Tamu Kita

Kisah Samuel Yonathan, Kontraktor Putus Sekolah Membangun Sumba Timur

Samuel Yonathan (*)

Samuel Yonathan berasal dari sebuah keluarga kecil di desa Coan Ciu, Tiongkok, Republik Rakyat Cina (RRC). Ia lahir pada tanggal 12 Agustus  1921. Kelahirannya membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya You Khun An dan Pho Ho Sia. Orang tuanya memberikan sebuah nama yang indah, Yo Hong Sem. Ayahnya adalah seorang petani di desa Coan Ciu dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang hidup dalam kesederhanaan.

Bayi kecil Yo Hong Sem terus bertumbuh menjadi anak-anak dan hidup berbaur dengan anak-anak desa di kampungnya. Pada usia 9 tahun, Yo Hong Sem masuk sekola dasar (SD) di desanya. Masa-masa sekolahnya dalam situasi yang tidak aman karena negeri Cina dilanda perang antar suku dan perang antara Cina dan Jepang. Akibat perang, maka siswa-siswi SD pun dilatih untuk mengantisipasi serangan bom.

Yo Hong Sem pun ikut pelatihan itu bersama seluruh kawan-kawannya. Oleh para gurunya, mereka ajari cara menghindari serangan bom agar ketika ada serangan pesawat pembom Jepang, mereka sudah bisa menyelamatkana diri dengan cara bersembunyi di dalam lubang atau tiarap di atas tanah di bawa pohon. Dari pelatihan yang diperoleh, siswa-siswi juga diajari membedakan jenis, ukuran, berat dan daya ledak bom Amerika dan  bom Jepang.

Yo Hong Sem terus tumbuh menjadi seorang anak yang rajin dan pekerja keras dari kecil. Selain belajar membaca dan menulis bahasa Tionghoa dan belajar berhitung, ia pun rajin membantu kedua orang tuanya di rumah. Kondisi ekonomi negeri Tionghoa kala itu sedang susah karena sedang dilanda perang. Terdorong oleh situasi ekonomi yang tidak menjajikan masa depan, suatu ketika, ayahnya You Khun An memutuskan untuk merantau ke Indonesia bersama warga Tionghoa lainnya sekitar tahun 1926.

You Khun An pergi ke ke Pulau Sumba melalui  kapal dagang dari Cina menuju Hongkong ke Makasar lalu ke Waingapu. Ia meninggalkan istrinya Pho Ho Sia, Yo Hong Sem dan dua anaknya hidup sendiri di desa Cuan Ciu. Di Sumba kala itu masih hutan belantara seperti sebuah desa miskin yang sunyi. Namun sudah ada pelabuhan laut dan kapal-kapal dagang yang masuk ke Waingapu. Dengan modal yang ia miliki, ia membuka sebuah kios kecil di Waingapu untuk menjual barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari.

Suatu saat, setelah bertahun-tahun ayahnya tak kembali, ibunya mendegar kabar bahwa You Khun An hidup seorang diri dengan usaha kiosnya. Ibunya meminta salah satu dari tiga orang anak laki-lakinya supaya pergi menyusul sang ayah untuk menemani dan membantu mengurusi makan minum ayahnya di Waingapu. Karena dua saudaranya Yo Ho Tjeng dan Yo Hong Tjie tak mau, maka Yo Hong Sem mengatakan siap ke Sumba untuk hidup dan berusaha bersama ayahnya. Ia pun meninggalkan bangku SD kelas 1 dan pergi ke Sumba bersama pamannya You Khun Sai dengan beberapa warga Tionghoa. Ia meninggalkan ibu dan kedua saudaranya berbekal pakaian dan makanan seadanya.

Tepat pada tahun 1938, ia bersama paman You Khun Sai meninggalkan desa mereka menuju ke pelabuhan Tiongkok  Ia dan pamannya menaiki kapal dan berlayar mengarungi lautan luas. Ketika dua hari perjalanan dan sudah sangat jauh dari Tongkok, sebuah kabar buruk menghampiri kapten kapal dan seluruh awaknya. Kabar buruk itu adalah Tentara Jepang dengan angkatan udaranya menyerang pangkalan perang Amerika Serikat di Hawai. Serangan itu meluluhlantahkan seluruh pangkalan perang terbesar Negara Paman Sam tersebut. Tujuannya adalah melemahkan ekonomi Amerika.

Mendengar berita buruk itu, munculah ketakutan yang besar bagi seluruh awak kapal kalau-kalau kapal yang mereka tumpangi juga akan diserang pesawat Jepang atau pesawat Amerika yang akan melakukan aksi balas dendam atas serangan di Hawai. Meski demikian, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kapal yang ditumpangi sudah berada di tengah lautan luas. Untuk mengantisipasi dan mengelabui serangan pesawat tempur Jepang atau Amerika di lautan lepas, sang kapten kapal memerintahkan mematikan semua lampu kapal pada malam hari, dan mengecat tubuh kapal tersebut dengan cat warna hitam supaya tidak terlihat jelas.

Selain mematikan lampu kapal dan mengecat kapal menjadi warna hitam, strategi lainnya yang dilakukan sang kapten kapal adalah mengalihkan jalur perjalanan kapal yang semula Tiongkok, Manila-Gorontalo-Makasar. Karena kabar pecah perang dunia kedua itu, maka kapal  langsung menuju Hongkong ke Surabaya-Sumba. Perjalanan jauh mengarungi lautan biru membuat Yo Hong Sam harus bertahan hidup dengan makanan dan minuman yang sangat terbatas di atas kapal tersebut bersama para penumpang lainnya. Satu hari ia bersama pamannya dan penumpang lainnya hanya makan sepiring nasi dan satu butir telur ayam. Pada malam hari, kadang dapat makanan dan kadang tidak dapat makanan. Sementara, pakaian pun hanya di badan.

Setelah berminggu-minggu di laut lepas, Yo Hong Sem akhirnya tiba dengan selamat di Surabaya. Kota Surabaya waktu itu sudah didatangi banyak warga Tionghoa untuk berdagang. Dari Surabaya, Yo Hog Sem dan pamannya kemudian berangkat ke Kota Waingapu, Sumba dengan menumpang lagi kapal dagang. Selama beberapa hari perjalanan, keduanya tiba di Pelabuhan Waingapu. Yo Hong Sem kemudian tinggal dengan ayahnya di sebuah rumah kecil yang sekaligus menjadi kios mereka.

You Khun An sangat senang dengan kedatangan anaknya di Waingapu. Ia menyambut anaknya dengan suka cita. Sehari Yo Hong Sem membantu ayahnya menjaga kios melayani pembeli. Ia juga membantu ayahnya menyiapkan makanan dan minuman setiap hari. Waktu itu, Kota Waingapu masih hutan belantara. Kota masih terlihat sepi, dan jalanan masih belum beraspal. Warga Tionghoa hanya beberapa orang saja yang datang berdagang di Waingapu. Masa kecilnya ia lalui dengan kerja keras mencari uang bersama ayahnya.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1940, setelah mereka memiliki cukup uang dari usaha kios, Yo Hong Sem dan ayahnya berangkat ke Tiongkok. Mereka ke Tiongkok untuk melihat ibu dan dua saudaranya yang tinggal di rumah sederhana dan bersekolah di sana. Kios usaha mereka untuk sementara dijaga oleh pamannya yang juga tinggal di Waingapu. Mereka menumpang kapal barang dagang dari Kota Waingapu menuju Surabaya – Hongkong dan tiba di Tiongkok. Keluarga kecil itu kembali berkumpul di rumah kecil mereka selama sekian tahun hidup berjauhan. Ibu dan kedua saudara laki – lakinya merasa sangat gembira karena dapat bersama kembali. Meskipun itu hanya sementara waktu karena mereka kemudian kembali berpisah.

Setelah kurang lebih satu tahun di Tiongkok, pada tahun 1941, Yo Hong Sem dan ayahnya kembali ke Sumba. Mereka kembali meninggalkan kampung halaman dan keluarganya berlayar menuju Kota Waingapu. Waktu itu suasana perang masih berkobar. Tentara Jepang sedang menguasai Pulau Sumba. Tentara Jepang membangun tiga pangkalan besar, yaitu di Maumere – Flores, Kupang dan Waingapu. Tujuannya untuk dijadikan panggkalan pertahanan Jepang menyerang Australia. Suasana perang itu, membuat warga hidup tidak aman, termasuk Yo Hong Sem dan ayahnya.

Waingapu Diserang Bom

Tak berapa lama setelah mereka tiba di Waingapu, malapetaka pun tiba. Kota Waingapu diserang pesawat pembom Amerika Serikat. Amerika mau menghancurkan basis-basis pertahanan tentara Jepang. Serangan bom tiba-tiba itu membuat warga panik dan berlarian menyelamatkan diri. Rumah-rumah warga hancur lebur luluh lantah dan terbakar akibat bom-bom yang dilepaskan pesawat tempur Amerika. Rumah dan seluruh usaha Yo Hong Sem dan ayahnya yang berjarak 42 meter dari gudang Jepang pun rusak. Ia dan ayahnya luput dari serangan bom tersebut karena berlindung di dalam lubang yang ditutup dengan karung kapuk. Keduanya sudah menyiapkan lubang itu untuk mengantisipasi serangan bom.

