Opini

Gerakan Literasi Membentuk Karakter Anak-anak NTT

Alexander Take Ofong,S.Fil, Anggota DPRD NTT. (Foto:lintastimor.com)

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman ‘terlibat’ dalam membangun gerakan literasi – baik terlibat secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui interaksi dan interelasi dengan sesama kaum pergerakan literasi – sambil membangun mimpi: terbentuknya budaya literasi, yang menggaransi lahirnya generasi berkarakter.

Budaya literasi, khususnya di NTT, memang tidak mudah terbentuk. Butuh konsistensi gerakan dengan menggalang keterlibatan mulltipihak untuk bersama-sama dalam gerakan ini. Secara khsusus, dibutuhkan keterlibatan dengan komitmen kuat dari pemerintah, baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah kabupaten/kota.

Sejauh ini, Pemerintah Provinsi NTT belum mengelaborasi gerakan literasi yang sudah dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2015 lalu dalam Permendikbud 23 Tahun 2015, melalui kebijakan afirmatif khusus. Dari 22 kabuapten/kota di NTT pun – sejauh yang saya ikuti – baru Kabupaten Sumba Timur dan Flores Timur yang sudah mendeklarasikan sebagai ‘Kabupaten Literasi’ dengan kebijakan afirmatif Bupati dan Dinas PKO masing-masing. Dalam waktu dekat, semoga Lembata dan Sumba Barat Daya, Alor, dan yang lain diharapkan segera menyusul.

Organisasi non-pemerintah pun belum banyak terlibat dan peduli. Tercatat di kalangan NGO, Save the Children cukup konsen dengan gerakan ini, melalui spesifikasi tugas mereka. Di luar itu, beberapa organisasi yang terlibat dan terpantau, antara lain Agupena NTT (khususnya Flotim) dan Majalah Pendidikan Cakrawala,  yang gencar dan konsisten melakukan aktivitas gerakan ini melalui bimbingan menulis dan pembagian buku-buku ke sekolah-sekolah.

Aktivitas gerakan berupa pembagian buku-buku ke sekolah-sekolah dan ke desa-desa yang didahului pembangunan perpustakaan desa, juga dilakukan oleh LeViCo – sebuah lembaga yang dikelola oleh Ibu Julie Laiskodat. Mungkin masih banyak lagi yang lain, yang tidak sempat terpantau. Jauh sebelum semua itu, sejak 1986, Taman Daun di Lembata sudah merintisnya. Di luar itu, banyak juga pribadi-pribadi yang peduli dan terlibat dalam gerakan ini dengan cara menyumbang buku-buku.

Dari pengalaman ‘terlibat’ tersebut, diketahui bahwa antusiasme anak-anak kita untuk membaca dan menulis  sebenarnya sangat tinggi, hanya saja terkendala dengan kondisi yang belum membuka akses bagi mereka, sekedar untuk membaca sekalipun. Di satu sisi, mereka punya antusiasme yang tinggi, namun di sisi lain kondisinya tidak memungkinkan antusiasme itu mewujud menjadi tindakan membaca dan menulis. Ada 3 faktor yang mempengaruhi ini, yaitu tempat yang nyaman, waktu luang, dan terutama bahan bacaan berupa buku-buku.

Fakta Rendahnya Budaya Literasi  

Kondisi ini menyebabkan tingkat literasi, minat baca dan menulis, di NTT bahkan di Indonesia sangat rendah.  Beberapa data berikut ini memperkuat fakta ini. Data UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia 0,001; setiap 1000 orang, hanya 1 orang yang membaca. Tingkat melek huruf orang dewasa 65,5 persen. Sementara Malaysia menempati angka 86,5 persen. Dua tahun sebelumnya, 2010,  Programme for International Student Assessment (PISA)  melansir data kondisi literasi dari 65 negara yang disurvey. Indonesia menempati urutan 64; dengan tingkat membaca siswa bertengger di urutan ke-57 dari 65 negara.

Kalau dilihat jauh ke belakang, pada 1996, Taufiq Ismail pernah meneliti perbandingan budaya baca antarnegara. Dia menemukan bahwa rata-rata lususan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, di Rusia 12 buku, di Jepang 15 buku, di Singapura 6 buku, di Malaysia 6 buku, di Brunei 7 buku, sedangkan di Indonesia 0 buku.

Data pendukung lainnya, di Indonesia, rata-rata hanya 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Jumlah tersebut jauh berbeda dengan negara lainnya seperti Jepang dengan 40 ribu judul buku pertahun dan China dengan 140 ribu judul buku pertahun. Data gambalang [yang meski belum ter-update] ini sesungguhnya menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia, termasuk NTT, belum terbiasa dengan budaya literasi. Membaca dan menulis belum mengakar kuat dalam budaya kita. Kita lebih sering menonton atau mendengar dibandingkan membaca apalagi menulis.

Badan Pusat Statistik (BPS, 2006) menunjukkan data yang mengejutkan. Bahwasannya 85,9 persen masyarakat memilih nonton televisi daripada mendengar radio 40,3 persen, dan membaca Koran 23,5 persen. Jumlah waktu nonton pun mencengangkan. Anak Indonesia menghabiskan waktu 300 menit per hari untuk menonton televisi; dibandingkan anak-anak di Australia 150 menit, di Amerika 100 menit, dan  Kanada 60 menit.

