Budpar

Harga Tiket ke TNK akan Naik, Ini Komentar Pelaku Pariwisata Flores

Suara Flores
Binatang Komodo di Pulau Komodo (Foto: Medicalnewstoday.com)

MAUMERE, SUARAFLORES.NET – Keindahan dan keunikan alam Taman Nasional Komodo (TNK) yang kini dikelola oleh pemerintah pusat dan didukung Lembaga UNESCO merupakan berkat yang turun dari langit oleh kuasa Sang Pencipta. Keunikan pulau ini tengah menarik banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara mengunjungi Pulau Komodo. Tidak hanya untuk menikmati keindahan, tapi mereka mempelajar geologi, sejarah purba kala, filologi dan sejarah yang terkandung di wilayah itu.

Untuk bisa akses ke Pulau Komodo, selama ini pemerintah mematok harga tiket sebesar 150 ribu rupiah hingga 200 ratus ribu rupiah. Harga tiket tersebut berlaku bagi semua kalangan, termasuk wisatawan mancanegara.

Belakangan ini tersiar kabar diberbagai media bahwa Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat berencana menaikkan harga tiket masuk ke Taman Nasiona Komodo (TNK) itu menjadi 7 juta setiap kali masuk.

Terkait rencana itu, Kepala Dinas Pariwisata NTT, Marius Jelamu menjelaskan, pada dasarnya rencana Gubernur menaikan harga tiket itu sangat masuk jika dilihat dari peran hewan biawak Komodo terhadap dunia ilmu pengetahuan.

“Komodo memberikan gambaran kepada kita tentang sejarah dan proses geologi, antropologi, filologi, sejarah hewan dan perkembangan selama ribuan tahun. Karena itu, tiket masuk harus tinggi,” kata Marius seperti dilansir tribunenews.com, Kamis (29/11/2018).

Baca juga: Laiskodat: Kalau ke depan NTT masih miskin, kita semua ini tolol

Baca juga: George Bush, Presiden AS ke-41 Dikabarkan Meninggal Dunia

Menurut Marius, melihat keunikan Pulau Komodo, para ilmuwan dari berbagai negara berkunjung dan mengembangkan ilmu pengetahuannya.

“Melalui komodo, kita bisa tahu kehidupan ribuan tahun lalu, sejarah purba, flora fauna dan perkembangannya. Binatang ini mendorong para ilmuwan memperdalam ilmunya tentang geologi, sejarah purba kala, filologi, sejarah hewan-hewan lainnya. Harga tiket itu wajar bagi orang asing, karena ada begitu banyak keindahan lain yang bertebaran di sekitar taman Internasional Komodo, yang bisa mereka nikmati. Artinya, rencana ini memberi makna kepada orang asing bahwa sesuatu yang indah dan berkualitas, harus didapat dengan pengorbanan,” ujarnya.

Merespon rencana tersebut, para pelaku pariwisata di Pulau Flores menilai Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat terlalu berlebihan jika wacana itu direalisasikan. Bahwa, harga tiket ke Pulau Komodo yang selama ini sebesar 150 ribu rupiah, ke depan akan naik menjadi 7 juta rupiah setiap kali masuk merupakan tindakkan mengkomersialisasikan Komodo.

“Sangat mahal sekali. Bagi saya, ini bentuk komersialisasikan Komodo yang berlebihan. Sesungguhnya, Komodo terkenal bukan karena uang,” tegas Heribertus Ajo kepada SuaraFlores.Net, Minggu (02/12/2018).

Heribertus Ajo berpendapat bahwa yang harus dilakukan untuk menata Taman Nasional Komodo, bukan sekedar menaikan harga tiket masuk, tapi cara mengelola yang patuh dan taat pada desain konservasi tanpa harus memberatkan pengunjung secara berlebihan. Lagi pula, kata dia, Komodo itu merupakan berkat dari Langit, dari Yang Maha Pencipta untuk hidup berdampingan dengan penghuni alam lainya dimuka bumi ini.

