Opini

Kotak Pandora Wisata Halal Labuan Bajo

Oleh: Drs. GF. Didinong Say*

Gagasan penerapan wisata halal oleh petugas Badan Otoritas Pariwisata (BOP) Labuhan Bajo Flores NTT belum lama ini telah menimbulkan reaksi resistensial dari berbagai kalangan dan publik NTT termasuk Gubernur NTT dan Pimpinan Gereja Katolik di Manggarai, Flores, NTT. 

Penolakan masyarakat NTT terhadap penerapan wisata halal Labuhan Bajo ditengarahi memiliki beberapa dasar dan alasan. Di antaranya :  Kekhawatiran ataupun kecurigaan terhadap ‘hidden agenda’ dari oknum petugas BOP yang berdasarkan jejak digital diduga aktivis atau simpatisan kelompok intoleran 212.  Polarisasi sosial politik Indonesia beberapa tahun terakhir ini nampaknya menimbulkan sensivitas dan sikap reaktif publik NTT terhadap berbagai isu primordial.

Kehidupan masyarakat NTT yang selama ini diwarnai oleh nilai dan praktik toleransi sempat terganggu oleh wacana eksperimental pihak BOP Labuhan Bajo terkait wisata halal. Wacana itu dianggap tidak peka terhadap kehidupan sosial dan budaya serta norma dan nilai anutan masyarakat destinasi pariwisata di NTT.

Momentum resistensi ide wisata halal Labuhan Bajo, sesungguhnya dapat menjadi  pembuka kotak Pandora paradigma SDM di NTT.  Selama ini entah merupakan sebuah design atau tidak, wilayah NTT menjadi semacam tempat pembuangan pegawai atau pejabat bermasalah dari wilayah lain. 
Kupang ibukota Provinsi NTT  dan beberapa ibu kota kabupaten di NTT  saat ini di sektor usaha tertentu dikuasai oleh pengusaha ‘pendatang.’ 

Sekitar 1 minggu masa sebelum dan sesudah perayaan Lebaran, kota kota tersebut seperti kehilangan aktivitas  di sektor informal karena pelaku usaha sedang mudik ke kampung halamannya. Kemudahan perijinan serta akses perbankan  yang bisa diduga diskriminatif menyebabkan di satu sisi usaha para pendatang semakin marak, di sisi lain mematikan usaha  warga setempat.  Perlu ditelusuri siapa oknum pemberi ijin atau pemberi kredit tersebut. 

Persoalan korupsi adalah momok klasik bagi percepatan pembangunan di NTT.  Selama aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, auditor, dll) di NTT masih ditempati oleh pejabat / pegawai ‘buangan’ bermental korup dari luar NTT, maka pemberantasan korupsi  akan tetap lemah. Korupsi seakan ‘dibiarkan’ terus hidup dan membudaya. Bukan saja untuk menghidupi life style berbiaya tinggi para pejabat buangan tetapi sekaligus juga  untuk mengkerdilkan martabat dan kesejahteraan orang NTT. 

Patut disesalkan peran representasi NTT di Senayan dalam komisi III DPR RI. Mereka sesungguhnya mampu me – lobby mitra kerjanya agar manajemen personalia dan penegakan hukum di NTT dapat memberikan prioritas bagi  kearifan lokal serta sdm NTT…Namun rupanya hal ini tidak cukup maksimal diupayakan. 

Dunia pendidikan di NTT juga mengalami stagnasi bahkan degradasi.  Rata rata nilai kelulusan pendidikan dasar dan menengah dan atas di NTT secara nasional termasuk paling rendah. Kualitas perguruan tinggi di NTT  juga masih di bawah standar. Dengan  kondisi sumber daya alam terbatas, minimnya investasi dan lapangan pekerjaan, maka yang terjadi adalah ekspor tenaga kerja low skill dan human trafficking sebagai ekses.

Contoh paradigma SDM NTT di atas  menunjukkan salib  maha berat bagi siapapun pemimpin di NTT. Para pembuat dan penentu kebijakan di NTT yang dipilih untuk bekerja selama 5 tahun tentu tidak bisa menyelesaikan berbagai persoalan serta merta. 5 tahun adalah waktu yang singkat bagi upaya peningkatan kualitas sdm. Namun paling tidak komitmen investasi sdm serta arah dan tujuan dapat tegas digariskan  dari sekarang. 

Maka resistensi  terhadap wisata halal Labuhan Bajo janganlah sekedar reaktif tetapi kreatif! Publik tidak perlu terjebak dalam isu kasuistik atau digiring ke dalam interest kontemporer. Isu paling mendasar adalah pemuliaan sdm NTT sebagai  tuan rumah yang bermartabat dan sejahtera di wilayahnya sendiri. Jokowi bertekad fokus membangun SDM Indonesia 5 tahun ke depan. Kebijakan  ini harus dapat ditindaklanjuti NTT untuk investasi kualitas sdm generasi penerus NTT untuk menjadi tuan rumah yang bermartabat dan sejahtera di wilayahnya sendiri.

*Penulis: Pemerhati Masalah Sosial Budaya NTT, Tinggal di Jakarta

To Top