Rilis BPS pada 2012 pun tidak jauh berubah, bahkan sungguh mencengangkan.  Sebanyak 91,58 persen penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka nonton televisi. Sedangkan, yang gemar membaca buku, surat kabar dan majalah cuma sekitar 17,58 persen. Tahun 2015, Perpustakaan Nasional dalam rilis hasil kajiannya, menempatkan minat baca masyarakat pada angka 25,1, kategori rencah, [http://regional.kompas.com/read/2016/04/28]

Literasi, Bahasa, dan Karakter

Kendati sudah mengalami perluasan makna, namun secara sederhana dan mendasar, literasi terkait dengan keaksaraan, yaitu kemampuan membaca dan menulis.  Gerakan literasi, karena itu, menyasar pada gerakan untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis bagi anak-anak kita, dengan harapan akan ada proses pembiasaan yang terus menerus, sehingga terbentuk budaya membaca dan menulis. Budaya membaca dan menulis ini akan membentuk pola berbahasa, yang menjadi basis pola berpikir teratur dan terstruktur, yang menggaransi terbentuknya jati diri – sikap dan perilaku – yang berkarakter.

Kita tahu bahwa bahasa diperoleh dari interasksi kita dengan sesama manusia semenjak kita kecil, bahkan secara metafisik, sudah sejak di dalam kandungan ibu. Bertumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu, memungkinkan seorang anak manusia mulai memahami dan menggunakan bahasa; dimulai dengan bahasa Ibu, dan kemudian berkembang menjadi bahasa nasional. Bahasa Indonesia, untuk konteks kita.

Namun, untuk memiliki pola berbahasa yang baik dan benar, maka kemampuan berbahasa itu dikembangkan melalui latihan, mulai dari mengenal huruf, kata, kalimat dan merangkai kalimat menjadi pengertian. Latihan membaca dan menulis, keaksaraan. Setelah itu, dibiasakan dengan membaca dan menulis, secara terus menerus, sehingga kemampuan berbahasanya semakin baik, membentuk pola berbahasa yang bagus. Pola berbahasa inilah menjadi basis berpikir seseorang, membentuk pola berpikir seseorang. Karena setiap manusia berpikir selalu dalam bahasa. Bahasalah yang memungkinkan seseorang mampu berpikir. Semakin bagus kemampuan berbahasanya, semakin bagus kemampuan berpikirnya. Semakin teratur pola berbahasanya, semakin teratur pula pola dan struktur berpikir seseorang.

Filosof Martin Heidegger mengatakan bahwa bahasa adalah ‘rumah sang ada’. Kita memang berada dalam rumah bahasa; hidup oleh dan karena bahasa.  Tanpa bahasa kita tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa berkomunikasi, tidak bisa berpikir dan bekerja untuk menghasilkan sesuatu. Bahasa, sejatinya, berperanan sangat Penting. [sekedar menyitir Kitab Suci, Alkitab, ‘pada mulanya adalah Sabda, logos, bahasa].

Namun, bahasa yang baik dan benar, teratur dan terstruktur dibentuk melalui proses berkanjang, membaca dan menulis secara terus-menerus. Bahasa inilah yang membentuk struktur berpikir, dan secara dialektis menghasilkan kembali bahasa yang semakin baik dan teratur. Ada hubungan dialektis antara bahasa dan berpikir.

Pola bahasa dan pola pikir itu, pada saat bersamaan membentuk pola sikap dan tindakan, perilaku yang baik, yang boleh dikatakan sebagai perilaku yang berkarakter. Sehingga bahasa dan pola berpikir seseorang yang berkarakter menandai sikap dan perilakunya yang berkarakter. Sederhananya, pola berbahasa santun, halus, berkarakter itulah yang menggambarkan sekaligus membentuk pola sikap dan perilaku santun, halus, dan berkarakter pula. Inilah point strategis dari arahan gerakan literasi yang dicanangkan sebagai gerakan pembentuk budi pekerti; jiwa dan semangat gerakan literasi ini saat dicanangkan.

Karena itu, persoalan karakter bangsa – yang hari ini dipertanyakan karena meruaknya berita hoax, ujaran kebencian, dan caci maki, serta hilangnya karakter cinta Tanah Air yang tulus sejalan jiwa dan semangat Pancasila – mengantar kita pada mempersoalkan komitmen kebudayaan kita. Kembali ke akar budaya kita; akar itu mewujud dalam bahasa. Gerakan literasi diharapkan menyasar ke sana, ke inti budaya kita, ke rumah bahasa kita; sebagai sarana membentuk pola pikir, sikap dan perilaku yang berkarakter.

Dalam bingkai inilah, maka dengan bercermin pada rendahnya budaya literasi kita, juga masih kurangnya geliat untuk membangun gerakan literasi yang kuat, komit, dan peduli, maka sudah saatnya, kita sadar. Mari membangun budaya literasi dengan keterlibatan dalam gerakan literasi ini, yang secara sederhana dimulai dari dalam rumah, di  lingkungan tempat tinggal, dan di lingkungan sekolah. Gerakan literasi sekolah mulai digalakkan di setiap sekolah; yang diikuti dengan gerakan di lingkungan tempat tinggal, di desa-desa dan kampung-kampung.

Kebijakan afirmatif dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota diharapkan segera. Keikhlasan menyumbang buku-buku dibutuhkan. Mari membangun gerakan Literasi ini sebagai basis yang menggaransi lahirnya generasi kita yang berkarakter. Membangun bangsa, bisa juga lewat gerakan Literasi ini.

*Penulis: Anggota DPRD NTT, Sekretaris DPW Partai NasDem NTT, tinggal di Kota Kupang. (Sumber Nasdemntt.wordpress.com)

To Top