Nusantara

Mgr. Ewaldus Sedu Ungkap Perasaannya Sebelum Diumumkan Sebagai Uskup Maumere

Suara Flores
Mgr. Ewaldus Martinus Sedu

“Saya tidak tenang, cemas dan juga kadang-kadang takut dalam kaitan dengan peristiwa pengumuman Uskup baru. Bahkan saya gemetar saat menulis surat pernyataan kesediaan menjadi Uskup kepada Paus Fransiskus di meja Duta Vatikan  (15/2018). Saya tulis sampai empat kali, bukan hanya karena huruf saya jelek tapi saya agak gemetar,” ujar Mgr. Ewaldus Martinus Sedu di Lepo Bispu atau rumah Uskup Maumere, Sabtu (14/7/2018) pukul 18:00 wita.

MAUMERE, SUARAFLORES.NET – Mgr. Ewaldus Martinus Sedu mengungkapkan sekelumit perasaannya sebelum diumumkan menjadi Uskup pada gereja lokal wilayah Keuskupan Maumere. Ia mengaku tidak tenang, cemas dan juga kadang-kadang takut dalam kaitan dengan peristiwa pengumuman tersebut. Bahkan gemetar saat menulis surat pernyataan kesediaan kepada Paus Fransiskus di meja Duta Vatikan, (15/2018).

“Hampir seminggu ini, saya simpan rasa tidak tenang, rasa cemas, juga kadang-kadang takut dalam kaitan dengan peristiwa pengumuman uskup baru. Rasa tidak tenang yang khusus ini, dimulai pada hari Selasa tanggal 3 Juli pukul 10:00 wita lewat 15 menit ketika hendak berangkat ke Weri untuk Retret,” ujar Mgr. Ewaldus Martinus Sedu melalui sambutan awal setelah diumumkan menjadi Uskup Maumere, Sabtu (14/17/2018).

Kepada para pastor paroki, biarawan dan biarawati serta umat yang hadir, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu mendikte perasaannya. Awal mula ia mendapat telepon dari pegawai Duta Vatikan sesaat ia bersama beberapa Romo hendak mengikuti Retret di Weri, Larantuka.

Ketika itu, ia bersama Romo Feliks, Romo Sil Oba dan Romo Eperimo, bersiap-siap berangkat ke Weri-Larantuka. Mereka hendak mengikuti retret tahunan para imam Keuskupan Maumere. Dalam kesempatan itu, tiba-tiba handponenya berdering. Nomor telepon Kedutaan Indonesia yang telah disimpan sejak masih di Ritapiret dalam kaitan dengan formasi para calon imam nampak dibalik layar handponenya.

Pegawai kedutaan memastikan pemilik nomor handpone yang dihubunginya. “Apa benar ini dengan Romo Ewaldus Martinus Sedu. Duta vatikan mau bicara dengan Romo,” begitu pertanyaan pertama yang diajukan pegawai kedutaan.

Pegawai kedutaan kemudian menyerahkan telepon kepada Duta Vatikan. Romo Ewaldus Sedu dihadapkan dengan Duta Vatikan dan mereka pun berkomunikasi. Suasana tidak tenang, cemas dan juga kadang-kadang takut menghantuinya.

“Kedutaan menyampaikan ingin bertemu dan berkomunikasi secara pribadi dengan saya di Jakarta. Saya sampaikan bahwa tanggal 4 Juli saya akan berangkat ke Jakarta untuk bertemu Bapa Duta Vatikan. Kami berkomunikasi dalam bahasa italia dengan penuh kehangatan, namun bagi saya sangat mendebarkan,” akunya.

Setelah mendapat informasi tersebut, Romo Ewald kemudian bertemu Emeritus Uskup Maumere Kheurubim Pareira dan menyampaikan permintaan Duta Vatikan tersebut. Setelah itu, ia menyampaikan kepada tiga orang pastor yang hendak sama-sama berangkat ke Weri bahwa ia tidak jadi berangkat untuk ikut Retret di Weri.

