Nusantara

Kisah Pilu Pekerja Pijat Plus, Usai Melayani Seks Dibayar Dolar Palsu

Ilustrasi (*)

SUARAFLORES.NET,–Profesi terlarang yang satu ini memang dilarang oleh agama, namun tak akan berhenti dilakoni  banyak kaum perempuan pekerja seks komersial (PSK), salah satunya perempuan berumur 37 tahun bernama samaran Tika. Meski merasa berdosa melakukan pekerjaan haram, Tika tetap bertahan hidup dengan bekerja sebagai tukang pijat plus-plus melayani berbagai pria hidung belang yang haus akan kenikmatan pijat dan seks. Motif kebutuhan perut dan keluarga, mendorongnya bertahan menyabung nyawa di Kota Metropolitan, Jakarta. Bagaimana kisahnya? Berikut petikan wawancara Suaraflores.Net belum lama ini sambil minum kopi di pinggiran jalan Kota Jakarta:

SF           : Tika sudah berapa lama menjalani pekerjaan sebagai tukang pijat plus ini?

Tika        : Belum lama bang, baru sekitar dua tahun.

SF           : Kenapa Tika mau bekerja seperti ini?

Tika        : Aku sendiri ga tahu kenapa nasib ku seperti ini, tapi aku harus jalani karena aku punya dua orang anak yang masih kecil yang masih butuh banyak biaya. Yang pertama kelas 6 SD dan yang kedua masih kecil. Sejak suamiku meninggal, beban ekonomi rumah tangga dan keluarga ku aku urus sendiri. Suamiku meninggal dunia dua tahun silam karena kecelakaan kerja disebuah perusahaan.  Sejak itu, aku terjun sebagai tukang pijat sekaligus juga melayani berbagai pria. Semua itu, aku lakukan untuk makan minum bersama kedua anakku  dan kebutuhan uang sekolah anak ku. Untung saja, suami ku meninggalkan rumah dan tanah sehingga kami tidak bayar uang kontrakan setiap bulan.

SF           : Kenapa tidak meminta bantuan keluarga untuk membangun usaha lain dari pada kerja seperti ini?

Tika        : Wah aku malu bang. Sering meminta bantuan sama keluarga ga enaklah, biar aku berusaha sendiri saja. Aku ditinggalin modal sedikit sama suami namun sudah habis dipakai buat kebutuhan anak-anakku. Aku juga pernah buka warung, tapi ketatnya persaingan di tempatku, akhirnya tutup karena pemasukannya sedikit. Lagian kalau usaha warung makanan kalau sudah berhari-hari ga sehat.

SF           : Apa Tika merasa tidak berdosa bekerja seperti ini? Bagaimana kalau ketahuan tetangga atau keluarga?

Tika        : Ya merasa berdosalah bang, tapi perut tak bisa diajak kompromi. Setiap bulan aku harus bayar uang sekolah dan kebutuhan sekolah anakku. Belum lagi anakku yang kecil masih butuh minum susu. Apalagi harga susu juga sangat mahal saat ini. Semua ini tidak bisa dikompromi. Kalau ketahuan tetangga si ga lah, karena aku selalu baik sama mereka. Kalau aku diberi rejeki lebih aku selalu bagi mereka juga. Kalau keluarga ga ada. Mereka tinggal jauh di luar kota Jakarta. Semua aku lakukan demi masa depan kedua anakku.  Aku biasa keluar rumah pada sore hari menuju tempat kawan-kawanku mangkal, ya di tempat ini saja. Pagi sampai siang hari aku urus anak-anak, antar ke sekolah dan jemput mereka. Aku keluar rumah ke tempat kerja ini sore menjelang malam. Kalau dapat  lelaki ya aku ke hotel sekitar sini. Dan aku berpenampilan rapi selayaknya orang kantoran, ga kaya cewek murahan, sehingga tetanggaku ga curiga.

SF           : Bagaimana menjaga hubungan dengan kedua anak-anak  Tika?

SF           : Mereka tidak tahu apa yang aku kerjakan. Setiap sore aku mau keluar rumah, aku titip mereka sama tetangga yang  jaga rumah. Aku tetap sebagai seorang ibu yang melayani anak-anak. Ketika aku pulang tengah malam mereka sudah tertidur lelap, dan saat pagi aku bangun menyiapkan kebutuhan makan minum dan siap mengantar ke sekolah. Kalau anak yang paling kecil kan belum sekolah.

SF           : Apa Tika pernah sekolah?

Tika        : Aku putus SMP bang. Orang tuaku tidak sanggup bayar biaya sekolah.

SF           : Berapa tarif yang dipatok Tika kepada para pria?

Tika        : Kalau  pijat seluruh badan dari kaki sampai kepala, sejam Rp200.000 bang. Tapi kalau ditambah main (service sex) ya standar Rp.500.000 lah bang. Kadang banyak pria suka murah. Mereka masih tawar lagi minta 300 ribu satu paket. Padahal itu sudah murah bangat bang, ya kalau aku ga ada uang samasekali ya aku terpaksa terima. Padahal capek loh bang. Kan aku kerja keras bercucuran keringat melayani permintaan mereka, tapi mau bilang apa, dari pada pulang ga bawa uang ya aku harus membuat mereka puas di ranjang.

