Ekbis

Moke (Arak) Flores, Antara Budaya, Ekonomi dan Hukum

Ilustrasi Moke Flores (Foto:kopumuka)

Oleh: GF. Didinong Say*

Telah berabad-abad, minuman keras beralkohol dikonsumsi  di berbagai belahan dunia untuk berbagai  maksud dan tujuan. Bahkan dalam setiap ritual agama katolik, selalu digunakan bahan anggur beralkohol rendah sebagai bahan utama perjamuan ekaristi. Minuman keras beralkohol sudah sejak lama diindustrialisasi dan diperdagangkan. Antara perbuatan kriminal dan minuman beralkohol sesungguhnya tidak ada hubungan sebab akibat. Seseorang dihukum karena melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum bukan karena ia minum moke atau arak.

Maka sesungguhnya ketika pihak keamanan di Maumere, Flores, NTT, belum lama ini melakukan razia Moke di atas kapal laut yang akan berangkat dari Maumere ke luar daerah  kemudian mengekspos pemusnahan terhadap barang sitaan tersebut, terbersit rasa yang tidak nyaman. Ketidaknyamanan tersebut karena Moke adalah hasil produksi asli masyarakat Flores turun temurun yang melekat dengan berbagai peristiwa dan urusan adat serta budaya. Minuman tradisional ini juga memiliki nilai ekonomis.

Artinya, perdagangan Moke dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani produsen Moke. Berbeda dari tanaman psikotropika seperti ganja, tidak ada aturan dan larangan bagi tanaman enau pinang, pohon tuak.  Demikian pula tidak ada larangan bagi usaha produksi tradisional mengiris tuak dan memasak Moke. Moke juga kerapkali secara subjektif dituding secara sepihak sebagai penyebab dari berbagai penyakit masyarakat. 

Oleh karena itu, pertama tama, pihak keamanan perlu mengklarifikasi dasar hukum dari tindakan razia terhadap miras Moke. Di samping itu, perlu ditegaskan bahwa razia terhadap Moke bukanlah pelecehan terhadap produksi petani Flores yang merupakan hasil budaya maupun bagian dari adat istiadat. Bahwa tindakan razia tersebut dilakukan semata karena alasan upaya penegakan hukum terkait penyelundupan alkohol dan minuman keras, ketertiban dan aturan di atas kapal, dan lain lain, alasan yang masuk akal.

Hal kedua, ke depan pihak keamanan di Flores diharapkan dapat lebih bijak dalam melakukan upaya penegakan hukum.  Dahulukan upaya preemptif dan penyadaran daripada melukai perasaan masyarakat dengan ekpose pemusnahan hasil produksi tradisional masyarakat Flores tersebut. Kalau Moke dimusnahkan bagaimana dengan minuman keras lainnya yang diproduksi secara industrial?

Ketiga, Pemerintah Daerah  di Flores perlu segera menata aturan dan mekanisme perdagangan Moke antar pulau dengan maksud dan tujuan dapat memberikan perlindungan serta manfaat dan keuntungan terbesar bagi petani produksi moke.

*Penulis: Pengamat Sosial Budaya NTT, Tinggal di Jakarta.

To Top