“Bantu turunkan tas saya dari mobil. Saya batal ke Weri, besok saya harus ke Jakarta. Dalam kebingungan mereka pun menurunkan tas saya,” ujarnya.

Baca juga: Paus Fransiskus Menunjuk Romo Ewaldus Sedu Jadi Uskup Maumere

Tanggal 4 Romo Ewald ke Jakarta, tiba pada malam hari. Tanggal 5 pagi jam 8:30, ia meninggalkan Pastoran Unio untuk berangkat ke kedutaan menggunakan bajay. Ia diterima oleh security kedutaan asal Waturia, Kabupaten Sikka, Pulau Flores.

“Saya bercerita dengan security. Jelang jam 9 saya dipersilakan masuk. Duta sudah menanti saya di pendopo dan menyampaikan salam menerima saya. Dia mengajak saya ke lantai II, ruangan kerjanya,” kisahnya.

Saat menuju lantai II, banyak pertanyaan disampaikan tentang Uskup Kheurubim dan Keuskupan Maumere. Perasaan tidak tenang, cemas dan kadang-kadang takut terus menyelimutinya. Ia tidak merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga di ruang kerja Duta Vatikan.

“Di ruang kerjanya, Duta langsung duduk disamping saya dan menyampaian bahwa ia baru kembali dari Roma. Ia mendengar langsung dari Bapa Suci, bahwa Romo Ewald sudah ditetapkan sebagai Uskup Maumere yang baru,” kisahnya mengulangi pernyataan Duta Vatikan.

Kaget, tidak tenang, cemas, kadang-kadang takut dan gemetar. Pria kelahiran Kabupaten Ngada itu tidak bisa berkata apa-apa. Kedutaan menyaksikan sikapnya yang terkejut mendapat informasi dari Bapa Suci itu. Kedutaan memintanya untuk tidak menjawab begitu cepat. Mereka berdoa di Kapel Duta Vatikan.

“Setelah membuka doa kepada Allah Roh Kudus dalam bahasa latin, Duta Vatikan membiarkan saya berdoa sendirian. Tiga puluh menit kemudian ia kembali dan mendekati saya”.

“Kita ini memang manusia lemah, banyak kekurangan, tetapi ketika Tuhan telah memilih kita,  Tuhan tahu harus berbuat apa kepada orang yang dipilih dan pasti Tuhan menyertai kita,” kata Duta Vatikan kepadanya.

“Ini Aku, Ustulah Aku” (adalah) Motto Romo Ewald yang kembali hadir dalam pikirannya saat-saat ia harus menjawab keputusan Paus Fransiskus yang disampaikan Duta Vatikan Indonesia di Jakarta. Romo Ewald menenangkan hati dan pikirannya dan dengan dorongan Tuhan dan doa Bunda Maria ia merespon keputusan Bapa Suci.

“Saya menjawab bahwa dengan bantun Tuhan dan juga doa Bunda Maria, saya bersedia,” kata Romo Ewald menjawab pesan Bapa Paus Fransiskus kepada Duta Vatikan.

Mereka berjabatan tangan dan berpelukan, kemudian kembali ke ruang kerja Duta Vatikan untuk membuat surat pernyataan kesediaan dan dikirim kepada Paus Fransiskus. Surat pernyataan kesediaan ditulis dengan tangan. Karena hurufnya kurang bagus dan gemetaran sehingga pada tulisan yang keempat ia berhasil menyelesaikan surat pernyataan kesediaan itu dan menandatangani.

“Saya diminta hubungi Uskup Kheurubim dan menyampaikan kesediaan saya. Selanjutnya, kami berbicara terkait agenda pengumuman. Rencana awal akan terjadi tanggal 11 Juli, kemudian terjadi hari ini. Saya diberkati Duta Vatikan dan kembali ke Pastoran Unio. Paus Fransiskus telah mengutus saya sebagai Uskup Maumere. Saya minta saya tidak dibiarkan sendirian. Mari kita saling mendoakan. Tuhan memberkati kita,” tandas Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. (sfn02).

To Top