Tamu Kita

Moeldoko, ‘Panglima Berdarah Dingin’ Sukses di KSP ‘Pasang Badan’ Bela Jokowi

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal (Purn) TNI, Dr. Moeldoko (*)
Jenderal (Purn) TNI, Dr. Moeldoko (Kepala KSP) yang selalu akrab dengan para awak media (foto: dokumen KSP/Jojo)

Siapa tidak kenal Moeldoko? Siapa tidak tahu Moeldoko? Rasa-rasanya hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal Moeldoko sang publik figur yang populer di panggung politik istana negara. Sosok lembut nan tegas Jenderal (Purn) TNI, Dr. Moeldoko sangat menarik perhatian publik terutama dalam pentas suksesi kepemimpinan nasional Pilpres 2019 lalu. Mantan Panglima TNI yang cerdas dan sarat prestasi ini kala itu disebut-sebut sebagai salah satu tokoh militer kelas wahid yanglayak (bakal) menjadi calon wakil presiden mendampingi Capres Joko Widodo. Tak sedikit jaringan relawan memberikan dukungan penuh kepada Moeldoko yang terkenal santun, rendah hati dan nasionalis sejati ini. Walau dukungan besar, namun karena tidak memiliki kendaraan partai politik, membuat Moeldoko tersingkir secara halus dari blantika cawapres dan tetap ‘mengendarai mesin strategi tempur’ di dalam kawasan istana negara.

Kecewakah Moeldoko?… Ia tidak kecewa. Sebagai Kepala Kantor Kepresidenan (KSP) yang menjaga markas di Istana Negara, Moeldoko dan pasukannya di KSP sangat setia menjalankan tugas-tugas khusus untuk terus mengawal Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan bahwa dirinya merasa bangga diberikan kepercayaan khusus oleh Presiden Joko Wdodo. Oleh karena itu, ia benar-benar menjalankan seluruh tugas yang diberikan. “Saya ini pembantu Bapak (Presiden). Saya mendengar apa kata Bapak. Jabatan ini adalah sebuah pengabdian kepada Bapak sebagai kepala negara jadi saya berusaha melaksanakan sebaik-baiknya,” kata Moeldoko dalam sebuah percakapan dengan para relawan dalam sebuah pertemuan di kediamannya sebelum pilpres digelar.

Apa yang dikatakan Moeldoko bukan sekedar ingin makan puji atau mencari simpatik dari siapapun. Semua itu, ia buktikan dengan kerja keras dan pengabdian yang tinggi memimpin KSP dalam situasi genting dan membela habis-habisan Presiden yang juga Calon Presiden Joko Widodo yang diserang dengan berondongan isu hoax, provokatif yang memecah-belah situasi dan kondisi bangsa selama musim pilpres yang berjalan panas selama 1 tahun. Setelah juru bicara KSP, Dr. Ngabalin jatuh sakit dan tidak ada orang lagi yang vokal mengcounter tembakan beruntun lawan politik (Prabowo-Sandi), Moeldoko menyadari tidak bisa tinggal diam, ia harus turun tangan ‘pasang badan’ menangkis serangan mortir dan rudal-rudal balistik politik tensi tinggi yang menggmpur istana dan mengadu-domba sesama warga bangsa.   

Moeldoko bersama para aktivis PMKRI yang datang ke Kantor Staf Kepresidenan (Foto dokumen KSP/Jojo)

Maraknya isu hoax impor barang China, isu komunis, antek asing, produk asing, tenaga kerja asing, isu sara, isu minoritas dan mayoritas, isu Papua Merdeka, isu radikalisme dan terorisme, HTI dan ISIS, isu negara berdasarkan agama, perang dagangdan lain-lain yang terus meresahkan warga Indonesia, mendorong Moeldoko sering tampil garang di pentas media menampik, menangkis, mengklarifikasi, dan memberikan penjelasan dan arahan serta ajakan kepada seluruh rakyat agar menjaga situasi nasional yang aman dan damai. Semuanya itu, agar tidak terjadi pertumpahan darah yang membuat bangsa Indonesia pecah-belah dan dikuasai oleh pihak-pihak asing yang berkepentingan dengan hasil produksi kekayaan alam Indonesia yang berlimpah-limpah dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote.

Moeldoko bukan sekedar adu nyali untuk meliuk di antara desingan peluru musuh, tetapi benar-benar berjalan dengan kepercayaan diri yang tinggi, berjalan dengan muka dan dada tegap, berjalan dengan gerakan hentakan kaki yang keras dengan sepatu bentukan militernya bahwa kepentingan Pilpres bukan sekedar memilih seorang presiden dan wakil presien tetapi menyangkut nasib masa depan bangsa, kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945 dan Ideologi Pancasila. Oleh karena itu, ketika ditantang soal sikap nasionalismenya, bagi Moeldoko itu sudah final sejak dirinya memilih masuk barak militer menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejati yang sudah menyatu bersama rakyat dan Tanah Tumpah Darah bangsa Indonesia.      