SF           :  Sudah berapa banyak pria hidung belang yang Tika layani? Dari mana saja?

Tika        : Hemmm,.. aku ga itung lah bang. Udah terlalu banyak. Kan udah dua tahun aku kerja seperti ini. Biasanya banyak pria dari daerah (luar Jakarta) yang aku layani kalau dari Jakarta jarang. Mereka sering nginap di hotel, ketika mereka keluar hotel ya aku tawarkan jasa pijat plus. Semua tergantung suka sama suka, kalau dia ga mau ya aku juga ga maksa. Tapi kebanyakan pria dari luar daerah suka lah.  Ada yang kasar dan suka pakai kekerasan dulu sebelum berhubungan, kadang badanku sampai merah-merah. Tapi ada yang sangat baik dan lembut, seusai berhubungan mereka beri uang lebih dari tarif. Misalnya, kalau Rp500.000, mereka beri Rp600-700 ribu. Yang aku paling takut saat melayani pria mabuk, dia mintanya bermacam-macam mulai dari pijat  lalu hubungan seks bermacam-macam gaya. Kadang aku sampai lemas dibuatnya. Paling parah kalau dia pake obat kuat, aku takut kalau mati, maka aku terseret ke masalah hukum. Ini sudah banyak terjadi. Aku selalu punya trik untuk mengantisipasi pria semacam itu.

SF           : Tika tidak takut hamil dan diserang penyakit AIDS?

Tika        : Aku ga risaulah bang karena aku ikut KB. Lagian ada banyak cara biar ga hamil. Kalau AIDS sih ga tahulah, cuma aku setiap bulan rutin periksa dokter. Memang itu yang juga aku takutkan, tapi mudah-mudahan tidak terjadi pada diri saya.

SF           : Apakah Tika punya pengalaman terburuk selama menjadi tukang pijat plus?

Tika        : Banyak bang, sering terjadi habis main, mereka tidak bayar. Pura-pura alasan dompet jatuh, ATM hilang dan macam-macam lainnya. Aku marah-marah, tapi mau gimana lagi, pasrah saja aku.    Dari semua pengalaman buruk, ada yang paling buruk sampai aku berurusan dengan polisi. Ceritanya, ada seorang pria yang mengaku orang kaya minta kencan semalam dengan aku. Waktu itu, aku minta Rp.1.500.000,- Akhirnya dia setuju dan bawa saya ke sebuah hotel. Malam itu aku layani semua permintaannya beberapa kali. Ketika ketika pagi aku mau pulang, dia memberi aku uang dolar. Katanya dia hanya punya uang dolar. Aku curiga dolar itu palsu, aku pura-pura ke kamar mandi, dan di dalam kamar mandi aku cabut uang dolar selembar ku rendam dan kucak di air dan uang itu mudah pudar warnanya lalu hancur. Aku keluar kamar mandi dan marah pada pria itu, aku tuding dia berbohong tapi dia membantah dengan dalih aku yang menipu dia. Kami bertengkar lama. Karena tidak mau ribut sampai didengar orang, aku lalu ke kantor polisi terdekat meminta bantuan. Akhirnya, si pria itu membayarnya. Sejak itu aku jadi sangat trauma kalau melayani pria yang mengaku kaya raya dan kasar. Aku berhenti beberapa bulan karena diburu rasa takut.

SF          : Apakah Tika mempunyai hubungan khusus (pelanggan) selama ini?

Tika        : Ya bang, pernah sih. Dia seorang pria yang sudah punya istri dan anak. Dia orang berduitlah, punya pekerjaan bagus. Aku jadi istri simpanannya selama 5 bulan lebih. Semua kebutuhanku ia penuhi. Selama 5 bulan itu aku tidak keluar rumah, hanya di rumah saja. Hanya saja, aku merasa terkekang karena setiap jam dia selalu mengecek keberadaanku baik dari pagi sampai malam. Dia tidak mau saya melayani pria lain. Sekarang dia sudah pindah tempat kerjanya, sudah tidak berhubungan samaku lagi. Nomor kontaknya pun sudah tidak ada.

SF           : Dari hasil pekerjaan Tika, apakah sudah ada modal (uang) yang tersimpan?

Tika        : Ga ada bang. Untuk makan minum dan kebutuhan anak-anak saja ga cukup bang mana mau nabung.

SF           :Tika merasa bahagia kerja seperti ini?

Tika        : Terus terang bang, aku merasa tidak bahagia sebagaimana perempuan. Aku iri melihat  lain yang hidup tenang dengan suami dan anak-anak mereka. Aku ingin seperti mereka, tapi sudah tidak bisa. Kadang aku sedih mau berhenti, tapi bagaimana dengan masa depan anak-anaku. Aku ingin anak-anaku sekolah dan mempunyai masa depan yang cerah, jangan seperti aku. Jadi aku akan terus menjalani sampai pada saatnya pasti aku berhenti. (BKR/sft)

To Top