“Saya punya rumah kena bom dan rusak saja, tapi dari Baba Kenga, Maju Karya sampai pasar terbakar hebat dilahap bom api. Dulu tidak ada yang bisa tolong karena tidak ada pemadam kebakaran. Waktu itu, sebelum bom datang kami sudah siap lubang 1 X 30 cm. Saya masuk ke dalam lubang dan ditutup dengan 1 karung kapuk sepanjang 60 cm. Bom itu datang pada siang hari. Ketika bom jatuh, saya berada di dalam lubang sangat gelap. Karung kapuk tersebut tertimbun material batu pasir dari rumah kami yang rusak. Saya berusaha untuk keluar dari lubang tersebut. Kurang lebih 30 menit saya bergulat dengan maut untuk keluar dengan mendorong karung kapuk yang sangat berat tertimbun material. Setelah saya mendorong dengan sekuat tenaga, akhirnya saya bisa keluar. Saya hampir saja kehabisan nafas,” keenangnya.

Ia selamat karena berbekal pelatihan yang diperoleh di Cina sewaktu masih di bangku SD kelas satu. Dikisahkannya, sewaktu masih kecil sekolah di Tiongkok, ia telah dilatih dan belajar untuk menghadapi serangan bom. Waktu itu pecah perang antara Cina dengan Jepang dan ia mendapat pelatihan dari para gurunya. Caranya, yaitu ketika serangan bom Jepang dilepas tentara Jepang dari pesawat tempurnya, ia harus cepat tidur dan tiarap. Ia juga sudah belajar tentang jenis bom Jepang dan bom tentara Amerika yang berbeda berat dan hulu ledak dan daya rusaknya.

Ia mengatakan, bom Jepang beratnya kurang lebih 60kg dan bom Amerika kurang lebih 10kg. Bom Jepang ketika dijatuhkan, setiap orang harus tiarap di bawah pohon di atas tanah. Kalau bom Amerika tidak bisa dan tidak boleh tiarap di atas tanah, tetapi harus di dalam lubang. Jika tiarap di atas tanah bisa langsung meninggal dunia. Bom Jepang pecahannya kecil-kecil sedangkan bom Amerika pecahannya besar-besar. Berbekal pelatihan ini, maka ketika bunyi sirene dari markas tentara Jepang, ia langsung bergegas masuk bersembunyi di dalam lubang yang sudah disiapkan.

Waktu itu tentara Jepang di Sumba jauh lebih banyak dari tentara Jepang di Surabaya. Jepang memakai Waingapu, Maumere dan Sumba menjadi ujung tombak menghantam Australia. Jadi, tentara Jepang banyak sekali. Pesawat Jepang di Waingapu hampir 30-an buah berlabuh di pangkalan perang Mau Hau. Setiap hari ia menyaksikan pesawat-pesawat Jepang terbang meluncur menuju Australia. Setiap ada aba-aba dari komandan Jepang, maka pesawat-pesawat tempur tersebut bergeak terbang ke Australia menyerang. Serangan itu beruntun setiap hari. Namun, banyak pesawat-pesawat Jepang yang tidak pulang lagi karena diduga ditembaki tentara Australia. Tentara Jepang banyak membuat lubang-lubang pertahanan di bawah tanah yang sangat panjang. Di Kota Waingapu ada goa yang panjangnya 6-7 Km. Lubang-lubang bawah tanah itu menjadi tempat tinggal dan benteng tentera Jepang.

Lari ke Desa Mangili

Setelah rumah-rumah dibombardir pesawat Amerika, warga kota meninggalkan kota dan pergi ke  ke desa-desa untuk menyelamatkan diri. Kondisi perang ini pun mendorong Yo Hong Sem dan ayahnya pergi ke desa Mangili dan menetap di rumah warga desa. Di sana, mereka tinggal di sebuah rumah yang ditinggalkan penghuninya. Warga desa Mangili sangat bersahabat dengan keduanya. Warga memberikan lahan sawah untuk digarap oleh dan keduanya pun menjadi petani di desa tersenut. Di atas lahan sawah yang diberikan petani, ditanami padi, sayuran dan buah-buahan untuk kebutuhan pangan di desa sehari-hari. Di desa tersebut, Yo Hong Sem belajar menanam padi, jagung, ubi kayu dan tanaman lainnya. Ia juga belajar memetik padi  di kala musim panen, menumbuk padi dan menapisnya untuk dimasak.

Pada tahun 1942, setelah kurang lebih satu tahun tinggal di desa Mangili, Yo Hong Sem dan ayahnya mendengar kabar Kota Waingapu sudah kembali aman. Keduanya pun kembali ke Kota Waingapu meninggalkan gubuk tua dan ladang sawah yang telah menghidupi mereka selama satu tahun. Mereka berjalan kaki menuju Waingapu. Mereka lalu kembali membangun usaha kioasnya dengan modal yang masih tersisah. Yo Hong Sem kemudian ingin bersekolah lagi, dan ayahnya memasukan ia di sebuah sekolah Tionghoa di Waingapu pada tahun 1943.

Di sekolah dasar Tionghoa tersebut, Yo Hong Sem yang telah bertumbuh menjadi seorang pemuda tersebut, belajar kembali termasuk belajar bahasa Indonesia. Ia merasa senang karena di sekolah tersebut ia bisa bertemu dengan anak-anak Tionghoa. Namun sayang, ia tidak bisa menuntaskan pendidikan tingkat SD itu sampai lulus karena ia lebih banyak membantu ayahnya dalam menjalankan usaha kiosnya dan jaman perang masih membuat mereka hidup tidak tenang. Ia akhirnya memutuskan terus menjalankan usaha dagang dengan ayahnya.

Pada tahun 1945, tepatnya 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Warga Waingapu gegap-gempita mendengar kabar berita itu, termasuk Yo Hong Sem dan ayahnya. Mereka mulai merasa senang karena suasana merdeka itu akan membuat mereka bebas dan aman dalam berdagang.

Di kala ibunya, Pho Ho Sia, meninggal dunia, Yo Hong Sem dan ayahnya, You Khun An, berangkat ke RRC untuk bertemu dan melihat ibunya terakhir kali. Ia merasa sangat sedih karena ibu yang telah melahirkannya telah pergi untuk selamanya. Air matanya berlinang mengenang lagi kehangatan ibundanya yang penuh kelembutan cinta kasih tulus. Tak berapa lama di  desanya, setelah pemakaman ibunya, ia dan ayahnya kembali lagi ke Waingapu meninggalkan dua saudara kandungnya yang sudah dewasa dan hidup mandiri.

Rumah Terbakar dan Menikah

Pada tahun 1951, rumah dan kios kecil yang menjadi sumber kehidupan mereka terbakar. Api membakar dengan sangat cepat bak sambaran petir. Dalam sekejap seluruh barang dagangan bersama rumah mereka ludes. Kebakaran hebat yang melanda kios dan rumah itu dipicu oleh percikan korek api yang dinyalakan pembantu di dekat drum minyak tanah. Pembantu tersebut hendak menyalakan obat nyamuk, namun tak disangka nyala korek api menyambar drum minyak tersebut dan berkobar tak bisa tertolong lagi. Karena tidak memiliki tempat tinggal lagi, maka Yo Hong Sem dan ayahnya kemudian tinggal bersama You khun Sai. Mereka merasa sangat sedih karena tidak bisa berusaha selama satu tahun lebih.

Bertahan di tengah bencana itu, mereka mengumpulkan barang-barang bekas yang kiranya masih bernilai uang untuk dijual bila ada yang membutuhkan. Yo Hong Sem dan ayahnya kemudian terus berjuang mencari jalan agar usaha kios kembali hidup. Mereka menukarkan uang logam yang masih dimiliki dengan emas, dan menjual emas-emas itu untuk mendapatkan modal usaha membangun kembali kios dan rumah. Namun usaha emas itu tidak dalam waktu singkat menghasilkan uang dalam jumlah banyak. Meski demikian, Yo Hong Sem dan ayahnya tidak menyerah. Mereka bangkit dengan iman dan keyakinannya bahwa Tuhan pasti memberikan rezeki kepada setiap umatnya yang tekun dan sabar.

Selain terus membangun kembali usahanya, Yo Hong Sem dan ayahnya juga berhubungan baik dengan Lho Liang Kiem (Baba Lotus), seorang pengusaha Tionghoa yang telah datang lebih dahulu sekitar tahun 1800-an dan mendirikan toko di Kota Waingapu bernama Lotus. Yo Hong Sem juga bekerja di Toko Lotus sebagai seorang karyawan. Lotus berarti bunga Teratai. Filosofi dari Lotus yaitu bisa bertahan hidup di dalam lumpur atau dalam penderitaan. Tokoh Lotus  berdiri sekitar tahun 1.800-an. Nama Toko Lotus sangat terkenal di seantero Pulau Sumba waktu itu karena menjadi toko besar pemasok barang-barang kebutuhan sehari-hari (sembako) bagi warga Sumba, seperti pakaian, beras, gula, minyak tanah (BBM) dan lain sebagainya.

Lo Liang Kiem kala itu sudah memiliki kapal dagang sendiri untuk memuat barang dan menjual hasil bumi ke Makasar dan Surabaya. Ia juga  sudah memiliki truk kayu yang menjadi kendaraan untuk memuat barang dagangan dan sebagai alat transportasi warga Sumba. Ia memiliki  tiga orang anak, satu perempuan bernama Inge Lotus dan dua laki-laki. You Khun An menjalin hubungan kekeluargaan yang sangat baik. Sebagai sesama warga Tionghoa di rantau. Rupanya, secara diam-diam,  Yo Hong Sem jatuh cinta pada Lo Siu Ing (Inge) putri tunggal Lho Liang Kiem. Yo Hong Sem dan Lo Siu Ing sudah saling mengenal sewaktu masih di bangku sekolah dasar Tionghoa di Waingapu. Lo Siu Ling adalah adik kelasnya Yo Hong Sem.