Moeldoko bersama Wakil Gubernur Provinsi Belitung (Foto dokumen KSP/Jojo)

Moeldoko tidak berdiam diri bermeditasi atau santai di dalam istana KSP yang sejuk nan dingin. Selain mendampingi Presiden (calon presiden Jokowi), ia juga turun langsung ke berbagai daerah di Indonesia untuk memberikan pencerahan politik kebangsaan kepadal seluruh lapisan masyarakat. Ia pergi menemui para petani, pedagang, para ibu, menemui para nelayan, para guru, ke sekolah dan kampus-kampus, pergi menemuia para pelajar kaum muda milenial. Ia juga pergi ke berbagai masjid dan pesantren, ia pergi ke berbagai gereja dan tempat ibadah lainnya menemui tokoh-tokoh agama untuk terus membangkitkan semangat persatuan nasional sesama anak bangsa agar terus menjaga keuntuhan bangsa dari serangan politik kaum radikalisme, terorisme dan perang dagang yang tengah mengancam bumi alam dan tanah air Indonesia serta ideologi Pancasila.

Posisi yang paling sulit sangat terlihat di kala keterbelahan yang besar antara kubu militer senior dan yunior pendukung capres Jokowi dan Capres Prabowo (mantan militer). Di tengah-tengah pertempuran antara para petinggi militer kedua kubuh, Moeldoko tidak diam membisu, ia tampil tegas dan garang bersuara mewartakan kebenaran. Ia tidak peduli lagi di antara para mantan dan petinggi militer itu adalah mantan yunior dan senior di militer yang terkenal dengan jiwa korpsnya.

Moeldoko dan para nelayan (Foto dokumen KSP/Jojo)

Demi membela Jokowi, ia menunjukan keberpihakan yang tinggi karena ia meyakini apa yang ia lakukan dan suarakan adalah demi kepentingan yang lebih besar yaitu keutuhan bangsa dan negara berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Suara dan kata-kata di tengah massa penuh ketegangan itu, telah membuktikan bahwa Sang Jenderal Moeldoko bukanlah prajurit yang mudah tergiur dengan bujuk rayu jabatan dan harta benda. Loyalitas, kualitas, dan dedikasi yang tinggi kepada pememimpin tertinggi Presiden Joko Widodo telah ia tunjukan sebagai seorang mantan Panglima TNI di kursi KSP yang didukung penuh oleh seluruh anak buahnya yang bekerja masif siang dan malam.

Pasca pesta demokrasi Pilpres 2019 berakhir, sosok Moeldoko durasinya mulai menurun tampil di ruang publik meskipun selala tampil mendampingi Presiden dan Calon Presiden terpilih Joko Widodo. Kala itu, wacana calon menteri mulai melonjak di ruang publik dan media. Melihat figur dan sosok Moeldoko serta sepak terjangnya, berbagai pihak termasuk para relawan yang mengidolakan Moeldoko kemudian mengusung dan mengusulkan agar Moeldoko masuk dalam kandidat menteri Kabinet Indonesia Maju yang akan dibentuk Presiden Jokowi. Nama Moeldoko kemudian santer bakal menduduki posisi, seperti Menkopolkam, Menteri Pertahanan, dan beberapa posisi lainnya. Namun, perlahan-lahan menjelang penetapan dan para menteri, nama Moeldoko tak terdengar kabar lagi. Belakangan terdengar dari kisi-kisi istana, Presiden Jokowi masih membutuhkan Moeldoko menjadi ‘penjaga gawang istana’ alias menjadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Lagi-lagi kecewakah Moeldoko? Melawan dan berontakkah ia pada atasannya?… Ia tidak kecewa. Wajahnya terlihat sangat gembira saat sang presiden mengumumkan susunan kabinet di istana negara beberapa waktu lalu. Lagi-lagi teringat pernyataannya sejak awal ketika berdialog dengan para relawan di jalan Lembang Jakarta Pusat silam.”Saya ini pembantunya Bapak. Saya mendengar apa kata Bapak. Jabatan ini adalah sebuah pengabdian kepada Bapak sebagai kepala negara jadi saya berusaha melaksanakan sebaik-baiknya,” kata Moeldoko menjawab dukungan relawan untuk menjadi calon wakil presiden silam. Moeldoko kemudian dilantik untuk kembali menahkodai KSP selama 5 tahun ke depan. Seperti komitmennya, Moeldoko tetap dengan rendah hati dan berjiwa besar menerima keputusan pemimpin tertingginya. 

Ketokohan Moeldoko di panggung politik nasional patut menjadi pelajaran penuh makna bagi generasi muda (kaum milenial) Indonesia. Nilai-nilai kepempimpinan yang jujur dan rendah hati, penuh dedikasi, loyalitas, etos kerja, jiwa nasionalisme,patriotisme, semangat pengorbanan dan berjiwa besar patut ditiru. Meski memiliki kemampuan, keahlian, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dan bergelar doktor, sebagai Mantan Panglima TNI, ia tidak sombong dan busung dada unjuk kekuatan dengan menggusur banyak orang dan melawan atasan demi ambisi pribadi meraih jabatan dan kuasa. Ia adalah sosok yang langkah dalam lintasan sejarah kepemimpinan nasioanal di era modern ini.  (Penulis: Kornelius Moa Nita.Sfil/SFN)

To Top