Potret

Mama Sia dan Mama Cua Di Gubuk Tua

Suara Flores
Pondok Tua, Mama Sia dan Mama Cua di Kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT

SUARAFLORES.NET — Mama Sia kelahiran 1950 dan Mama Cua kelahiran 1952, dua bersaudara kandung tinggal di kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang, Kota Maumere. Mama Sia menikah dan dikarunia seorang anak. Suami dan anaknya telah lama dipanggil YMK. Sekarang ia tinggal bersama Mama Cua yang hidup membujang atau tidak menikah. Mereka tinggal di sebuah gubuk atau rumah panggung yang sudah reot, dibangun puluhan tahun lalu. Pondok tua ini berukuran 5×7, berdinding halar, berlantai bambu dan beratap daun.

Sejak lama mereka berdomisili pada rumah pondok peninggalan suami Mama Sia itu. Sejak ditinggal pergi sang suami dan buah hatinya, Mama Sia dan Mama Cua mengadu nasib sendirian. Agar bisa bertahan hidup, mereka mencari jalan dengan berjualan ayaman dari daun kelapa.

Ini menjadi satu-satunya usaha yang mereka jalani selama ini. Anyaman ini pun dijual kepada warga yang membutuhkan. Kadang dibeli warga sekitar, kadang juga dibeli oleh para pengelolah café di Maumere untuk dijadikan atap pondok atau pun rumah. Selembar anyaman daun kelapa ini dijual dengan harga lima ribu rupiah.

Namun usaha ini tidak berjalan lancar. Selain usia yang sudah tua, mereka juga harus membeli daun kelapa dari warga di Kelurahan Wailiti. Mereka lakukan sendiri. Kadang-kadang dibantu warga untuk mengantar daun kelapa dari Wailiti ke kediaman mereka di kampung Wuring.

Makan minum seadanya. Kadang makan nasi, kadang tidak. Sesekali dibantu oleh keluarga dan warga sekitar, memberikan makan dan minuman. Hal itu tidak berlangsung setiap hari.

Baca juga: Pasang Lampu Jalan, Bupati Robi Jawab Keluhan Warga Misir Barat

Baca juga: Di Sikka, Remaja Masjid Al-Hidayah Tahtakan Patung Bunda Maria

Melihat kondisi Mama Sia dan Mama Cua ini, Ketua Umum Remaja Masjid Ar-Rahmad Wuring, Ali Akbar bersama warga tergerak hati untuk berbagi kebahagiaan. Ia pun mengajak warga dan membentuk panitia pencarian dana (6/1/19). Tujuannya untuk membangunkan sebuah rumah yang layak huni.

Kini, Ali Akbar yang juga salah seorang Ketua RT itu, sedang menyusun proposal. Menurut Ali, proposal tersebut akan disebarkan kepada warga sekitar dan kepada pihak-pihak yang memiliki kepedulian.

“Rencana panitia akan merehap jadi setengah tembok. Panitia sedang rancang proposal untuk pencarian dana. Proposal ini akan diedar ke warga sekitar dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap warga yang berkekurangan (miskin,red),” ujar Ali kepada SuaraFlores.Net (5/1/2019).

Akan tetapi, rencana Ali Akbar bersama panitia ini ditolak oleh keluarga Mama Sia dan Mama Cua. Kepada SuaraFlores.Net, Aryani, salah satu keluarga membeberkan alasan penolakan rencana Ketua Umum Remaja Masjid itu. Bahwa mereka hanya menerima bantuan dari pemerintah. Walaupun hidup susah, mereka tidak ingin menerima bantuan dari warga sekitar.    

“Kami malu kalau rencananya seperti ini. Biarkan saja Mama Sia dan Mama Cua hidup dalam kondisi seperti ini. Kami bisa bantu sedikit-sedikit,” ujar Aryani yang saat itu menemani kedua orang tua ini untuk berbagi cerita kepada SuaraFlores.Net.

Baca juga: Bung Karno di Sumba, Kesaksian Anggota Koor Lagu Indonesia Raya

Baca juga: Gubernur NTT: Kalau ke depan NTT masih miskin, kita semua ini tolol

Ali Akbar menerima usul saran dari keluarga Mama Sia dan Mama Cua. Ali dan panitia menghargai kejujuran hati keluarga ini. Kini, ia sedang berupaya cara lain agar dapat memberikan sebuah rumah layak huni bagi kedua orang tua tersebut.  

Menurut Ali, Mama Sia dan Mama Cua hidup serba kekurangan. Sehari makan nasi hanya sekali di pagi hari. Siang dan malam, mereka makan ubi kukus (Kasuami, makanan khas orang Wuring). Ubi Kukus dibeli dari hasil penjualan ayaman daun kelapa seharga lima ribu rupiah.

“Mereka membeli ubi kukus 1 buah 5 ribu rupiah. Saya ajak warga untuk membantu mereka. Kami sudah bentuk panitia sebanyak 12 orang. Panitia terhimpun dari warga sekitar yang merupakan anggota Remaja Masjid Wuring. Jadi bagaimanapun juga, kami tetap berusaha agar mereka segera dibantu. Sudah lama, rencana kami tapi gagal. Pernah usul ke pemerintah tapi belum diakomodir,” kisahnya.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo dalam beberapa kesempatan berkomitmen untuk menyelamatkan orang-orang yang berkekurangan. Ia bertekad agar warga-warga yang berkurangan (miskin) dapat dibantu selama ia memimpin Kabupaten Sikka. (ness/sfn02).

To Top