Yo Hong Sem dan Lo Siu Ing pun berpacaran. Suatu ketika keduanya berjalan-jalan ke pasar malam di Kota Waingapu untuk makan malam. Ketika Siu Ing mau membayar makanan, Yo Hong Sem tak mau, dan ia lah yang membayar makan tersebut. Setelah menjalin hubungan selama tiga tahun, keduanya pun menikah pada tanggal 12 Desember 1952 dalam suasana sederhana tempo dulu. Waktu awal membangun rumah tangga, selain melanjutkan usaha dagang kios, keduanya juga berjualan sepeda. Waktu Yo Hong Sem ke Surabaya untuk menjual komoditi dan berbelanja barang-barang dagangan, dia juga membeli sepeda. Sepeda itu sudah dibuka atau ditanggalkan bagian demi bagian. Ketika sampai di Waingapu, sepeda yang dibongkar tersebut dipasang kembali dan dijual .Yang bertugas untuk pasang sepeda adalah Siu Ing istrinya.

Di tahun 1965, pecahlah peristiwa Gestapu. Saat itu, warga Tionghoa di mana-mana merasa tidak aman karena menjadi sasaran isu komunis. Rasa tidak aman itu juga dirasakan warga Tionghoa di Waingapu, salah satunya keluarga besar Lho Liang Kiem dan You Khun An (ayah Baba Sema) dan keluarga besarnya. Saat itu, begitu banyak warga pengusaha Tionghoa di Sumba pergi meninggalkan rumah dan usahanya dan pergi menyelamatkan diri ke Surabaya. Ada beberapa yang tetap bertahan di Waingapu, tetapi tidak berani membuka tokonya dan lari bersembunyi di desa-desa. Kondisi yang menakutkan ini, membuat mertua Yo Hong Sem,  Lho Liang Kiem (Baba Lotus) dan istrinya pun  meninggalkan Kota Waingapu ke Surabaya dan tidak kembali lagi. Mereka terus menetap di Surabaya hingga masa tua.

Menurut WB. Elim, salah satu tetangga dekat Yo Hong Sem, selain karena Gestok 1965, Lho Liang Kiem pindah ke Surabaya juga karena pengalaman pahitnya. Suatu malam, ia hampir saja kehilangan nyawanya karena diserang perampok yang pura-pura datang membeli di Toko Lotus. Menurutnya, perampok tersebut rupanya bukan mau belanja, tetapi berniat mau merampok barang di toko. Waktu itu, Tuan Lho Liang Kiem hanya mengenakan singlet dan kain sarung karena ia hendak menutup toko. Tiba-tiba seorang pendeta (mertua WB Elim) yang rumahnya di dekat gereja mendengar ada suara orang berteriak minta tolong. Suara itu dari dalam Toko Lotus. Pendeta itu pun bergegas menuju toko dan melihat orang itu (perampok) memegang sebilah pisau. Rupanya ia sudah menyabet perut Lho Liang Kiem dan melukai istrinya. Berkat kemampuan silatnya, pendeta tersebut berhasil menjatuhkan perampok tersebut dan perampok itu kabur dari toko. Ia menolong Baba Lotus dan istrinya yang sudah terluka dan berdarah.

Pengalaman buruk tersebut, membuat Tuan Lho Liang Kiem bersama istrinya sangat merasa trauma dan ketakutan. Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Waingapu dan segala usahanya. Toko Lotus akhirnya diurus oleh Lo Siu Ing (Inge) bersama Yo Hong Sem yang kemudian oleh warga Waingapu disapa Baba Sema. Kepergian Lho Liang Kiem ke Surabaya meninggalkan tugas dan tanggungjawab yang besar kepada Inge dan Baba Sema. Keduanya kemudian menggambungkan dua tokoh (toko Baba Sema dan Lho Liang Kiem). Nama yang dipakai tetap Toko Lotus. Seluruh usaha Toko Lotus ditangani oleh Inge dan Baba Sema. Usaha tersebut makin meningkat dari hari ke hari. Selain menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, gula, kopi, minyak dan pakaian, mereka juga menjual semen, seng, paku, besi dan material lainnya.

Dagang Kopra

Baba Sema bekerja keras siang dan malam membanting tulang bersama istrinya. Mereka berbagai peran, Inge mengurusi toko setiap hari dan Baba Sema kemudian berdagang komoditi kopra. Ia berlayar dengan kapal untuk membeli kopra di Bima, Pulau Flores, seperti di Ende dan Maumere dan wilayah lainnya. Kopra-kopra yang dibelinya itu dimuat dengan kapal ke Waingapu. Kopra-kopra kemudian ditampung di gudang, dijemur dan dimasukan ke dalam karung-karung. Setelah diisi dalam karung dan dijahit, kopra-kopra dimuat dengan mobil truk menuju ke kapal untuk dijual ke Surabaya. Uang dari hasil penjualan kopra, sebagian untuk belanja barang dagangan dan sebagian untuk membeli kembali kopra.

Usaha beli jual kopra cukup berkembang waktu itu karena Baba Sema membeli kopra dengan harga yang jauh lebih baik dari pengusaha lainnya. Ia membeli dengan harga yang lebih mahal, sehingga banyak petani kopra di Flores menjual kopranya kepada Baba Sema. Ia merasa geram dengan koperasi-koperasi (KUD) yang tidak membantu rakyat tetapi malah merugikan petani kopra karena membeli dengan harga murah dan menjualnya dengan harga yang mahal. Karena ia telah mengantongi ijin usaha jual beli kopra, ia leluasa membeli kopra di mana saja .

Untuk menyikapi kinerja buruk koperasi yang kala itu menguasai pasar komoditi rakyat, suatu saat terjadilah pertemuan di Kupang yang dipimpin oleh gubernur NTT yang dihadiri para bupati se-NTT. Bupati Sumba Timur, Umbu Haramburu Kapitang hadir dalam pertemuan itu. Bupati Haramburu dihantam kritik keras oleh Bupati Ende dan Bupati Sikka waktu itu karena menampung semua kopra dari Ende dan Maumere di Waingapu. Menjawab kritikan itu, Bupati sumba timur, Haramburu Kapitan, menampik keras. Dia mengatakan saat itu, “saudara-saudara,  Sumba Indonesia, Ende Indonesia, Maumere Indonesia, kita adalah orang NTT. Coba saudara-saudara pikir kalau saya tidak membeli dan menampung kopra maka kopra akan lari ke NTB dan Jawa. Yang rugi adalah NTT, “tegas Baba Sema mengingat lagi pernyataan Bupati Sumba kala rapat tempo itu.

Setelah beberapa tahun berdagang kopra, Baba Sema mengumpulkan uang cukup banyak. Uang itu kemudian dipakai lagi untuk mengembangkan usaha mereka. Selain usaha beli jual kopra dan barang-barang sembako, Baba Sema mengembangkan usahanya dengan membeli dan menjual bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar. Baba Sema lebih fokus pada usaha dagang kopra, serta jual beli kopra hingga ke Makasar dan Surabaya.

Berkat jaringan dagang yang sudah lama terbangun, Baba Sema tidak susah dalam membangun hubungan baik dengan para pengusaha-pengusaha atau para pedagang di Makasar dan Surabaya. Untuk usaha bahan bakar, ia telah membelinya dari Surabaya. Bahan bakar itu kemudian diangkut ke Waingapu dengan kapal kayu. Jika musim angin barat, kapal bisa sampai 3 bulan dalam perjalanan menuju pelabuhan rakyat Waingapu. Namun, jika cuaca angin timur, maka dalam waktu satu bulan sudah sampai di Waingapu. Bisnis bahan bakar penuh dengan resiko, kadang-kadang dia membeli 100 drum dan tiba di Waingapu bisa hanya 90 drum karena sering drum-drum pecah di laut karena gelombang besar.

“Saya ini memang aslinya seorang pedagang. Waktu itu saya jual beli barang sampai ke Makasar, NTB dan Surabaya melalui pelabuhan rakyat Waingpau. Saya urus tokoh sama bahan bakar. Bahan bakar saya beli dari Surabaya. Kalau musim barat 3 bulan baru sampai Waingapu. Namun, jika angin timur 1 bulan drum-drum minyak sudah sampai. Kalau saya kirim 100 drum, 10 drum pasti pecah. Jadi sebelum beli minyak, drum-drum tersebut harus disortir dulu agar tidak pecah. Ketika tiba di tokoh langsung dimasukan di gudang dan kemudian kami layani pembeli. Waktu itu, tokoh lain ada, tetapi mereka hanya menjual barang-barang kelontong. Jaman dulu barang dari Makasar dan Bima, setelah lancar baru dari Surabaya,” kisahnya.

Menurut mantan karyawan Toko Lotus, Felix Wongkar, Toko Lotus yang diririkan Lho Liang Kiem dan istrinya tersebut terus maju dibawa pimpinan Inge Jonathan Lotus dan Baba Sema. Menurut karyawan yang bekerja selama 15 tahun ini, baik Nyonya Inge maupun Baba Sema adalah dua pekerja keras yang pantang menyerah. Mereka mempunyai prinsip yang sangat kuat dalam berusaha. ‘Prinsip mereka adalah kalau orang lain bisa maka kita juga harus bisa.’ Para karyawan dan karyawatinya hidup bersama dan tidak ada sekat perbedaan. Di kala waktu makan, Nyonya Inge selalu memperhatikan mereka secara baik. Setiap karyawan yang bekerja selalu ditanamkan kedisplinan dan kejujuran yang sangat ketat. Nyonya Inge adalah seorang wanita pekerja keras murah hati, dan suka menolong karyawannya di kala mereka sakit dan membutuhkan bantuan.

