Tamu Kita

Frans Seda Tokoh Tiga Zaman dan Bandara Tertua di Flores

Suara Flores
FRANS SEDA (KEDUA DARI KANAN) DI DAMPINGI ISTRI YOHANA PATTINAYA SEDA (SEBELAH KIRI) BERSAMA ROMBONGAN POSE BERSAMA DI PENSIP WAI OTI DALAM SEBUAH KUNJUNGAN DI MAUMERE MENGGUNAKAN PESAWAT JENIS TWIN OTTHER DHC-6. (doc sf)

SUARAFLORES.NET,–Rakyat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mempunyai seorang tokoh besar yang populer di mata Indonesia bahkan dunia. Banyak karya perjuangan untuk bangsa dan negara telah ia tunjukan dengan kerja keras tanpa pamrih. Menyandang berbagai status jabatan pemerintahan dan non pemerintahan sejak masa Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto dan Presiden Megawati Soekarnoputri membuat ia menjadi tokoh penting dalam lintasan politik dan ekonomi Indonesia.

Drs. Franciscus Xaferius Seda (almarhum), pria kelahiran 4 Oktober 1926 di Kampung Lekebai, Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Ia (adalah) tokoh nasional yang boleh disebut sebagai tokoh tiga zaman melalui karya-karya nyata perjuangan membangun umat dan negara. Karyanya menorehkan sejarah melalui berbagai jabatan dari jaman orde lama, orde baru dan orde reformasi. Ia pun menyabet jabatan sebagai menteri tiga kali, yaitu Menteri Pertanian dan Perkebunan, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan, Ekonomi dan Pariwisata.

Data Profile Bandara Frans Seda mengungkapkan bahwa Frans Seda tidak menjadi menteri saja, tetapi juga sebagai tokoh pendidikan. Sosok Frans Seda terkenal sebagai pendiri Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya. Bermodalkan Rp5.000 (lima ribu rupiah), ia bersama teman-temannya membangun kampus yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa Indonesia.

Di tangan Frans Seda tercetak pembangun negeri melalui bidang pendidikan. Ia adalah pengajar, pendidik yang menggerakan pembangunan bangsa. Ia juga tercatat sebagai Dekan pertama Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (1961-1964). Menjadi Rektor pertama Unika Atma Jaya. Kemudian beliau menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Atma Jaya (1962-1996). Ia juga menjabat Ketua Kehormatan Yayasan Atma Jaya, dan bahkan pada saat Frans Seda meninggal pada akhir tahun 2009, beliau masih tercatat sebagai Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya.

Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai tokoh politik, agama dan budaya yang pernah berkarya dalam bidang usaha melalui jabatan penting dan terpandang pada berbagai perusahaan di Indonesia dan luar negeri. Di bidang politik, ia menjadi Ketua Umum Partai Katolik tahun 1961-1968. Pada tahun 1960-1964, ia menjadi anggota DPR Gotong Royong dan MPRS mewakili kaum Katolik dan anggota Penasihat PDI sejak 1971 ketika menjadi PDIP. Selanjutnya, pada tahun 1997, Frans Seda menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI Perjuangan.

Frans Seda juga pernah menjadi Penasihat Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) dan Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM). Frans Seda mendampingi Sri Paus Paulus VI dalam kunjungan ke Indonesia pada tahun 1970. Selanjutnya, Frans Seda menjadi Ketua Organizing Committee pada kunjungan Sri Paus Johanes Paulus 11 ke Indonesia pada tahun 1989.

Di dunia usaha, beliau menjabat berbagai posisi penting. Ia menjadi Presiden Dewan Komisaris PT. Narisa, PT. Gramedia, PT. Kompas Media Nusantara, anggota Dewan Komisaris PT. Bayer Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan dan Asosiasi Perdagangan Tekstil Indonesia pada tahun 1982-1988. Ketua Asian Federation Of Textil Industries pada tahun 1983-1985. Anggota Dewan Penasihat untuk Asia dari Sears & Roebuck World Trade, Chlcago, Amerika Serikat (1983-1984), Ketua Joint Working Party Indonesia United Kingdom (1981-1985), Presiden Komisaris PT. Sao Wisata Seaside & Diving Resort, Ketua Komite Kerja Sama dalam nota kesepahaman antara Negara Indonesia Bagian Timur dan Australia Utara.

