Sorotan Redaksi

“Jurus Kung Fu” Laiskodat Revolusi Birokrat Diapresiasi

Viktor Laiskodat-Josep Nae Soi dalam masa kampanye Pilgub NTT 2018. (**)

Gubernur Provinsi NTT, Viktor Laiskodat adalah gubernur unik dan fenomenal dalam lintasan sejarah NTT. Pasca dilantik dua bulan silam, Laiskodat langsung melakukan gebrakan spektakuler dengan meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan kerjanya, seperti kebersihan dan masuk keluar kantor tepat waktu. Selain itu, Laiskodat yang terkenal dengan gaya fighter, tidak sungkan melabrak birokratnya dengan suara keras tanpa basa-basi terkait kinerja aparatnya yang lamban. Gayanya yang unik nyaris menyaingi Donald Trum, sang Presiden Amerika Serikat yang fenomenal dan kontroversial. Ia jauh berbeda dengan gubernur-gubernur sebelumnya yang banyak neko-neko dan baperan (bawa perasaan) karena hutang budi saat pilkada.

Dengan jurus-jurus kung funya yang gesit dan cepat, para birokrat tidak berkutik di hadapan sang gubernur yang menang perang dalam pilgub 2018 lalu ini. Tercatat media, ada beberapa aksi gerak cepat menciptakan birokrat yang patuh, disiplin dan profesional berkinerja tinggi, di antaranya yang kini sedang ramai di media sosial dan di tengah masyarakat, yaitu pemberhentian Kepala Dinas Nakertrans, Bruno Kupok dari jabatannya karena diduga melanggar perintah gubernur untuk tidak mengeluarkan ijin bagi TKI ke luar negeri karena korban sudah berjatuhan. Jurus kung fu bak pendekar kung fu Bruce Lee ini membuat Bruno Kupok tidak berkutik.

Jurus maut ‘melumpuhkan’ pejabat yang dianggap melawan pempimpin ini memang tak lazim, namun aksi reaksi cepat ini bagi Laiskodat baik, karena ia membutuhkan birokrat yang patuh pada perintah atasan. Banyak pihak mengeritik dan mengecam Laiskodat karena dinilai melanggar hukum dan etika birokrasi, namun tak sedikit pula yang mendukungnya karena masalah TKI hingga kini tak bisa diselesaikan. Rupanya, karena bertekat bekerja cepat dan sukses ia tak mau ada ‘duri di dalam daging,’ ia langsung ‘ketuk palu.’  Selain itu, ia ingin menepati janji kampanyenya mereformasi birokrasi agar program dan kebijakannya tidak tersandung di kaki birokrat yang suka slading  menghambat laju bola perubahan cepat.

Gerakan bersih-bersih juga dilakukan melalui statmen-statmen keras di media belum lama ini, di mana ia mengundang komisi pemberantasan korupsi( KPK) untuk datang ke NTT memeriksa oknum-oknum birokrat yang diduga terlibat korupsi. Laiskodat tidak bermaksud meneror para pejabat, tetapi diduga ia sudah mengantongi data dan informasi yang akurat bahwa di lingkungannya ada banyak pejabat yang diduga melakukan tindakan korupsi. Hal ini sah-sah saja karena ia sejak awal berkomitmen kuat membangun birokrat bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) untuk membawa NTT lepas landas dari kemiskinan berantai dari masa ke masa. Ini patut didukung oleh siapapun.

Dari bidikan dan rekaman media, pasca Laiskodat melakukan jurus kung fu revolusi birokrat, begitu banyak pejabat (kadis dan staf) ketar-ketir, takut dan penuh rasa was-was dalam bekerja. Mereka yang selama ini mapan dengan kepemimpinan Gubernur, Frans Lebu Raya yang low profile, kini tidak bisa bergerak leluasa lagi. Mereka tidak bisa sesuka hati lagi masuk keluar kantor di jam kerja, apalagi merekayasa perjalanan dinas sesuai selera otak dan keinginan hati. Semua kini perlahan membisu tunduk pada Laiskodat. Meksipun ‘di belakang meja’ mereka kasak-kusuk, namun di hadapan Laiskodat mereka ‘mati kutu’ tak berkutik. Itulah kelebihan laiskodat.

Senjata Makan Tuan   

Jurus kung fu Laiskodat  kini sedang terus berlanjut dan bahkan diprediksi terus dilakukan hingga puncaknya pada mutasi pejabat tahun depan nanti. Selain di birokrat, kini telah bocor ke publik bahwa pimpinan BUMD-BUMD akan dilakukan ‘aksi bersih-bersih.’ Satu yang telah dilakukan adalah pergantian pimpinan dan komisaris PD. Flobamora, di mana dirut dan komisaris lama telah diganti dengan orang-orang berwajah baru, yang mungkin saja lebih memiliki prestasi, pengalaman dan kinerja yang jauh lebih energik dan cerdas.

Meski jurus cepat kilatnya menuai pujian sebagian warga, di sisi lain, sebagian kalangan akademisi dan pengamat hukum mulai melecutkan nada kritisnya. Menurut mereka, gerak cepat Laiskodat dalam membangun birokrasi yang bersih dan berkualitas memenuhi janji kampanyenya, memang patut diberi apresiasi, namun ia tidak boleh menabrak aturan dengan mengabaikan etika birokrasi. Jika ia terus melakukan aksi-aksi keras yang kontroversial, maka akan membuat hubungan bawahan dan atasan menjadi tidak harmonis atau menjadi lebih renggang.