Dia juga menjadi orang kunci yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya untuk hidup hemat dan sederhana meskipun memiliki banyak uang. Ia menyeleksi karyawan yang bisa bekerja full time. Jika sudah memberikan kepercayaan, ia percaya pada anak buahnya 100 persen. “Kalau saya kasih keluar barang untuk menjual barang di Sumba Barat, pulang saya stor uang dia tidak bertanya macam-macam lagi. Yang dia tanamkan kerja harus jujur. Dia hidup sederhana meskipun di mata orang Sumba adalah orang kaya. Mereka sangat dekat dengan gereja dan masyarakat sehingga diberkati,”ungkapnya.

Henry Yonathan anaknya, mengakui betapa hebat peranan Inge Yonathan dalam membangun usaha Toko Lotus. Dia menuturkan bahwa ibunya memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Ia mengajarkan anak-anaknya agar tidak pantang mundur, dan harus bertahan menghadapi penderitaan. Ia adalah seorang perempuan bijaksana yang sangat memperhatikan anak-anaknya pada saat sakit maupun senang. Anak kedua mereka, Henry Yonatan, menuturkan bahwa ibunya selalu bersikap adil terhadap semua anak-anaknya. Ia tidak suka pilih kasih.

Usaha toko dan dagang yang dijalankan Baba Sema dan Inge terus berjalan lancar dan maju hingga tahun 1970-an. Berkembangnya usaha dagang ini tidak membuat mereka lupa diri dan hidup mewah dalam gelimangan harta kekayaaan. Mereka mempunyai hubungan yang baik dengan Gereja Kristen Sumba (GKS), pemerintah dan masyarakat Sumba. Hubungan yang baik itu telah terbangun sejak Lho Liang Kiem membangun Toko Lotus di Waingapu. Nama besar Lho Liang Kiem di kalangan gereja dan Pemerintah Sumba Timur. Meski terkenal sebagai pengusaha kaya, tetapi Tuan Lho Liang Kiem kala itu belum terjun ke dunia jasa konstruksi sebagai pemborong atau kontraktor.

Pada tahun 1974, ayah Baba Sema, You Khun An jatuh sakit dan meninggal dunia. Di tengah-tengah kariernya mulai berkembang menjadi seorang pedagang dan pemborong, ia kehilangan ayahnya yang telah merintis jalan usaha kios di Waingapu. Ia benar-benar sebatang kara karena telah ditinggal ibu dan ayahnya. You Khun An kemudian dimakamkan di Waingapu. Dan setelah ia sukses, ia menggali kembali kuburan ayahnya dan membawa tulang belulang ayahnya ke desa Cuan Ciu, RRC untuk dikebumikan di samping makam ibundanya Pho Ho Sia.

Tak Bermimpi Jadi Kontraktor 

Pada tahun 1970-an, pemerintah pusat dibawa pimpinan Presiden RI, Jenderal Soeharto, mulai menggalakan pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia melalui program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Di Pulau Sumba, khususnya Sumba Timur pun mulai mendapat perhatian angaran pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, irigasi, sekolah dan puskesmas. Pada tahun 1971-1977 Sumba Timur dipimpin oleh Bupati Umbu Haramburu Kapitan. Umbu Haramburu Kapitan adalah anak dari Dr. Umbu Hina Kapitan.

Di masa kekuasaan Umbu Haramburu Kapitan inilah karier Baba Sema mulai naik, karena ia terjun menjadi pemborong atas paksaan bupati. Saat itu, ada begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dan pemerintah kesulitan mencari kontraktor. Sang bupati kemudian memanggil Baba Sema lalu memintanya menjadi pemborong (kontraktor). Baba Sema di kala itu sudah memiliki uang, material di tokonya juga kendaraan truk.

Mendapat informasi dari pegawai yang dikirim Bupati Haramburu, Baba Sema pun mendatangi ruang kerja Haramburu sesuai waktu yang disepakati. Kepada Baba Sema, Bupati Haramburu memintanya untuk menjadi pemborong. “Saya minta kamu jadi pemborong,” pinta Haramburu. “Pak saya sekolah putus SD di Sumba. Saya ini hanya seorang pedagang. Saya hanya bisa berdagang, jadi kontraktor saya tidak bisa, saya takut pak, “jawab Baba Sema kepada Haramburu.

Mendengar jawaban itu, Bupati Haramburu menegaskan bahwa proyek yang akan dikerjakan adalah proyek pemerintah dan keuntungannya 10 persen, serta pengawasnya sudah disiapkan. “Saya lihat kamu bisa karena memiliki modal dan peralatan untuk kerja. Proyek ini kamu pasti untung. Kau tidak usaha takut karena gambar dan pengawasnya sudah disiapkan. Kita sobat baik, kau jadi kontraktor kau juga bantu saya dan bantu daerah ini. Sekarang ini kita banyak dapat bantun dana dari pusat,” kata Baba Sema mengingat Haramburu.

Menurut Bupati Haramburu, jikalau dana sebesar Rp10 miliar yang diberikan pemerintah pusat bisa diselesaikan dengan mengerjakan proyek-proyek yang baik dan tepat waktu, maka pada tahun berikutnya pemerintah akan mengucurkan dana lebih besar lagi. “Ini tantangan untuk saya sebagai bupati. Kalau kau bisa bantu saya, maka setelah pekerjaan proyek pertama di tahun ini, pada tahun depan kau akan kerja lagi. Jadi kau harus bantu saya. Kau tidak usah takut karena ada yang mengawasi,” kata Baba Sema mengingat lagi ucapan Bupati Haramburu.

Mendengar apa yang disampaikan Bupati Haramburu, Baba Sema masih belum memutuskan untuk menerima tawaran itu. Pasalnya, ia hanyalah seorang pedagang yang tidak tahu menahu mengenai dunia infrastruktur atau jasa konstruksi. Ia juga merasa dilema kalau nanti dalam perjalanan proyek tersebut gagal karena ia minim pengalaman. Namun, setelah terus didesak oleh Bupati Haramburu, Baba Sema kemudian menerima tawaran menjadi pemborong.

“Saya pikir-pikir juga betul ko. Pak omong itu saya coba dulu. Tapi jangan besar-besar dulu. Kalau ada pengawas saya minta pengawas yang baik. Saya tidak minta pengawas untuk tolong saya, tapi pengawas yang tegas. Kalau ada kesalahan segera kasi tahu supaya langsung saya bongkar. Paling kurang kasi tahu saya supaya tiga hari saya bongkar. Jangan saya sudah pasang naik tinggi-tinggi baru suruh bongkar kan saya rugi,” kata Baba Sema.  Mendengar permintaan Baba Sema, Bupati Haramburu pun mengamininya. “Saya jamin. Berani pengawas tidak membantu, saya kasih berhenti,” katanya mengutip Haramburu.

Usai pertemuan itu, Baba Sema pun pulang ke rumahnya dan menyampaikan kabar gembira itu kepada istri tercintanya, Inge Yonathan Lotus. Baba Sema kemudian memutuskan menerima sebuah paket pekerjaan gorong-gorong dengan masa kontrak 4 bulan. Namun, proyek tersebut oleh Baba Sema hanya diselesaikan 2 bulan saja. Dari hasil pekerjaan gorong-gorong itu, Baba Sema mendapatkan keuntungan yang lumayan. Hal ini mendorongnya untuk terus bekerja sebagai kontraktor. Ia kemudian mendapat proyek baru lagi, yaitu paket proyek pembangunan Kantor Camat Malolo. Ia mengerjakan proyek itu dengan hasil yang berkualitas baik dan tepat waktu. Karena hasil pekerjaan sebagai kontraktor lebih baik, maka ia terus menerus menerus mendapatkan proyek-proyek pemerintah. Namun demikian, dia menegaskan bahwa ia tidak pernah bermimpi jadi kontraktor.

“Saya menjadi kontraktor itu tidak ada mimpi sama sekali. Saya hanya bantu bupati dan warga Sumba. Saya juga tidak mengemis ke pemerintah, tapi mereka yang minta saya jadi kontraktor karena mungkin saja mereka percaya saya dan melihat kemampuan saya. Ini soal kesempatan, kesempatan datang cari saya. Saya tidak cari kesempatan.”

Di kala itu, di Sumba sudah ada pemborong. Baba Sema adalah orang ke empat selain Welly, Kote dan Watu. Ketiga pemborong itu telah lebih dahulu berkarya membangun Sumba. Meski muncul kemudian, hanya Baba Sema yang dipanggil oleh Bupati Haramburu untuk menjadi kontraktor. Ia terus menerus mendapatkan pekerjaan karena oleh pemerintah dinilai ia mampu bekerja dengan hasil yang baik dan menjaga kualitas. Setiap tahun ia mendapatkan paket proyek infrastruktur. Di bawa bendera Toko Lotus, Baba Sema terus berkibar sebagai seorang kontraktor.

Begitu banyak proyek infrastruktur yang dikerjakan Baba Sema. Selain membangun proyek terbesar bendungan besar di Mangili, ia juga menghadapi tantangan yang cukup besar ketika membangun jembatan Payeti dengan rangka besi. Proyek jembatan tersebut ditolak oleh semua kontraktor karena waktu itu memasuki musim hujan di bulan Oktober. Awalnya ia merasa berat karena sangat berisiko, namun setelah ia timang-timang dan melakukan perhitungan, ia menerima pekerjaan itu.

Berminggu-minggu ia bersama anak buahnya (tukang dan buruh) mengerjakan jembatan itu. Awalnya jembatan itu pakai beton, namun karena tidak tahan banjir, maka dirubah memakai rangka besi. Ia mengawasi pekerjaan itu siang dan malam hingga lupa mandi. Pakainnya sampai dekil, badannya penuh daki dan rambutnya penuh ketombe. Kerja kerasnya yang penuh tanggungjawab membuahkan hasil. Jembatan Payeti dengan rangka besi akhirnya selesai di kerjakan dengan waktu tak sampai dua bulan. Baba Sema juga dipercayakan melanjutkan pekerjaan Jembatan Weri. Ia memakai konsultan dari Kupang untuk membangun jembatan darurat itu. Konsultan itu sudah menyatakan bersedia dan Baba Sema sudah menandatangani kontrak kerjanya. Namun, tiba-tiba, konsultan itu meninggal dunia. Meski merasa berat, ia nekat mengerjakan jembatan tersebut hingga tuntas. Jembatan itu akhirnya selesai dan diserahterimakan.

