Edukasi

Gelar Penataran Keprofesian, Ikatan Arsitek Indonesia ‘Buka Sayap’ di Flotim

Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Propinsi Nusa Tenggara Timur bersama Deputi V Ikatan Arsitektur Indonesia, Don Ara Kian,MT dan Ketua IAI NTT saat menggelar Penataran Kode Etik & Kaidah Tata Laku Profesi di Larantuka.Sabtu (1/2/2020).

LARANTUKA, SUARAFLORES.NET,- Menuju organisasi keprofesian moderen di bidang arsitektur, Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Propinsi Nusa Tenggara Timur bersama Deputi V Ikatan Arsitektur Indonesia  menggelar Penataran Kode Etik & Kaidah Tata Laku Profesi di Larantuka.

Kegiatan yang berlangsung Sabtu, (01/2/2020) di Hotel Asa, Larantuka, menampilkan nara sumber utama Deputi V IAI, Don Ara Kian,ST.MT, Ketua IAI Propinsi NTT, Robertus Raya Wulan,ST.MT dan Sekretaris IAI Propinsi NTT, Sam Pandie,ST.

Disebutkan bahwa, para pesertanya adalah sejumlah arsitek yang selama ini berkarya di Flores Timur, serta dua orang berasal dari Kabupaten Sikka.
Mereka antara lain, Marianus Bua Raya,ST, Laurensius Sili Rotok,ST, Fidelis K.Werang,ST, Antonius BP. Hera,ST, Ramli Kopong Ola, ST, Yoseph Thobias Pareira,ST dari Maumere, A.D.E Riki T.Betan,ST, Rauf Koreng Olla,ST, Agustinus Lima Doro, ST, Tarsisius Taka Suban,ST dan Yohanes Pieter P.Pareira,ST.M.Ars yang datang dari  Maumere.

Don Ara Kian, selaku Deputi V IAI, yang menangani wilayah NTT, NTB dan Bali, dalam sambutannya mewakili Ketua.Umum IAI mengapresiasi atensi para Arsitek di Flotim dan Maumere yang rela hadir dalam forum bergengsi ini.

Pasalnya, sebut Don Ara Kian, salah satu putera terbaik Flotim yang masuk jajaran pengurus pusat IAI ini, masih banyak sarjana Arsitek di NTT, termasuk Flotim dan Sikka yang belum mengikuti program ini sebagai landasan penguatan standar kompetensi dan keprofesian.

Padahal, sebagai seorang sarjana di bidang Arsitek mestinya memenuhi dan memiliki standar kompetensi serta keprofesian yang diakui secara resmi. Ia menyebutkan ada 13 standar kompetensi dan keprofesian yang harus dimiliki jika ingin mendapat pengakuan  sebagai seorang ahli profesional di bidang arsitek.

“Karena itu, secara khusus, kami menyampaikan apresiasi kepada 11 peserta dari Flotim dan Sikka yang bersedia mengikuti Penataran Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Keprofesian ini. Dengan mengikuti kegiatan ini, para peserta sudah bisa mendapatkan pengakuan secara profesional dan layak mendapat Kartu Anggota IAI,”pungkasnya memberi semangat.

Ia berharap, peserta yang sudah hadir, kemudian bisa mengkampanyekannya ke rekan-rekan lainnya agar bisa bergabung kedepan.

Don Ara Kian lebih jauh menjelaskan, NTT punya potensi besar untuk menghasilkan banyak ahli profesional Arsitek setiap tahun karena memiliki 4 Perguruan Tinggi yang punya program studi Arsitek, hanya saja sejauh ini belum semua sarjana Arsitek yang bergabung bersama Ikatan Arsitek Indonesia.

Karena itu, menurutnya, dalam rangka pengembangan kompetensi dan keprofesian, kedepan perlu dibentuk Koordinator Wilayah IAI di NTT, misalnya Korwil Flores Timur, Lembata dan Alor, juga Sikka, Ende, Ngada dan Nagekeo maupun Manggarai Timur hingga Labuan Bajo, serta daratan Timor, Rote, Sabu hingga Sumba untuk menghimpun sarjana-sarjana yang bergelar Arsitek.

Pasalnya, tambah Ara Kian, semakin baik dan bermutu sumber daya Arsitek di sebuah wilayah, maka bisa membuat daerah itu makin bertumbuh baik dan maju pembangunannya.

Khusus untuk Flotim, Don Ara Kian meminta para sarjana Arsitek yang sudah mengikuti penataran kode etik dan kaidah tata laku keprofesian ini, bisa mengajak teman-teman seprofesi yang belum sempat ikut agar kedepannya terlibat bersama-sama dalam IAI guna peningkatan standar kompetensi dan keprofesiannya.

Hal ini sangat penting dalam rangka keterlibatan dan peran sarjana Arsitek di Flotim ke depan senantiasa sesuai kode etik dan kaidah tata laku keprofesian sehingga karya-karya arsitek yang dihasilkan benar-benar berkualitas dan mempunyai daya manfaat ekonomis yang besar bagi masyarakat dan daerah. (SFN/RBT)

To Top