Tamu Kita

Kisah Para Tokoh tentang Kunjungan Soekarno di Maumere

Suara Flores
Presiden Soekarno saat berkunjung ke Flores

“Apa, kasihanilah akan kami? Kita ini pejuang. Kita ini bangsa pejuang. Kita tidak perlu minta dikasihani. Orang Indonesia orang yang kuat tak boleh minta dikasihani. Jangan meminta atau membuka tangan saja bagai pengemis. Kita harus menjadi bangsa pekerja keras karena kita kuat”

Ketika itu Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores terasa masih sangat sepih. Pepohonan hijau menjulang tinggi menyelimuti rumah-rumah penduduk yang bisa dhitung dengan jari. Kabupaten Sikka masih berbentuk kerajaan yang dipimpin Raja Don P.X Centis da Silva.

Raja Don Thomas Ximenes Da Silva (kakak kandung Don P.X Centis da Silva) sedang memimpin Daerah Flores (1959-1951). Karena keunikan atau keunggulannya, Raja Thomas disebut menjadi teman dekat Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Karenanya, sebelum meninggal dunia di Hotel Flores Kota Ende 1954, Raja Thomas berjabat tangan dengan Soekarno. Kehadiran Soekarno di Maumere dapat juga dipastikan sebagai misi politik dan juga karena kedekatannya dengan Raja Thomas yang waktu itu menjadi Kepala Daerah Flores yang pertama.

Menelusuri cerita sejarah Soekarno di Maumere, Suaraflores.net menemui sejumlah  tokoh di Kabupaten Sikka, Flores. Dari tokoh politik, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh budaya dan tokoh pendidikan.

Mereka membagi cerita sejarah yang masih tersimpan dalam memori yang berangsur tua. Pada usia sekitar 75 tahun sampai 80 an itu, mereka membagi sisah cerita sejarah kunjungan Soekarno.

Direkam Suaraflores.net, kunjungan Soekarno pada tahun 1950, para tokoh ini berada di bangku Sekolah Rakyat (SR) dan SD, hadir dan menyaksikan kunjungan Sang Proklamator di Sikka.

Para tokoh tersebut adalah H. Abdul Rasyid Wahab (80), E. P. da Gomez (77), Drs. Paulus Moa (75) dan Oscar Mandalangi (79) dan Hilarius Moa (82). Mereka  membongkar memori sejarah kunjungan Soekarno di nyiur melambai, nusa nipa.

Menurut Tokoh Agama, H. Abdul Rasyid Wahab bahwa kala itu, bangsa Indonesia baru saja merdeka secara menyeluruh. Belanda baru saja menyerahkan kedaulatan ke tangan Indonesia di Den Haag dan Jakarta pada tahun 1949. Negara Indonesia Timur (NIT) termasuk Kabupaten Sikka, dan beberapa daerah lain, benar-benar merasakan kemerdekaan dari penjajah Belanda, Jepang dan Sekutu.

Ketika itu, tanggal 01 November 1950. Presiden pertama Indonesia, Soekarno berangkat dari Jakarta ke Kota Maumere. Kurang lebih pukul 09:00 wita hari itu, pesawat yang ditumpangi Soekarno mendarat di Lapangan Udara Wai Oti.

Soekarno disambut hangat dengan tarian Hegon (g) dan nyanyian lagu Maumere Manise. Sang Proklamator  dikawal ketat Pemuda Islam setelah mendarat dengan pesawat di Bandara Wai Oti (sekarang Bandara Frans Seda).

Kabar kunjungan Soekarno telah diketahui masyarakat. Ribuan pasang mata menyerbu Kota Maumere. Lapangan Bandar Udara Wai Oti ramai dipadati warga. Sepanjang jalan, dari lapangan udara hingga kediaman raja dipagari manusia yang berdiri memegang Bendera Merah Putih. Indonesia terasa benar-benar merdeka setelah 5 tahun diproklamirkan.

Baca juga: Dikala Bung Karno Tepuk Bahu Bahu Si Tukang Kayu dari Iligai

Rasyid bersama teman-teman dan masyarakat menyaksikan Soekarno di lokasi yang kini dibangun SMP Baktiarsa. Pria gagah perkasa itu duduk dalam mobil kaca terbuka.

Mesin mobil tiba-tiba mati. Luapan massa di lokasi yang kini terdapat bangunan Kantor Pengadilan Maumere seakan menghalanginya. Mobil yang ditumpangi Soekarno didorong oleh massa menuju instana raja.

Istana raja waktu itu termegah di Flores, namun diluluh lantakkan oleh sekutu sekitar tahun 1943. Wilayah itu dibom sekutu, karena pasukan Jepang hendak menguasai Negara Indonesia Timur (NIT). Karenanya, kehadiran Soekarno diterima di panggung yang darurat.

Ketua Majelis Ulama (MUI) Sikka itu, mengisahkan bahwa sejak pagi ribuan pasang telingah telah menanti untuk mendengar suara sang proklamator. Soekarno berpidato dengan semangat tinggi dan tegas. Isi pidatonya menghipnotis masyarakat Kabupaten Sikka.

Ribuan pasang mata bagai ditelan “musibah el nino menyambut kematian.” Diam dan hening, sesekali bersorak-sorai. Mereka enggan pulang. Seakan “diracuni semangat” sang pemimpin yang berjuang memerdekakan rakyat dari belenggu penjajah.

“Apa, kasihanilah akan kami? Kita ini pejuang. Kita ini bangsa pejuang. Kita tidak perlu minta dikasihani. Orang Indonesia orang yang kuat tak boleh minta dikasihani. Jangan meminta atau membuka tangan saja bagai pengemis. Kita harus menjadi bangsa pekerja keras karena kita kuat,” cerita pria berambut uban itu, mengutip Soekarno yang mengritik tulisan yang dipampang panitia pada pintu masuk istana.

Baca juga: Pria Ini Bermimpi Bung Karno Teteskan Air Mata di Rumah Tua

Kepada para pemuda Sikka, Sang Pejuang NKRI mengajak pemuda untuk membangun semangat dan solidaritas bangsa. Semangat persatuan dan kesatuan. Membina kerukunan antar umat beragama dan tetap bersatu dalam segala kondisi.

Bagi Soekarno, sebuah bangsa yang maju harus memiliki pemuda yang kuat, hebat dan penuh semangat.

“Kasihlah saya 10 pemuda militan, saya akan pindahkan Danau Kelimutu ke Pulau Jawa,” kisah Rasyid, saat ditemui media ini di ruang tamu kediamannya beberapa waktu silam, mengutip Soekarno.

Rasyd menyebut Soekarno orator dunia sama persis Fidel Castro. Semangat pidatonya mengundang simpati massa yang datang dari seluruh pelosok. Orang yang mendengar pidatonya tak akan bosan. Soekarno mengajak rakyat tidak melupakan sejarah. Bersambung…(Aloysius Yanlali/doc.Suara Flores).

To Top