“Tantangan yang saya rasa berat saat saya kerja Jembaran Payeti (dulu). Waktu itu bulan oktober musim hujan, semua pemborong tidak mau. Saya merasa berat tapi saya terima. Rangkanya pake beton awalnya, kemudian pake rangka besi. Tantang berikutnya, waktu saya pasang Jembatan Weri, ini juga berat. Ada orang Kupang bilang gampang, tapi dia meninggal. Saya sudah tanda tangan kontrak. Saya tidak tidur siang malam sampai lupa mandi, rambut penuh ketombe. Jembatan Payeti dan Jembatan Weri (jembatan darurat) akhirnya selesai,” kisahnya.

Baba Sema juga berperan dalam proyek pembangunan dermaga di tepi Kota Waingapu. Di saat itu, kontraktor yang mendapatkan proyek tersebut adalah kontraktor dari Surabaya. Proyek tersebut hampir saja tidak dikerjakan kontraktor tersebut, lantaran tidak mendapatkan pasir yang berkualitas baik. Ia mencari pasir kemana-mana tidak mendapatkan yang berkualitas baik. Ia mau mengangkut dari Flores, namun terlalu jauh. Ia sudah putus asah membatalkan proyek tersebut. Kontraktor tersebut kemudian menghubungi Baba Sema untuk meminta bantuan, dimana Baba Sema menyiapkan pasirnya. Sebenarnya Baba Sema tidak terlalu tertarik, namun karena proyek tersebut bermanfaat untuk warga Sumba Timur, maka ia memutuskan membantu kontraktor tersebut dengan menyiapkan pasir. Baba Sema lalu mengambil pasir dan mengayaknya dengan ayak parabola dan meminta kontraktor itu mengetest kualitasnya di laboratorium. Ternyata, hasil test sangat baik, dan pelabuhan itu mulai dikerjakan hingga selesai dengan jasa pasir dari Baba Sema.

Eben Manggi, Mantan Pegawai Setda Kabupaten Sumba Timur, mengisahkan bahwa proyek irigasi pertama di Sumba dikerjakan oleh Lotus. Bendungan pertama di Mangilu itu tidak ada orang yang berani mengerjakannya karena minimnya fasilitas pendukung. Yang berani mengerjakan proyek itu hanya Lotus di bawa pimpinan Baba Sema yang waktu itu telah memiliki mobil truk sehingga mudah mengangkut material. Bendungan itu kini berusia 50 tahun, dan kini masih dinikmati warga Sumba Timur. Fakta ini adalah bukti nyata bahwa Baba Sema sangat mengedepankan kualitas dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi di kala itu. Sebagai kontraktor, Baba Sema mempunyai prinsip yang sangat kuat, yakni menjaga kualitas konstruksi dan mendapatkan keuntungan yang pas-pasan asalkan kepercayaan tidak hilang. Dikisahkannya, selama menjadi kontraktor, ia tidak mendapat masalah hukum. Ia selalu mendapatkan keuntungan dari seluruh pekerjaannya, tetapi tidak mencuri volume untuk mendapatkan uang lebih banyak.

“Saya tetap menjaga kualitas supaya nama perusahan tetap bagus. Saya pernah diperiksa terkait perkerjaan. Namun, saya tidak pernah berurusan dengan lembaga hukum karena kerja bersih, jujur, mengedepankan kualitas dan tepat waktu bahkan lebih cepat. Saya tetap kerja sesuai aturan yang diperintahkan. Tetapi saya tegaskan aparat juga jangan tolong pemborong dan jangan bikin susah pemborong. Saya 25 tahun jadi kontraktor tidak pernah dipanggil jaksa dan polisi.”

Setelah mengerjakan beberapa proyek infrastruktur dengan hasil yang baik, suatu waktu, Bupati Haramburu memanggil Baba Sema untuk mengelolah gedung bioskop di Kota Waingapu. Saat itu, di Waingapu belum ada bioskop sebagai tempat hiburan bagi rakyat. Rupanya, Bupati Haramburu terinspirasi dengan bioskop di Kota Bima, NTB, saat ia berkunjung ke sana. Melihat gedung nasional pemerintah yang kosong, ia memanggil Baba Sema untuk mengelolah gedung nasional itu menjadi bioskop. Ia pun menerima permintaan bupati dan kemudian mengelolah bioskop pertama di Kota Waingapu. Bioskop itu sangat ramai dikunjungi warga Sumba yang kala itu masih jauh dari hiburan film. Setiap malam pemutaran film, warga selalu memadati bioskop tersebut. Namun, setelah muncul televisi, bioskop itu kemudian tutup karena warga sudah mulai membeli televisi.

Prahara Datang Bertubi-tubi

Di tengah usaha Baba Sema yang kian maju, bencana kembali menimpahnya. Pada tanggal 12 Juli 1980, si jago merah kembali melahap dengan ganas Toko Lotus. Akibat kebakaran hebat di pagi hari itu, seluruh barang-barang dagangan dan gudang minyak di toko tersebut ludes seketika, tak ada yang tersisa. Di kala itu, tidak ada yang bisa menolong. Warga di sekitar toko pun tidak bisa berbuat apa-apa karena api menjalar dengan sangat cepat. Dalam sekejap seluruh usaha Baba Sema dan Inge berubah menjadi puing-puing, asap dan debu tanah. Felix Wongkar, mantan karyawan Toko Lotus yang menjadi saksi hidup, mengungkapkan kisah sedih sewaktu toko terbakar. Usai kebakaran, ia bersama Baba Sema dan Mama Inge dan anak-anaknya makan bersama. Waktu itu, semua barang habis tinggal kaleng-kaleng ikan yang sudah hangus tapi masih utuh dan itu yang dipakai untuk makan. Waktu itu semua anak-anak masih sekolah di Surabaya, kecuali Hendrik Yonathan yang berada di Waingapu.

Menghadapi peristiwa itu, Baba Sema dan Inge sangat terpukul. Sepasang suami istri pekerja keras dan pantang menyerah itu masih yakin bahwa Tuhan akan menolong mereka untuk kembali bangkit dari keterpurukan itu. Keduanya bangkit dari petaka itu dan kembali menjalankan usanya. Berbekal modal yang masih tersisah, mereka kemudian berkomunikasi dengan jaringan bisnis yang masih mempercayai mereka. Pedagang di Makasar yang sudah lama berhubungan baik memberikan beras, gula, minyak tanah, semen, seng, dan barang-barang lainnya untuk dijual. Mereka kemudian mendapatkan uang dan terus memutar hasil penjualannya hingga dapat membangun kembali Toko Lotus yang terbakar.

Namun demikian, ujian dari Tuhan kembali terjadi. Di tahun itu, kapal dagang mereka yang menjadi alat transportasi laut satu-satunya tenggelam dengan segala segala isinya. Musibah itu terjadi di kala keduanya tengah berjuang keras membangun kembali usaha Toko Lotus yang terbakar. Bukan itu saja, di tahun itu pulah menjadi tahun yang terpahit dalam sejarah perjalanan hidup Baba Sema dan Inge. Ketika Baba Sema sibuk dengan pekerjaanya sebagai kontraktor yang tengah memasuki masa sukses, anak kandungnya Yo Tjiaw Bin yang berusia dua tahun meninggal dunia karena diserang disentri. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, musibah demi musibah silih berganti menimpa keluarga Baba Sema.

Putri kandungnya, Grace Yonathan mengisahkan, menghadapi musibah demi musibah di tahun 1980 itu, membuat ayahnya sangat terpukul dan depresi. Ayahnya kemudian sadar bahwa selama berusaha dan menjadi sukses ia tidak pernah berdoa dan tidak pernah pergi ke gereja. Ayahnya lebih fokus siang dan malam hanya mengurusi pekerjaannya. Prahara demi prahara yang silih berganti itu membuat ayahnya kemudian merenung panjang bahwa harta dunia dapat dicari dengan berbagai cara, tetapi Tuhan tidak boleh dilupakan karena Tuhan lah pemberi rejeki dan kehidupan.

“Ayah sangat terpukul dengan bencana bertubi-tubi itu. Namun, ia kemudian sadar bahwa selama ini ia hanya sibuk bekerja saja tanpa berdoa kepada Tuhan dan mensyukuri kebaikan Tuhan. Pada hari Minggu ayah tidak ke Gereja. Ia memilih pergi berburu di hutan atau berekreasi dengan kawan-kawannya. Kalau rumah terbakar dan kapal tenggelam, ayah tidak terlalu depresi. Namun, ketika adik saya meninggal dunia, dia sangat depresi karena ia sadar ia lebih sibuk kerja dari pada mengurusi anak-anaknya. Waktu itu, adik sakit keras dan sempat dibawa ke dokter tapi sudah tidak bisa ditolong lagi. Seteleh peristiwa itu, ayah kemudian sadar bahwa Tuhan tidak bisa dipermainkan. Ia mulai rajin berdoa dan pergi ke gereja pada hari Minggu.”

