Kabar Alam

Jadikan Kota Kupang Segar, Sejuk dan Asri, Walikota Jefri Kore Canangkan ‘Gerakan Kupang Hijau’

Walikota Kupang, Jeffry Riwu Kore, saat melaunching Gerakan Kupang Hijau (GKH) belum lama ini. (Foto:bonny)

KUPANG, SUARAFLORES.NET,–Provinsi NTT adalah provinsi yang bersuhu udara sangat panas dan memiliki musim panas terpanjang selama 9 bulan. Curah hujan rendah dengan durasi kurang lebih hanya 3 sampai 4 bulan. Sebagai provinsi yang sedikit memiliki kawasan hutan perkotaan, gerakan tanam pohon masih harus terus dilakukan pemerintah dan warga demi menjadikan kawasan kota hijau, segar, sejuk dan asri. Salah satu kawasan kota yang harus gencar dilakukan penanaman pohon adalah Kota Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT yang kini dimotori, Walikota Dr. Jefri Riwu Kore, MM.

Mengingat betapa pentingnya pohon sebagai jantung dan paru-paru kehidupan warga, Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore, tak mau tinggl diam. Walikota yang telah berpengalaman hidup di berbagai kota besar, merasa pohon adalah bagian integral dari manusia, dan oleh karena itu ia bergerak mencanangkan GKH alias Gerakan Kupang Hijau dengan melakukan penanaman 3.000 pohon di beberapa wilayah Kota Kupang yang terkenal masih tandus alias belum terlihat hijau.

Memulai gerakan tanam pohon, pekan lalu, sebagaiman dikutip dari laman Fajartimor.com, Walkota Jefri Kore secara resmi melaunching Gerakan Kupang Hijau (GKH) di Arena Car Free Day, Sabtu (16/11/2019). Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang telah menyiapkan 3.000 anakan pohon yang sudah ditanam agar ke depan Kota Kupang sejuk, segar, asri dan nyaman.

“Gerakan Kupang Hijau ini merupakan bagian dari gerakan bersama untuk menjadikan Kota Kupang sejuk dan nyaman bagi setiap warga Kota Kupang. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi spirit baru yang pada gilirannya mampu menggerakan semua lapisan masyarakat, tokoh agama, organisasi, LSM, badan usaha juga semua ASN agar sadar menanam pohon untuk kesejukan dan kenyamanan bersama,” tegas pengusaha NTT yang sukses membangun bisnis di Kota Jakarta dan melaju ke Kota Kupang menjadi walikota.

Menurut mantan anggota DPR RI dua periode ini, semua masyarakat akan dilibatkan dalam mensukseskan gerakan ini. Ia berharap peran tokoh agama dalam gerakan ini, karena tokoh agama menjadi sosok penggerak yang bisa mengajak umat dan jemaat untuk bergerak bersama-sama menanam pohon.

Lebih lanjut Jefri Kore, menegaskan, Pemerintah Kota Kupang telah menyiapkan 3.000 pohon untuk ditanam pada musim hujan di tahun 2019. Pohon yang ditanam berdiameter 3-4 meter. Pohon tersebut adalah Trambesi, Ketapang Kencana, Bougenvil, Flamboyan dan Kelor.

“Pohon tersebut tidak hanya dibiarkan usai ditanam, akan kita rawat. Dan ada cara untuk merawatnya. Kami telah mempelajari langkah-langkahnya” ujar Wali Kota sembari menegaskan bahwa ia menargetkan untuk menanam 5.000 pohon. Dirinya mengaku akan menganggarkannya melalui APBD, dengan harapan besar mendapat dukungan dari DPRD Kota Kupang.

Walikota Jefri Kore juga menjelaskan bahwa aksi nyata yang akan dilakukan, yakni pertama, gerakan satu keluarga/ kantor/ badan usaha untuk menanam dan merawat satu pohon. Kedua, gerakan tanam air melalui pembuatan lubang biopori dan sumur resapan di ligkungan masing-masing. Dan ketiga adalah gerakan kurangi sampah plastik.

“Mengenai aksi tanam pohon, Pemerintah Kota Kupang telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, badan usaha, perguruan tinggi, bank, koperasi, perusahaan swasta, toko dan lain-lain untuk berpartisipasi dalam gerakan ini. Caranya menanam satu pohon (bukan anakan) dengan tinggi 1-1,5 meter dengan diameter 10-15 cm (pohon sedang) atau pohon dengan tinggi 3,5 meter dengan diameter 35 cm (pohon besar) dengan jenis pohon yang adaptif terhadap cuaca/iklim di Kota Kupang. Sementara pada jajaran OPD, perusahaan daerah, kecamatan, kelurahan, puskesmas wajib memelihara dua pohon. Khusus sekolah-sekolah menanam anakan pohon untuk mengedukasi siswa tentang pelestarian lingkungan,” paparnya.

Dikatakan Jefri Kore, untuk gerakan tanam air juga tertuang dalam imbauan dan instruksi wali kota. Metode ini merupakan perwujudan upaya konservasi air untuk pemenuhan air jangka panjang sekaligus pencegahan genangan air yang biasanya terjadi di lingkungan perkotaan sebagai akibat dari pembangunan.(*)

To Top