaksikan ribuan warga Kota Ende saat itu. Dengan berdiri di atas mobil pick up, Soekarno diarak menuju Lapangan Perse Ende. Di sana Soekarno berpidato. Ribuan warga sorak-sorai menyambut suara menggelegar seperti petir merobek langit.

Diakhir kisahnya, ia berpesan kepada generasi muda penerus bangsa agar tidak melupakan sejarah Soekarno. Saya mengajak kepada generasi penerus untuk selalu tampil di depan. Tampil paling depan akan mengetahui banyak hal secara jelas. Jangan sekali-kali melupakan sejarah Soekarno. Seokarno pemimpin hebat yang tiada tandingannya,”tutup Laurens. (Aloysius Yanlali/Doc.Suara Flores).

To Top