Dipuji Bupati Lapoe Moekoe

Baba Sema kembali bangkit dengan hidup dan semangat baru bersama Tuhan. Ia mulai ke gereja dan terus berdoa agar seluruh usahanya berjalan normal, baik toko maupun pekerjaan-pekerjaan proyek infrastruktur dari pemerintah. Berkat hubungan baik dan kepercayaan Pemerintah Sumba Timur, ia tetap mendapatkan pekerjaan – pekerjaan konstruksi. Meski hanya putus SD tetapi ia telah memiliki pengalaman dan kemampuan serta modal dan jaringan. Ia terus berjalan menuju kesuksesan meskipun badai terus menerpa. Ia menganggap semua itu adalah tantangan. Ia tidak menyerah lalu kemudian mati. Dengan bendera CV. Lotus yang ia dirikan bersama Inge Yonathan, ia terus berkibar di Tana Sumba.

Dr. Lapoe Moekoe

Bupati Sumba Timur, Dr. Lapoe Moekoe adalah salah satu saksi hidup yang mengetahui dan berhubungan baik dengan Baba Sema. Dikisahkannya, ia  lahir di Sumba Barat dan bersekolah SD sampai SMP di sana, lalu ke Jawa melanjutkan SMA dan perguruan tinggi hingga umur 30-an tahun. Setelah lulus sekolah, ia masih ikut wajib militer waktu itu. Ia kemudian pulang dan bekerja di Rumah Sakit Waikabubak selama 9 tahun. Karena didukung warga desa dan Partai Golkar untuk menjadi  bupati Sumba Timur, ia kemudian pindah ke Sumba Timur. Saat itu, umurnya 40-an tahun.

Di saat ia menjadi bupati pada tahun 1977-1983, ia mulai mengenal dan berhubungan baik degan Baba Sema. Waktu itu tepat Repelita 1 dimana pembangunan infrastruktur makin meningkat. Pembangunan di Sumba Timur baru dimulai karena ada dana Instruksi Presiden (INPRES) untuk membantu daerah, seperti pra sarana jalan, sekolah dan  rumah sakit. Dana-dana itu dipakai untuk membangun sekolah (SD Inpres), puskesmas-puskemas, serta jalan dan jembatan.

Waktu itu, kisah Lapoe Moekoe, pemerintah masih sangat kekurangan kontraktor untuk mempercepat pembangunan fisik. Salah satu perusahaan yang sudah berpengalaman adalah Lotus yang dipimpin Baba Sema. Dia memiliki dua saudara ipar, satu ke Surabya dan satu ke Belanda. Akhirnya, Baba Sema melanjutkan perusahan yang diberi nama Firma Lotus Bersaudara. Baba Sema menjadi kontraktor utama yang cukup pengalaman dan memiliki modal usaha. Dulu kontraktor hampir tidak ada di Sumba. Kontraktor dari luar pun tidak ada, karena masing-masing daerah membutuhkan kontraktor untuk membangun daerah mereka.

Lapoe Moekoe mengaku mengenal Baba Sema sebagai seorang pekerja yang sangat baik karena hasil kerjanya berkualitas. Ada juga pemborong-pemborong lain yang baru bertumbuh dan baru mulai belajar. Sebagai mitra pemerintah, Baba Sema cukup berjasa untuk kemajuan pembangunan di Sumba Timur. Proyek-proyek infrasturktur yang dia kerjakan dulu terutama jalan. Yaitu jalan negara dari Sumba Timur sampai Sumba Barat. Selain itu juga jalan-jalan di Kabupaten Sumba Timur. Ada juga pekerjan-pekerjaan gedung kantor bupati pertama (lama). Kalau gedung yang baru, dibangun oleh kontraktor dari Kupang karena proyek itu dikerjakan oleh pemborong dari propinsi.

Menghadapi Pemilu pada tahun 1982, datanglah Menteri PU ke Melolo di awal tahun 1982. Waktu itu ia memantau Jembatan Malolo yang dibawa banjir. Setelah Menteri PU pulang, ia langgsung memerintahkan agar jembatan tersebut dibangun kembali. Jembatan itu harus sudah selesai sebelum pemilu digelar. Pekerjaannya dikebut selama 6 bulan dan selesai sebelum pemilu. Panjang jembatan sekitar 100 meter dengan biaya sangat besar. Jembatan Melolo sebenarnya adalah jatah untuk Provinsi Sumatera namun dialihkan ke Sumba. Waktu itu, bandara dan pelabuhan sudah ada. Jadi yang banyak dikerjakan adalah membuka isolasi jalan dan jembatan ke desa-desa.

Dipanggil Djami Rebo Kerja Bengkel PU

Pada tahun 1980, ia dipanggil Ir. Piter Djami Rebo, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Sumba Timur. Djami Rebo meminta Baba Sema membangun bengkel PU dengan rangka besi. Di hadapan Djami Rebo, Baba Sema menolak karena ia belum berpengalaman mengerjakan bengkel PU rangka besi. “Lotus, kau siap kerja bengkel PU rangka besi,” pinta Djami Rebo. “Aduh Pak, saya tidak bisa. Saya belum punya pengalaman,” jawab Baba Sema sang pemimpin Toko Lotus tersebut.

Ir. Piter Djami Rebo,M.Si

Mendengar jawaban Baba Sema, Djami Rebo marah. “Ah, kau bisa. Kau harus coba. Kalau tidak mau, kau tidak akan dapat pekerjaan lagi,” tandas Djami Rebo sembari menunjukan gambar paket proyek bengkel PU tersebut. Ia kemudian menerima pekerjaan bengkel PU, karena proyek tersebut adalah perintah langsung dari Kadis PU. Ia mengerjakan bengkel itu dengan baik sesuai dengan permintaan Djami Rebo. Menurutnya, Djami Rebo telah memberikan motivasi kepadanya supaya terus belajar untuk mencoba demi menghasilkan sebuah pekerjaan yang berkualitas.

Sejak itu, Djami Rebo dan Baba Sema saling mengenal secara baik karena sering bertemu. Pada tahun 1980-an, proyek-proyek pembangunan Repelita telah dimulai. Banyak pembangunan infrastruktur dilakukan di Sumba. Saat itu, kesiapan bidang konstruksi masih terbatas dan Baba Sema melihat peluang itu. Usaha bidang konstruksi yang ia bangun terus menanjak. Ia telah memiliki banyak modal, sehingga dipercayakan pemerintah memegang proyek-proyek infrastruktur. Di situlah, perusahaan yang ia bangun makin bertumbuh menjadi besar. Mulanya ia mengerjakan proyek-proyek kecil seperti bangun jalan, jembatan dan irigasi di Sumba.

Sejalan dengan makin banyaknya proyek-proyek APBN yang banyak masuk ke Sumba melalui Inpres, ia terus melengkapi perusahaannya dengan menambah armada truk untuk kelancaran kerjanya. Awalnya dia hanya mempunyai satu dua armada truk, selanjutnya makin banyak armada truk yang dia beli. Demikian juga investasi untuk alat-alat berat yang lain. Dia juga mulai membeli alat-alat berat untuk pekerjaan jalan Trans Sumba dan kabupaten seperti Loder dan membeli Waser untuk memecahkan batu. Ia mengerjakan jalan Trans Sumba yang dulu masih jalan tanah berbatu-batu menjadi hotmix.

Baba Sema terus berinteraksi dengan Djami Rebo terkait dengan berbagai pekerjaan konstruksi yang ia kerjakan. Djami Rebo terus mendorong Baba Sema untuk memantapkan diri agar memberikan yang terbaik untuk pemerintah dan rakyat dengan mempertahankan kualitas pekerjaan konstruksi. Memang waktu itu ada beberapa rekanan, tetapi apa yang dirasakan ketika menghadapi kondisi darurat, Baba Sema lah yang dimintai PU untuk mengerjakan dahulu, dan anggarannya diganti kemudian. Hal ini karena Dinas PU mempercayai CV. Lotus yang dipimpin Baba Sema. Ia benar-benar menjaga kepercayaan dengan melaksanakan secara baik setiap permintaan pemerintah. Di samping itu, selain menjadi kontraktor, dia juga mengembangkan investasi bisnisnya, seperti membangun SPBU untuk menjual bahan bakar minyak (BBM). Karena sudah memiliki kapal, maka bisnis BBM tersebut berjalan dengan baik.

Menurut Djami Rebo, Baba Sema dipercaya oleh pemerintah karena kepastian waktu dan mutu benar-benar dijaga. Selain itu, ia mempunyai alat suplay bahan yang mendukung karena ia memiliki toko yang menjual material konstruksi, seperti semen, besi, dan lain-lain. Antara usaha toko yang dibangun dan pekerjaan konstruksi saling mendukung dan menghidupkan. Proyek konstruksi yang ia jalankan sekaligus juga menguntungkan tokonya karena karyawan dan buruh pekerjanya. Ketika membutuhkan barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari, para karyawan bisa mengambil atau bon, dan dibayar kemudian. Itulah model bisnis di Sumba, dimana hampir semua pemilik toko juga sekaligus berbisnis konstruksi karena saling menunjang.

Pasa saat itu, usaha-usaha yang besar hanya di sektor konstruksi  dengan anggaran yang sangat besar. Karena telah memiliki AMP, maka pekerjaan-pekerjaan konstruksi yang besar dia kuasai. Saat itulah, Baba Sema mulai investasi.  Selain investasi modal, ia juga menyiapkan anaknya Iwan Yonathan menjadi seorang seorang insinyur teknik konstruksi dan mempunyai keahlian di bidang teknik mesin. Rupanya, ia mempersiapkan Iwan dengan bendera perusahannya PT. Teratai untuk menggantikannya melanjutkan karier dan perjuangannya di bidang jasa konstruksi untuk terus berkarya membangun Sumba.

