Tamu Kita

Lomba Foto Bawah Laut, Cara Frans Seda Promosi Bandara Wai Oti

Suara Flores
Heribertu Ajo

MAUMERE, SUARAFLORES.NET–Sejarah perkembangan Bandara Frans Seda, Maumere, Flores, dimulai dari zaman Jepang. Ada 2 bandara yang dibuat Jepang yaitu Bandara Tanjung Darat dan Bandara Wai Oti. Sesudah Indonesia merdeka, rakyat Sikka dan tokoh-tokoh masyarakat memilih Wai Oti untuk dijadikan bandara yang dahulu disebut Penerbangan Sipil. Hal ini disampaikan salah satu tokoh pariwisata Flores, Heribertus Ajo kepada SuaraFlres.Net, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, seorang Frans Seda yang pada waktu itu sebagai Menteri Perhubungan RI, memang membuat kebijakan untuk seluruh Flores dan seluruh Indonesia terutama  bagian timur termasuk Kalimantan. Tujuannya agar dibangun airpot perintis untuk memudahkan komunikasi via transportasi udara. Sebab Indonesia dimasa itu perlu mempererat kesatuan rasa sebagai NKRI. Secara khusus, Frans Seda ikut memperhatikan perkembangan Air Port Wai Oti itu agar mempunyai putra putri lokal yang handal untuk mengoperasikan bandara.

Selain itu, setiap kali beliau datang pasti mengecek segala fasilitas di dalamnya termasuk kebersihan toilet. Frans Seda ikut membantu agar Departement Perhubungan RI memperhatikan peningkatan status Pensip Wai Oti melalui berbagai cara. Sampai dengan akhir tahun 80 an, Frans Seda menemukan cara untuk mempromosikan Flores sambil meningkatkan status bandara. Dibuatlah lomba fotografi bawah laut international dengan menghadirkan peserta dari seluruh dunia. Untuk itu, Frans Seda meminta agar Merpati Nusantara Airlines mau terbang dengan Foker 27 ke Maumere.

Baca juga: Frans Seda Tokoh Tiga Zaman dan Bandara Tertua di Flores

Permintaan Merpati ini sebagai jaminan kehadiran peserta lomba foto tersebut yang akan menjadi pemicu beralihnya status dari bandara perintis menjadi bandara komersil. Pada awalnya, manajemen Merpati masih ragu namun beliau memastikan bahwa kekuatan runway yang dibangun oleh Jepang itu sangat kuat. Terkait penumpang bagi Frans Seda tidak masalah.

“Soal tidak ada penumpang bukan sebuah masalah besar. Kepada Dirut Merpati, Frans Seda katakan secara bercanda bahwa seorang pengusaha itu awalnya bangun kios dulu, lama kelamaan jadi toko besar. Begitupun pesawat harus terbang dulu, buka rutenya lalu masyarakat tahu. Pasti ada penumpang, tidak hanya turis saja” kata orang kepercayaan Frans Seda ini mengulang pernyataan Frans Seda kala itu.

Selanjutnya, tambah Hery Ajo, bandara terus berkembang. Bouraq dan Pelita sampai mendatangkan foker 28 yang bermesin jet. Semua ini tidak lepas dengan sebuah strategi lomba foto bawah laut international itu dimana animo turis yang datang ke Flores meningkat pesat. Sekarang tinggal melanjutkan visi besar itu.

Disaat saat akhir masa hidupnya beliau sering katakan agar bandara Wai Oti Maumere harus meningkatkan sarana dan pelayanannya terutama toilet yang bersih, orang yang ramah dan pintar, serta run way yang panjang dan kuat. Beliau bahkan mendorong bupati waktu itu untuk segera membebaskan tanah disekitar guna perpanjangan run way.

“Satu impian beliau adalah agar Bandara Wai Oti menjadi bandara alternatif international dengan fasilitas prima. Saya bahkan diminta oleh beliau untuk menjajaki kerjasama dengan Air North milik Pemerintah Northern Territory Australia yang ada di Darwin. Saya pernah lakukan itu di zaman Bupati Alex Longginus namun belum terealisasi karena berbagai hal menyangkut syarat-syarat kerjasamanya” ungkap pengelolah Sao Wisata Hotel Maumere ini.

Menurutnya, Almarhum Frans Seda tidak membantu material secara individu tetapi beliau lebih pada memberi motivasi untuk berkreasi dan beliau akan bantu berbicara dengan menteri atau yang berhubungan dengan pekerjaan. Bagi beliau, melihat orang-orang di bandara dan pemerintahannya aktif berkreasi adalah kebanggaan. Tentu saja, beliau membantu melancarkan, antara lain mengalokasikan anggaran yang lebih memadai untuk Wai Oti dan penambahan Instrumen Landing Sistem.

Dia mengatakan bahwa saat ini gedung dan fasilitas run way sedang dalam pengembangan. Masih banyak yang harus ditingkatkan seperti frekwensi penerbangan yang belum banyak. Perlu peningkatan kualitas layanan kebersihan serta penanganan penumpang di airpot yang ramah dan baik. Semua itu masih perlu diperjuangkan untuk kualitas yang lebih baik. (Aloysius Yanlali/doc.sf).

To Top