Ketika birokrat bekerja dalam tekanan rasa takut , maka sudah pasti program-program gubernur tidak dapat berjalan maksimal. Dan bisa dipastikan 4 tahun ia tidak  berhasil menjalankan  seluruh program kampanyenya, seperti membangun pariwisata, mengirim puluhan ribu orang keluar negeri setiap tahun, membangun pabrik garam, pabrik ikan, infrastruktur, air bersih langsung minum, dan masih banyak yang lainnya.

Menurut mereka, situasi ketegangan relasi antara gubernur dan kadis-kadis serta pegawai-pegawainya sudah pasti akan menciptakan jurang yang dalam.  Oleh karena itu, publik berharap, Laiskodat tetap tegas dan keras dengan gayanya, namun harus mampu merangkul dan berkomunikasi baik dengan birokrat-birokratnya dan berjalan di atas aturan hukum, seperti Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama ketika masih menjadi gubernur. Dimana, Ahok memecat atau memberhentikan pegawainya yang berkinerja buruk, tetapi melalui mekanisme yang tepat dan benar. Sehingga tidak memberi kesan ke publik bahwa gubernur sedang melakukan ‘aksi balas dendam politik’ dengan menggusur semua birokrat yang tidak mendukungnya dalam pilkada.

Selain itu, dalam diskusi-diskusi di lingkaran birokat  dan di tengah masyarakat, terekam telinga media letupan-letupan kepermukaan adanya intervensi oknum-oknum di dalam birokrasi mulai terasa. Mereka mulai bergerilya untuk mencari figur-figur yang tepat menduduki jabatan-jabatan kadis (tentu sesuai keinginan mereka). Gerakan ini, kini tidak menjadi rahasia umum lagi karena memang lazim peran keluarga tidak bisa dipisahkan dengan seorang pemimpin. Namun, jika terlalu menonjol, maka bisa berdampak buruk bagi sang gubernur karena menempatkan kadis-kadis tidak seseuai mekanisme yang benar, apalagi jauh dari kualitas dan profesionalisme.

Meskipun Laiskodat memiliki jurus kung fu yang tak mampu dikalahkan, namun  ia harus ‘ tegas dalam tindakan, santun dalam cara,’ seperti apa yang disampaikan oleh Josep Nae Soi (Wagub NTT) dalam kampanye pilgub NTT beberapa waktu lalu. ‘Keras bukan berati harus pukul dan marah bukan berarti dendam,’ harus menjadi tongkat komando dalam kerja keras dan kerja besar membangun NTT. Ia harus meniru gaya Presiden Ir. Joko Widodo yang berhasil membangun birokrasinya dan sukses menjalankan program-programnya dengan tegas, tetapi tetap mengedepankan etika dan rambu-rambu hukum. Mengingat birokrasi pemerintah berbeda dengan karyawan perusahan pribadi, maka kebijakan cerdas diperlukan dalam melakukan terobosan-terobosan briliant. Pasalnya, kerja keras dan kerja besar membangun NTT ujung tombaknya ada di tangan birokrat, maka perangkat-perangkat hukumlah menjadi landasan pijak dalam membuat keputusan-keputusan penting.

Sebelumnya, dalam catatan media ini, di musim kampanye Paket Viktor Laiskodat-Josep Nae Soi (Viktory-Joss), yang diusung Partai Golkar, NasDem, Hanura dan PPP, merasa sedih dan perihatin dengan banyaknya aparat birokrasi yang terlibat korupsi.  Mereka pun memastikan tidak akan melakukan korupsi bila mereka terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur akan datang. Mereka pun berjanji sekuat tenaga dengan jurus-jurus jitu untuk menyelamatkan rakyat NTT dari jeratan tali korupsi dengan cara membangun birokrasi yang bersih. Hal ini patut diapreasiasi.

Tentunya, birokrat bersih tidak hanya tampilan luar tapi juga prestasi dan kinerja yang telah ditunjukan selama ini. Tentunya, birokrat yang bersih dan berkinerja baik akan sukses menjalankan program mereka. Oleh karena itu, menurut keduanya, setiap birokrat yang berprestasi akan diberikan reward agar memacu kerja lebih baik lagi. Mereka (birokrat) perlu diberikan penghargaan khusus, karena ujung tombak pelayanan pemerintahan adalah para birokrat.

Di sisi lain, pepataah  diujung rotan ada emas, bisa jadi sedang dipraktekan Laiskodat. Diduga apa yang ia lakukan saat ini adalah bagian dari shok terapi dalam membangun birokrasi dengan cara dan gayanya. Oleh karena itu, para birokrat juga tidak perlu merasa takut dan cemas karena ia memastikan akan memberikan penghargaan bagi setiap PNS atau pejabat yang dinilai berprestasi.  Semoga gebrakan-gebrakan briliant Laiskodat terus dilakukan dengan jurus-jurus kung fu nya yang unik dalam membangun NTT. (By redaktur suaraflores.net: korneliusmoanita)

To Top