“Saya ingat betul kala saya bertugas di Sumba Barat sebagai pejabat bupati, waktu itu jalan dari Waingapu sampai Waikabubak kan dipenuhi rumput yang tinggi. Saya lalu panggil Iwan. Bisa tidak kau kasih bersih rumput-rumput sepanjang jalan? Lalu dia modifikasi alat seperti traktor yang dipasang dengan alat potong rumput, dan dalam waktu singkat seluruh ruas jalan dari Waingapu sampai Waikabubak bersih. Sehingga waktu itu, kami memberi apresiasi atas jasa kerjanya. Tentunya, ini tidak terlepas dari didikan orang tuanya. Nah, ketika Iwan Yonathan sudah bisa diandalkan dan bisa mandiri, maka Baba Sema memutuskan untuk istirahat,” kisah Djami Rebo.

Jembatan GKS dan Zending Belanda

Baba Sema dan keluarganya banyak membantu Gereja Kristen Sumba (GKS). Pada tahun 1950-1960-an terjadi konflik antara Indonesia – Belanda mengenai Irian Barat. Pada saat itu, GKS baru mulai berdiri atau baru mulai dibangun. Secara finansial masih lemah alias tidak kuat (mandiri). Sewaktu Lapaoe Moekeo menjadi bupati, GKS sudah melayani  80 jemaat (gereja) cabang di seluruh Pulau Sumba. Karena butuh dana yang sangat besar, maka GKS masih bergantung sama Belanda. Selain gereja, ada dua rumah sakit (Lende Mori dan Lindi Mara) dan sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah SD waktu itu hampir seluruhnya sekolah Kristen dibantu oleh Belanda. Pemerintah baru mulai membangun setelah penyerahan kedaulatan tahun 1949 dari Belanda ke Indonesia.Waktu itu dilakukan dinas pendidikan yang bernaung dibawa Yayasan Persekolahan Masehi. Sementara, sekolah-sekolah pemerintah baru mulai pada tahun 50-an.

Nah, pada waktu putus hubungan Indonesia-Belanda,  misi Zending di Belanda menghentikan bantuan. Lapoe Moekoe merasakan susah waktu itu karena ia sendiri kuliah di Surabaya berkat beasiswanya dari Belanda.  Ia hampir putus sekolah waktu itu. Tetapi karena ia sekolah dokter, maka waktu itu biaya kuliahnya kemudian ditanggung Rumah Sakit Lende Mori.

“Saya dengan seorang teman, namanya dokter Berek Rajda Helu ditanggung oleh rumah sakit Lende Mori. Saya kemudian pulang dan mengabdi di rumah sakit Lende Mori. Saya bekerja 9 tahun di Lende Mori. Nah, pada waktu itu, GKS sumba dan Belanda mencari jalan bagaimana bantuan bisa berjalan. Saat itu, GKS terselematkan karena adanya Firma Lotus Bersaudara. Jadi,  Zending di Belanda mengirim dana ke GKS melalui jasa Toko Firma Lotus. Tentunya, melalui jaringan bisnis yang dibangun waktu itu. Toko Firma Lotus sangat berjasa dalam menyelamatkan GKS waktu itu karena belum bisa berdiri sendiri. Pada waktu saya berhenti masih tetap ada bantuan dari Belanda untuk GKS,” ungkap Lapoe Moekoe.

Waktu penyerahan kedaulatan, tutur Lapoe Moekoe Sumba masih dimpin oleh seorang kepala daerah Sumba. Belanda membagi NTT dalam tiga daerah, yaitu Kepala Daerah Timor, Kepala Daerah Flores dan Kepala Daerah Sumba. Kepala Daerah Sumba waktu itu adalah Umbu Tipuk Marisi yang berkuasa pada tahun 1948-1960. Ia memimpin sangat lama karena waktu itu tahun 58 baru dikeluarkan daerah otonom. Penyerahan masih dalam sistem Belanda dibawa pimpinan asisten residen Sumba. Dahulu belum ada DPR. Yang ada hanya  perwakilan raja-raja.

Setelah penyerahan (setelah ada undang-undang baru), Pulau Sumba kemudian dibagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat. Bupati pertama Sumba Timur adalah Dapawole. Ia berkuasa dari tahun 1960-1971. Setelah itu, Dapawole diganti bupati kedua, yaitu Umbu Hamburu kapitan yang memimpin Sumba Timur pada tahun 1971-1977. Dan Lapoe Moekoe menjadi bupati Sumba Timur yang ketiga dari tahun 1977-1983. Bupati berikutnya`adalah seorang tentara yang bernama Sway. Sejak menjadi kontraktor, menurut Lapoe Moekoe, Baba Sema sangat berhubungan baik dengan pemerintah, masyarakat dan gereja.

Pendeta David Umbu Dingu

Mantan Ketua Sinode GKS Sumba, Pendeta David Umbu Dingu, mengaku mengenal Baba Sema sejak bertugas di Sinode pada tahun 1984. Dalam rapat-rapat seringkali nama Baba sema disebut karena ada banyak jasa yang sangat berkaitan dengan usaha pekabaran injil termasuk juga perkembangan gereja. Ketika ia bekerja di sinode ia langsung mengenal Baba Sema sebagai seorang yang sangat sederhana. Baba Sema juga adalah orang yang sangat respek terhadap masalah gereja, dan orang Kristen yang setia di gereja dan mudah diajak berbicara. Ia mempunyai keprihatinan yang besar terhadap perkembangan gereja.

Menurut Umbu Dingu, dalam beberapa kali bertugas ke Belanda sebagai Sekretaris Umum (Sekum) GKS, ia mendengar nama Baba Sema dan Lho Liang Kiem (pendiri Toko Lotus) sering disebut-sebut dalam rapat. Hal itu semakin memperkuat pengetahuannya tentang Baba Sema dan Lho Liang Kiem. Dimana, ada beberapa hal termasuk peran Baba Sema dan mertuanya dalam pekabaran injil dan perkembangan gereja. Rupanya, Baba Sema adalah orang kunci di Toko Lotus yang melanjutkan karya misi gereja yang telah ditoreh oleh mertunya (Lho Liang Kiem,-red) sejak GKS mengalami kesulitan karena terputusnya komunikasi dengan Belanda. Bahkan bukan itu saja, tetapi sudah sejak tahun 1881 ketika injil masuk di Sumba Timur.

Diungkapkan Umbu Dingu, tokoh pertama yang menjadi GKS 1 Van Alpen pada tahun 1881-1886. Sementara itu, yang memprakarsai pembangunan Gedung Pastori adalah Pendeta Wilenga. Dia membuka di Malolo dengan pendekatan budaya dan komunikasi baik dengan raja-raja. Bahan-bahan bangunan yang disiapkan oleh Lho Liang Kiem (Menantu Baba Sema) yang sudah memiliki truk dan kapal laut. Dahulu agen Zending masuk ke Waingapu dan kemudian menyebar ke seluruh Sumba melalui daerah pesisir. Para agen Zending bergerak mulai dari Malolo-Waingapu terus ke Mamboro-Keruni dan Kodi lalu ke seluruh Sumba melalui pesisir pantai sebagai basis-basis pekabaran injil.

Dari daerah tengah, mereka mulai masuk meneorobos ke daerah-daerah pedalaman. Mereka tahu di dalam perebutan antar raja, perebutan kekuasaan antar wilayah itu menjadi masalah tantangan terberat. Kemudian mereka mendirikan beberapa sekolah menjadi media untuk pekabaran inji. Jadi tidak langsung mereka mendirikan gereja karena orang tidak tahu menulis dan membaca.  Injil bertumbuh dari sekolah, jadi sekolah didirikan lebih dahulu. Sekolah di Mamboro sekitar tahun 1900 dan kemudian Karuni, Kambaniru dan seterusnya. Selain orang Sumba, Zending juga memakai orang-orang Sabu dan Rote untuk membuka gereja di Kambaniru. Bukan orang Sumba asli saja. Orang-orang Sabu begitu banyak dipakai oleh Zending. Mereka bekerja sama dengan agen Zending. Merekalah yang lebih dahulu disiapkan menjadi tenaga-tenaga guru, termasuk perawat-perawat di rumah sakit.

Diuraikan Umbu Dingu, ketika perinjil masuk di Sumba Timur sejak tahun 1881. Saat itu Misi Zending mengalami banyak kesulitan, seperti masalah komunikasi, bahasa dan budaya. Dalam sejarah GKS dibagi dalam tiga periode, yaitu (1) Periode pertama sejak Injil masuk ke Sumba pada tahun 1881-1908 yang dinamakan periode Perintisan. 2) Periode kedua pada tahun 1908-1947 yang dinamakan periode Peletakan Dasar, dan (3) periode ketiga pada tahun 1947 sampai saat ini dinamakan Periode Kemandirian.

Pada periode pertama, Injil yang diberitakan oleh utusan dari Belanda masih terbatas pada posisi pinggiran atau posisi Sumba-Malolo-Waingapu-Nambrara-Karuni-Kodi. Tantangan yang dihadapi waktu itu adalah masalah komunikasi atau bahasa, masalah adat budaya Sumba, dan kesulitan tempat tinggal. Solusi dan strategi yang dilakukan, yaitu membangun sekolah, mempelajari budaya, mendirikan tempat penginapan, pendekatan kepada raja-raja setempat, menerjemahkan injil (alkitab) ke dalam bahasa Sumba atau Bahasa Indonesia (Melayu).

Pada periode kedua, gereja melakukan strategi antara lain: membangun sekolah di tempat tertentu, menerjemahkan alkitab dalam teks bahasa Sumba, membantu pos kesehatan (biasanya Pastori dijadikan pula pos kesehatan), membangun geraja dan pastori, dan mendirikan rumah sakit.

Selain itu, mendirikan TOS (Teologisch Opliding School) dan menyiapkan tenaga pelayan pendeta, mendirikan sekolah pertukangan, mendirikan sekolah keterampilan putri, mendirikan sekolah pertanian, membangun balai pengobatan di wilayah-wolayah tertentu. Periode ini GKS berdiri sendiri pada tahun 1947. Namun, ketergantungan pada belanda tetap masih tinggi. Pendeta dan pengurus GKS masih dibantu.