Selain itu, Frans Seda menjadi Ketua Karwell Group (Pabrik Tekstil untuk Ekspor), Presiden Komisaris PT. Bank Shinta Indonesia. Presiden Komisaris PT. Pantara Wisata Jaya (kerja sama dengan Japan Airlines dalam bidang promosi pariwisata). Presiden Komisaris PT. Hindoli (kerja sama antara PT Gowa Manurung Jaya dan Perusahaan Amerika PT. Cargrill dalam perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan). Presiden Komisaris PT. Philips Indonesia dan Presiden Komisaris PT. British American Tobacco. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) serta Ketua Asosiasi Indonesia-Netherland (INA).

Di bidang olahraga, Frans Seda pernah menjabat Ketua Bidang Dana Komite Olahraga Nasional Indonesia (1980-1982), anggota Dewan Harian Nasional Angkatan 1945, anggota Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian.

Masih banyak posisi penting Tokoh Katolik ini dalam perjuangan mengatasi berbagai masalah besar NKRI, seperti keterlibatan dalam masalah Irian Barat. Di mana Frans Seda bersama seorang yang lain ditugaskan untuk membangun diplomasi luar negeri dengan maksud memperkuat kedudukan NKRI pada forum internasional. Tugas mereka untuk mempengaruhi para tokoh masyarakat di Belanda.

Baca juga: Kisah Para Tokoh Tentang Kunjungan Soekarno di Maumere

Tepatnya tahun 1962, melalui posisinya sebagai Ketum DPP Partai Katolik, Frans Seda yang meninggal pada usia 83 tahun ini ‘diselundupkan’ melalui tugas rahasia. Tugas  ini menggunakan anggaran negara untuk menegosiasikan masalah Irian Barat.

Di zaman penjajahan itu, ia terlibat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Selain sebagai anggota Laskar KRIS. Frans Seda ditugaskan Mabes Perjuangan di Jogja untuk ke Flores juga Surabaya. Sebagai Ketua Pemuda Indonesia di Surabaya, dan ia juga merupakan Panitia Pembubaran Negara Jawa Timur.

Untuk diketahui bahwa tahun 2010, Frans Seda pernah diusulkan menjadi pahlawan nasional. Usulan tersebut belum diterima karena proses usulan mungkin tidak dilakukan oleh masyarakat dari Kabupaten Sikka. Usulan tersebut disampaikan oleh pihak propinsi yang dapat diduga belum memiliki data-data yang detail.

Frans Seda Dan Pensip Maumere

Jasa-jasa Frans Seda dalam membangun NKRI tercatat melalui berbagai departemen. Semua dilaksanakan tanpa cacat nama hingga di panggil Tuhan. Namanya tidak terdengar dalam berbagai kasus korupsi dan tidak dijerat terali besi hingga dimakamkan.

Bagi rakyat Kabupaten Sikka, Flores NTT, Frans Seda telah berjasa dalam pembangunan dan pengembangan Penerbangan Sipil (Pensip) Wai Oti. Pensip (bandara,red) ini menjadi pertama atau tertua di Flores yang dibangun untuk kepentingan perang oleh Jepang melalui Kapten Ta Suku Satu yang bekerjasama dengan Raja Don Thomas tahun 1943. Karena itu, setiap kali ke Kota Ende setelah pembuangan, Presiden Ir. Soekarno selalu menginjakan kakinya di Maumere.

Data dan informasi yang dihimpun media ini  dari berbagai sumber, pada masa menjadi Menteri Perhubungan, Komunikasi dan Pariwisata tahun 1968-1973, Frans Seda membuat gebrakan di berbagai daerah. Ia menjadi bagian dari kehadiran kehadiran penerbangan dan pelayaran perintis di Indonesia bagian Timur. Ia juga merintis penggunaan satelit telekomunikasi Palapa. Lebih dari itu, ia membuka kawasan wisata unggulan di Nusa Dua Bali. Ketika itu, Pensip Wai Oti mendapat perhatian khusus oleh sang menteri asal Flores tersebut.

Tidak gampang bagi Frans Seda untuk mendapat kucuran dana dari Pemerintah. Menurut Fransiskus Isa Mia (75), tukang potong rumput di bandara sejak tahun 1961-1996, Frans Seda pernah menyerahkan uang untuk pembangunan bandara. Menurutnya, pembangunan bandara menjadi lebih maju ketika Frans Seda menduduki jabatan Menteri Perhubungan, Ekonomi dan Pariwisata.

