Edukasi

Dugaan Pemerasan Terhadap Pelajar, Ini Jawaban Suster Veronica Meo, SSPS

Suara Flores
Pelajar SMPK yang ujian di terik matahari, Kamis (31/5/2018).

RUTENG, SUARAFLORES.NET – Kepala Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Immaculata Ruteng, Sr. Veronika Meo, SSpS menyampaikan rasa terima kasih atas pemberitaan media terkait masalah yang diungkapkan oleh salah seorang guru Bahasa Indonesia, Thomas Dagung. Suster Veronica belum memberi keterangan secara detail terkait dugaan pemerasan yang dituduhkan stafnya itu.

“Terima kasih banyak telah membuat beritanya. Tuhan sendiri yang akan memberikan keadilan. Salam dan doaku,” demikian jawaban singkatnya ketika awak media berusaha mengkonfirmasinya, baik melalui pesan singkat maupun telepon, Rabu (6/6/2018).

Diberitakan sebelumnya, Kepala Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Immaculata Ruteng, Sr. Veronika Meo, SSpS, oleh seorang guru Bahasa Indonesia, Thomas Didimus Darmin Dagung diduga telah memeras siswa-siswi Kelas III B atau Kelas II SMP.

Bentuk pemerasan tersebut, kata Dagung, dalam bentuk benda berupa seng, dengan masing-masing 1 lembar untuk 27 siswa, sedangkan dua orang siswa lainnya atas  nama Kristian R. A. Wibisono dan Marselinus D. A. Sutrisno didenda dengan masing-masing 3 lembar seng.

Baca juga: Kepsek SMPK Immaculata Ruteng Diduga Memeras Siswa

Baca juga: Suster Provincial SSPS Baru Dengar Ada Kasus di SMPK Immaculata Ruteng 

Denda tersebut, demikian Dagung, bermula dari ulah para siswa di kelas yang membuat keributan. Dagung mengaku bahwa saat itu dirinya tengah mengajar di kelas lain. Dia tidak tahu sama sekali soal keributan di kelas itu.

Entah mengapa, keluh dia, dirinya kemudian melalui surat dari Yayasan Dian Yosefa Ruteng (DYR) bernomor 976/YDY/Up/V/2018 perihal Jawaban Lamaran Perpanjangan Kontrak yang ditandatangani oleh Badan Pengurus Yayasan DYR, Sr. Mektilde T. Nahas, SSpS, tertanggal Ruteng, 31 Mei 2018 memberhentikan dirinya dengan tiga alasan.

Pertama, masa kontrak selesai. Kedua, Daftar Penilaian Pelaksana Pekerja (DP3) menunjukkan bahwa nilai pada aspek kelakuan dan aspek profesi lemah. Ketiga, selama 3 tahun dalam masa kontrak saudara tidak memenuhi kriteria untuk menjadi Pegawai/Guru Tetap Yayasan Dian Yosefa, walaupun telah mendapat pembinaan dari Kepala Sekolah.

Thomas Dagung mengaku tidak menerima begitu saja dikeluarkan oleh Yayasan Dian Yosefa Ruteng. (mk).

To Top