Pada periode kedua itu, Zending Gereformeende Kerchen in Nederland (GKN) memanfaatkan jasa bapak Lo Liang Kiem ( Menantu Samuel Yonathan) sebagai penyalur logistik bagi kepentingan usaha gereja di Sumba. Logistik tersebut antara lain, bahan kebutuhan zending, seperti makanan, obat – obatan, pakain, bahan bangunan untuk rumah pastori zending, rumah sakit, tempat ibadah, dan sekolah-sekolah. Kebutuhan lainnya adalah surat-menyurat. Lho Liang Kiem mempunyai jasa besar karena waktu itu hanya ia yang memiliki kapal laut. Waktu itu belum ada jasa transportasi udara, kecuali kapal laut. Di kala itu, di Sumba tidak ada bank, tidak ada Kantor Pos dan tidak ada Kantor Telkom. Dalam situasi ini, peran Lho Liang Kiem sangat menentukan bagi kelancaran pelayanan gereja-geraja di Sumba. Tuhan memakai jasa Lho Liang Kiem untuk memfasilitasi kebutuhan bagi GKS.

Pada periode ketiga, jasa Lho Liang Kiem dilanjutkan oleh anak menantunya Samuel Jonatan (Baba Sema). Walau saat itu sudah ada Kantor Pos, Bank dan Telkom, tetapi di saat-saat tertentu Baba Sema tetap membantu GKS bila mengalami kesulitan. Baba Sema membantu pembangunan gedung gereja, seperti seng, semen, dan besi beton. Selain itu juga ia membangun Sekolah dan Rumah Sakit Linda Mara dan Lende Moripa dengan jasa kapalnya yang menggangkut kayu-kayu dari Kalimantan ke Waingapu. Bukan itu saja, ia juga membangun Gedung STT Lewa serta aula dan asrama  yang dilengkapi dengan meja, kursi dan tempat tidur.

Baba Sema dipercayakan oleh Belanda sebagai jembatan Zending sejak Lho Liang Kiem meninggalkan Waingapu pada tahun 1965. Ketika GKS belum ada uang, Baba sema mengeluarkan uangnya untuk operasional gereja dan pendeta, yang kemudian diganti oleh Belanda. Mereka menjadi besar karena mendapat berkat dari Tuhan karena jasa baik yang ditanamkan. Kalau diminta bantuan mungkin dia paling banyak, namun ia tak mau apa yang diberikan diketahui orang lain. Setelah Baba Sema makin uzur, anaknya Iwan Yonathan yang melanjutkan. Iwan pun sama. Dia turut berberan dalam pembangunan GKS dan menjadi Bendahara Umum Pembangunan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Waingapu yang saat ini menjadi Universitas.

“Terakhir saya ketemu Baba Sema untuk membangun Aula dan Asrama STT Lewa karena ada dana dari Belanda. Dana itu tidak cukup, tetapi Baba Sema mengeluarkan uang pribadinya dan membangunnya dengan sangat lengkap. Bagi kami, Lho Liang Kiem dan Baba Sema adalah dua figur yang hidupnya tidak semata-mata untuk mencari keuntungan bagi keluarganya, tetapi telah mendedikasikan hidupnya bagi gereja dan warga Sumba. Gereja di Belanda sangat berterima kasih kepada Lho Liang Kiem dan Baba Sema yang telah berjasa besar dalam pembangunan dan perkembangan GKS Sumba. Saya 7 kali ke belanda, dan nama beliau sering kali disebut dalam rapat. Karena sebagai satu-satunya tenaga pengentara Zending Belanda dan GKS Sumba. Saya sebut Tuhan pakai mereka sebagai alat untuk perkembangan gereja Sumba. GKS ini pusatnya di Waingapu dan cabangnya di seluruh Sumba. Dan dulu bergerak dari nol sampai sekarang telah berkembang menjadi gereja mandiri. Itulah yang selalu saya dengar.’

Untuk Diketahui, Umbu Dingu lahir dari orang tua penganut Merapu. Ia lahir pada tahun 1948 dan baru dibabtis pada tahun 1967. Ia mendapatkan Kasasi di Waingapu oleh Pendeta Niko He dan Yiwa Ratu. Pada tahun 1969 setelah lulus, ia masuk sekolah Teologi di Makasar. Ia hampir saja tidak sekolah teologi karena kedua orang tuanya sama sekali tidak mendukung. Ia bahkan nyaris di sumpah karena melawan orang tuanya. Namun, ia berkeras hati dan akhirnya tetap berangkat ke Makasar untuk mengenyam pendidikan teologi Kristen.  Setelah tamat, ia kembali ke Sumba menjadi pendeta. Ia diberi tugas oleh Sinode di Waibakul dan kemudian di Langgaliru dekat Lewa. Setelah itu ia dipanggil  menjadi Pendeta di kampungnya Anakalang. Ia menghadapi tantangan berat yaitu orang tuanya sendiri yang masih menganut Marapu. Namun, ia akhirnya mengkristenkan kedua orang tuanya. Setelah 10 tahun menjadi pendeta ia berhasil membabtis kedua orang tuanya karena roh Tuhan sudah bekerja.

Ia menjadi pendeta sejak tahun 1976-1998. Ia kemudian terpilih menjadi Sekretaris Umum (Sekum) GKS dalam Sidang Sinode GKS. Pada tahun 1999, ia menjadi pendeta di Waibakul, dan Sidang Sinode GKS memilihnya kembali  menjadi Sekum karena pejabat sebelumnya dinilai gagal dan Belanda menghentikan bantuan. Dengan Sidang Sinode tahun 2006, berubahlah struktur Sinode GKS yang baru, dimana Sekum menjadi Ketua dan Ketua menjadi pekerja full time di kantor sinode. Saat itu, ia didaulat menjadi Ketua Sinode GKS. Ketua menjadi penanggunjawab utama dan tugas-tugas GKS ia laksanakan hingga masa pension pada tahun 2008. Namun, oleh GKS, seluruh pendeta meminta masa jabatan diperpanjang sampai 2010. Tugas beratnya, yaitu menyelenggarakan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) di Waingapu yang bertepatan dengan 50 tahun gereja Kristen. Waktu itu seluruh Kristen di Indonesia hadir di Waingapu untuk mengikuti sidang MPL. Menyambut itu, ia kemudian mendirikan Gedung MPL di Payeti. Selain itu, satu hal yang juga ia lakukan adalah mendirikan Sekolah Tinggi ilmu ekonomi (STIE) dimana Baba Sema dan putranya Iwan Yonathan menjadi salah satu pihak penyokong dana.

Pendeta Yuliana

Menurut Pendeta Yuliana, Ketua GKS Sumba, keluarga Baba Sema orang-orang  yang sangat peduli terhadap kehiduapn masyarakat, terutama dalam kehidupan bergereja. Di saat GKS dalam kesulitan, Baba Semalah yang menjembatani dan menolong para Zending. Infomasi itu, ia dengar dari Pendeta Wem Van Telinger orang sending, dan Pendeta Van Rei seorang yang ditugaskan Zending untuk melayani pelayanan di GKS. Demikian juga Pendeta Olde, pendeta zending yang ditempatkan di GKS dan masih beberapa lagi.

Dari pengakuan pendeta-pendeta itu menyebutkan, Baba Sema adalah orang yang peduli ketika GKS yang dalam kondisi kesulitan pangan, ketika umat hanya makan bulgur. Waktu itu, Bapa Sema lah yang menolong mereka. Baba Sema dan keluarganya juga banyak memberikan bantuan dalam pelayanan geraja GKS. Dia bukan memberi material, tapi juga jiwa dan raganya. Menurut orang-orang GKS, Baba Sema dijuliki “GKS Benget.”Diakuinya, Mantan Ketua Sinode, Pdt David Umbu Dingu, berpesan kepadanya agar tidak melupakan Baba Sema karena telah membantu membangun Pusdiklat/ STT Lewa dengan biaya yang cukup besar. Selain itu, Baba Sema dengan keluarganya telah banyak berjasa dalam pembangunan Sumba di bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan dan keagamaan. Baba Sema baginya adalah sosok pekerja keras yang pantang menyerah, rendah hati dan tidak sombong.

‘Yuli kau jangan lupa itu Bapa Sema. Di saat kami mendirikan Pusat Pembinaan Pelatihan di Lewa kami menghadapi kesulitan. Ketika itu semua orang meragukan pembangunan itu. Di suatu sore Bapa Sema datang kepada saya mendukung saya. Dia bilang, Umbu bangun ini Pusdiklat, karena dari sini akan lahir kader-kader GKS nanti. Akhirnya pembangunan pusdiklat pun berjalan dan berhasil. Sekarang sudah menjadi STT Lewa. Kami sangat mengidolakan Baba Sema sekeluarga. Dia juga orang yang kritis. Jika kami pendeta kotbah, dia sangat mendengarkan dan mengertik kalau kami ada kekeliruan,’ kata Yuli mengutip pesan Umbu Dingu.

Selain Baba Sama, Pendeta Yuli juga sangat kenal dekat dengan Inge Yonathan. Menurutnya, Baba Sema dan Mama Inge sangat menopang para pendeta dalam membangun GKS. Mama Inge adalah sosok seorang pengusaha pekerja keras. Buah karyanya sudah banyak dirasakan rakyat Sumba saat ini. Di jaman kendaraan masih susah, bahan bakar masih susah, mereka sudah membantu dengan cara mereka melalui perdagangan kebutuhan pokok. (Penulis: korneliusmoanita/sft)

To Top