“Seingat saya, Frans Seda pernah menyerahkan sejumlah uang untuk pengembangan bandara. Kalau saya tidak salah, Frans Seda membantu pembangunan tower. Pembangunan tower dimaksudkan menjadi alat ukur mendapat kucuran dana dari pemerintah pusat. Sejumlah dana dialokasikan untuk perpanjangan landasan pacu dan pembangunan kantor serta ruang tunggu yang besar dan bagus,” kata Isa Mia ketika di temui Suara Flores di kediaman Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka beberapa waktu lalu.

Suitbertus da Silva (68), salah seorang karyawan yang telah mengabdi selama 37 tahun di bandara juga mempunyai kisah tentang Frans Seda. Mulanya ia bekerja sebagai tenaga honor dan diakhiri dengan jabatan Kepala Operasional Darat. Kepada Suara Flores ia mengungkapkan, Frans Seda adalah tokoh yang banyak berjasa untuk Indonesia Timur dalam bidang perhubungan.

Menurutnya, kepedulian diberikan untuk Indonesia timur tidak melalui jabatan menteri saja. Ketika sudah turun dari jabatan menteri pun ia terus memberi perhatian penuh. Terdapat 11 bandara di Indonesia (termasuk Pensip Wai Oti) dibangun pada masa Frans Seda sebagai Menteri Perhubungan.

“Saya ingat beliau pernah memberikan 250 sak semen melalui PD. Mawarani untuk pembangunan terminal. Entah menggunakan uang pribadi atau tidak. Jelasnya Frans Seda sendiri menyerahkan 250 sak semen dengan syarat bangun terminal. Ketika itu, Kabupaten Sikka dipimpin oleh Almarhum Bupati Laurensius Say,” ungkap mantan tenaga honor sejak tahun 1968 ini.

Melalui perjuangan sang tokoh berkaliber nasional ini, Manajemen Pensip Wai Oti dibawa kepemimpinan Isack Tomahu mendapat kucuran APBN. Anggaran tersebut dialokasikan untuk berbagai proyek di bandara. Setelah bangun terminal, Frans Seda menghendaki pembangunan tower dan Ops Building. Bangunan tersebut sudah roboh pada saat gempa Desember 1992. Setelah itu dibangun gedung pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran.

Saat itu, ada 2 pesawat yang melayani masyarakat yaitu Pesawat Zamrud DC-3. Pesawat ini melayani tiga kali dalam seminggu. Kemudian Merpati jenis Twin Otther DH C-6. Kemudian datanglah sebuah pesawat jenis DH C-7 lalu Bouraq jenis HS 746 masuk bandara Waioti. Setelah Bouraq, masuklah Pelita Air milik Pertamina.

Rupanya belum lengkap bagi Frans Seda sehingga ketika melepaskan jabatan menteri, ia terus berjuang untuk pengaspalan landasan. Waktu itu dikerjakan oleh Nindia Karya (NK).

Pasca Bupati Aleks Idong (Almarhum), Frans Seda minta diperjuangkan perpanjangan landasan. Bupati Aleks Idong memanggil pemilik lahan bertemu di ruang kerjanya. Upaya pendekatan Aleks Idong ini berhasil dan masyarakat bersedia memberikan lahan untuk perpanjangan landasan ± 400 meter arah selatan. Bahwa sebelum diaspal, panjang landasan hanya mencapai 1. 470 meter dengan lebar 30 meter ditambah 30 meter lebar lahan rumput.

Bukan hanya disitu saja, Frans Seda pun berkeinginan agar panjang landasan sampai ke laut. Untuk hal ini, ia pernah berkomunikasi dengan Johannes Baptista Sumarlin sebagai Menteri Keuangan tahun 1988-1993.

“Sebenarnya rencana perpanjangan bandara menuju laut sudah sejak lama. Frans Seda berdiskusi dengan J.B. Sumarlin di halaman ruangan VIP Bandara Wai Oti. Saya mengikuti mereka berdiskusi cukup serius soal ini. Mungkin ada kendala lain sehingga perpanjangan landasan menuju laut belum terealisir hingga saat ini” ungkapnya ketika di temui di Capa Hotel Maumere, belum lama ini. (Aloysius Yanlali/doc.sf).

To Top