“Kenapa pengunjungnya harus dibuat susah? Apalagi di dukung oleh Lembaga UNESCO sejak tahun 1991 yang menetapkan Komodo ini sebagai warisan dunia (world Heritage). Jadi, Komodo  bukan milik NTT saja. Oleh karena itu, perlu kearifan berinteraksi dalam mengatur bukan menyulitkan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa uang memang diperlukan dalam melakukan konservasi tapi bukan dengan cara komersialisasi yang berlebihan. Sebenarnya tanpa disadari, rencana tersebut secara tidak langsung, pemerintah telah menjadikan Komodo sebagai komoditi untuk mendapatkan uang (kejar uang). “Pemerintah hanya cari akal supaya dapat uang banyak. Bikin macam – macam aturan demi uang. Sampai kita sendiri lupa bahwa Komodo sendiri bisa eksis itu tanpa uang tapi karena seleksi alam. Jadi bukan soal uang saja untuk menghayati dan mengatur konservsi tapi soal cara atau metode adalah juga bagian dari konsern kita. Saya merasa saat ini campur tangan manusia dalam hal uang sudah terlalu berlebihan. Untuk itu, kita harus merasa malu pada binatang Komodo atas sikap manusia yang ambil keuntungan oleh keberadaannya,” tegas Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Sikka itu.

Baca juga: Gubernur NTT: Seseorang jadi pemimpin tidak untuk dihina

Baca juga: Terbongkar,  Ada Mafia di Balik Proses Seleksi Calon Komisioner KPU NTT

Dikatakan Hary AJo, maksud baik dari Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dalam hal konservsi Komodo itu supaya di aplikasikan dengan cara yang baik pula. Melalui SuaraFlores.Net, Heribertus memberikan masukkan kepada Gubernur NTT terkait recana besar menaikkan harga tiket ke Taman Nasional Komodo.

Pertama, Gubernur NTT tidak perlu secara berlebihan membuat tarif baru sampai US$.500. Karena itu, pemerintah daerah NTT harus mengajak badan PBB UNESCO, untuk lebih memberikan perhatian, baik teknis maupun financial agar dapat membantu menjalankan misi konservasi komodo. Kalau mau ditutup sementara silahkan dengan notifikasi yang jelas bagi publik.

Kedua, setuju dengan keinginan Gubernur NTT, yang akan bicara dengan pemerintah pusat dalam hal mengatur lokus Komodo, bukan hanya soal pembagian prosentasi entarance fee saja tapi mendapatkan sebagian wewenang mengatur tata ruangnya untuk mencegah atau mengontrol bersama berbagai ijin investasi di kawasan komodo.

Ketiga, Pemerintah harus mengatur rambu – rambu yang harus di taati publik, manakala berkunjung ke komodo. Bukan mencegahnya dengan tarif yang mahal, tapi memberinya dengan edukasi yang benar cara mengunjungi komodo.

Keempat, pemerintah harus mengatur tempat tambat kapal dan perahu di perairan komodo supaya tidak buang jangkar dan merusak karang serta biota laut lainya.Disiplinkan perburuan liar. Kembangkan tenaga – tenaga profesional dedikatif bagi seluruh personil di Komodo. Rasionalisasikan tarif yang wajar untuk tidak menjadi eksklusif tapi proporsional.

“Poin poin ini adalah soal mengatur yang bisa di kembangkan lebih banyak lagi dalam kaitan dengan soal rambu rambu itu. Mari kita kelola semua potensi yang berupa pemberian dari Tuhan secara cuma – cuma ini untuk menduniakan Flores dan NTT dengan penuh kearifan, kewajaran dan penuh persahabatan sebagai bagian dari dunia seutuhnya. Hindarkan rasa over ego tapi kembangkan positive ego (harga diri yang menggambarkan jati diri tanpa harus menjadi superior). Dengan demikian, saya harapkan kemajuan industri pariwisata dapat berkembang secara berkualitas,” tandasnya. (sfn02).

To Top