Budpar

Merawat Wair Batik, Pemerintah Desa Koting C Kerja Bakti

Suara Flores
Masyarakat dan Pelaku Pariwisata tengah mengangkat Sampah-sampah plastik dari kali Wair Batik

MAUMERE, SUARAFLORES.NET – Pemerintah Desa Koting C melaksanakan kerja bakti di area mata air Wair Batik dalam rangka Bulan Bakti Gotong Royong 2018 tingkat Desa Koting C, (17/11/2018). Kegiatan kerja bakti ini melibatkan sejumlah pelaku pariwisata, antara lain Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) serta ratusan masyarakat desa setempat.

Kepala Desa Koting C, Yulius Yulianus dalam sambutannya, mengajak semua pihak untuk menjaga dan merawat sumber mata air Wair Batik yang berada di tiga desa yakni Desa Koting C, Desa Iligai dan Desa Lela. Bahwa Wair Batik memiliki kontribusi besar bagi keberlangsung hidup banyak orang, sehingga semua pihak  wajib menjaga, merawat dan melestarikannya.

Yulianus mengatakan, dalam kegiatan Kerja Bakti ini, pemerintah desa sengaja mengundang para pelaku pariwisata untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat desa, bahwa wilayah mata air Wair Batik menjadi perhatian para pecinta alam. Wilayah tersebut, kata dia, semakin ramai dikunjungi para pihak setiap waktu, karena keunikannya batu-batu alam dan kesejukan udaranya.

“Mari kita bergotong-royong menjaga dan merawat mata air ini. Ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua, tanpa harus mendapat perintah dari siapapun. Merawat mata air ini, sama seperti merawat diri kita,” harapnya.

Yannes, warga Desa Iligai yang turut hadir dalam kesempatan itu menjelaskan, Wair Batik telah hadir puluhan tahun yang lalu, dan menghidupi ribuan orang di Kabupaten Sikka. Mata air ini dapat hidup (mengalir di permukaan) hingga saat ini, tidak luput dari kerja keras pemerintah dari Bupati L. Say yang dilanjutkan oleh Bupati Daniel Woda Pale melalui Program Lamtoronisasi.

Baca juga: Jembatan Liliba Dikabarkan “Goyang,” Dinas PU NTT: Jembatan Aman

Baca juga: Kristo Blasin Inspirasi Orang Muda Adonara

Melalui program ini, lanjut Yannes, Wair Batik yang dulu mengalir di dalam tanah, kini bertahan di permukaan dan telah menjadi sumber hidup ribuan masyarakat, antara lain di Kecamatan Lela, Kecamatan Koting, Kecamatan Nele dan  masyarakat Desa Watu Gong, Kecamatan Kangae. Karena itu, ia menghimbau kepada semua pihak untuk bergotong-royong, merawat dan melestarikan mata air Wair Batik dengan tidak menebang pohon, membakar hutan secara liar atau perusakan hutan dengan cara lainnya seperti menyulap kenari menjadi gaharu.

“Keberlangsung hidup sebuah mata air didukung oleh banyaknya pohon yang tumbuh  dan ditanam dari tahun ke tahun. Bukan hanya pohon-pohon di sekitar mata air, tapi di wilayah pegunungan, seperti Gunung Iligai dan Gunung Kimang Buleng. Saya mengajak kita semua untuk tidak menebang pohon. Teruslah  menanam dan merawatnya. Setelah tanam, kita jangan tebang, jangan bakar ,” harapnya melalui kesempatan sambutannya.

Suara Flores

Arnold Lakawelin selaku pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, mengajak masyarakat untuk merawat wilayah Wair Batik sebagai lokasi wisata yang tengah mendapat perhatian dari banyak pihak. Ia berharap agar warga yang datang ke mata air, tidak merusak tanaman atau pohon-pohon, tidak membakar sampah-sampah yang ada, tetapi menyimpan pada tempat yang tepat atau membuang pada tempat yang telah disediakan oleh Pemerintah Desa Koting C.

“Saya beri apresiasi yang tinggi kepada pemerintah desa yang memiliki perhatian cukup serius terhadap pengelolaan salah satu potensi pariwisata di Kabupaten Sikka. Kita perlu rutin duduk bersama semua pelaku pariwisata di daerah,” ujarnya.

Baca juga: Markus Alibransi Aktivis Politik yang Pantang Menyerah

Baca juga: Frans Salem Terus Berbakti bagi NTT Selama Jantung masih Berdetak

Pastor Paroki Koting, Romo, Ferrer Mere yang juga hadir dalam kesempatan itu, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi perhatian yang serius terhadap pengelolaan daerah tersebut.

Romo Ferrer menjelaskan, pariwisata bagian dari kehidupan umat manusia. Pariwisata memiliki kontribusi besar bagi keberlangsung hidup manusia. Dan Wair Batik menjadi salah satu daerah yang menghidupi ribuan umat, baik melalui mata air Wair Batik maupun keunikan alamnya.

Baginya, manusia dan alam menjadi satu kesatuan dalam kehidupan. Manusia-manusia yang mencintai alamnya, ia hidup harmonis dengan lingkungan sekitar. Keharmonisan ini harus mampu dijaga dan dirawat oleh manusia agar hidup bahagia dan sejahtera. Sesungguhnya, potensi wisata alam Wair Batik memberi jaminan bagi kesejahteraan banyak orang, jika dikelola dengan manajemen alam yang harmonis.

“Mari kita hidup harmonis selaras dengan Wair Batik. Mari jaga, rawat dan lestarikan lingkungan ini untuk kita dan anak cucu di waktu yang akan datang,” ajaknya.

Untuk diketahui, pelaksanaan kegiatan kerja bakti ini diawali dengan misa syukur yang dipimpin Pastor Paroki Koting, Romo Ferer Mere. Usai misa, masyarakat dan para pelaku wisata memungut sampah di sekitar mata air, makan bersama dan menari hegon bersama. Kegiatan ini sekaligus menjadi familirisasi (perkenalan) dan silahturahim antara para pelaku pariwisata dengan tempat dan masyarakat setempat. (sfn02).

To Top