Nusantara

Orasi Kebangsaan Dies Natalis ISKA ke-60, Moeldoko Minta Hilangkan Pikiran Minoritas dan Mayoritas

Kepala Staff Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko ketika berosasi dalam acara DIsnatalis ke-60 Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) di Kampus Adma Jaya Jakarta, Kamis (30/5/2018) malam.

JAKARTA, SUARAFLORES.NET,-Kepala Staff Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menjadi salah satu tokoh central yang jadi perhatian seluruh jajaran pengurus DPP, DPD dan DPC Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) yang merayakan Dis Natalis ke-60 di Kampus Adma Jaya, Kamis ( 30/5/2018) malam. Mantan Panglima TNI ini tampil prima, santun nan tegas memberikan orasi membumikan kembali 4 konsensus kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka TUnggal Ika) yang tidak bisa dikutak-atik lagi oleh siapapun.

Dia juga menegaskan agar segera menghilangkan pikiran minoritas dan mayoritas, dan terus bersama-sama menjaga kebersamaan,persatuan dan kesatuan bangsa di tengah ancaman situasi global yang kian kencang.

Disaksikan Suaraflores.net,di hadapan puluhan pengurus, tokoh ISKA, para akademisi, mahasiswa/mahasiswi, dan peserta Disnatalis, Moeldoko yang tampil gagah berani mengenakan batik mengatakan bahwa Indonesia menjadi sebuah negara yang merdeka telah memiliki sebuah konsensus bersama yang dikatakan empat (4) pilar, yaitu Idelogi Pancasila, NKRI, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Itu adalah konsesus dasar yang telah menjadi kesepakatan bersama untuk mendirikan bangsa ini. Menurut pandangan saya semestinya agama itu bisa memperkuat ideologi, bukan dibalik-balik dengan beragama ideologi menjadi rapuh. Itu tidak bijaksana,” tegas mantan Panglima TNI ini.

Untuk itu, lanjut dia, karena di dalam ideologi sangat jelas dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan 4 yang berikutnya berisi nilai-nilai dasar. Nilai-nilai itu dihasilkan. Kalau dikupas lagi, Pancasila itu memiliki tiga value. Pertama adalah filosofis. Dimana, kalau berbicara tentang value filosofis tidak ada yang salah dari lima sila itu, karena digali dari nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia. Kedua, value instrumentalia. Dimana, Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum. Mulai dari konstitusi UUD 1945 sampai dengan kepres dan seterusnya, tetapi saat ini sudah mulai ada penyimpangan-penyimpangan karena pembuatan undang-undang sangat sarat dengan berbagai kepentingan politik.

“Saya kemarin agak keras kalau UU Antiterorisme sangat lama tidak selesai-selesai. Bahwa Undang-undang yang berkaitan dengan negara dan keamanan jangan coba-coba dipolitisasi. Karena, siapapun yang berkuasa saat itu dia akan mengalami. Jadi hati-hati karena itu untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan partai politik,”tegasnya mencontohkan.

Baca juga: Selestinus Minta Menteri Hukum dan HAM Hentikan dan Tarik Penitipan Napi Teroris dari Lapas NTT

Sementara itu, value ketiga adalah value prakmasis. Dimana, saat ini terihat ada berbagai oknum pejabat telah memberikan contoh yang kurang bagus, seperti korupsi dan lain-lain. Dengan demikian, apa yang terjadi, sebagian besar dari anak-anak muda mereka melihat perilaku babak-bapaknya seperti itu, akhirnya menjadi pertanyaan besar masih benarkah Pancasila itu. Sebenarnya masalah bukan dari anak-anak muda, tetapi justru muncul dari orang-orang tua.

“Dalam konteks bagaimana Pancasila menjadi sebuah ideologi yang sempurna, kita selalu menuding anak-anak muda kita sudah mulai luntur Pancasilanya. Kalau saya tidak, saya masih optimis melihat anak-anak muda dalam komitmennya menjadi anak-anak bangsa,” tandas Moeldoko.

Berikutnya, lanjut Moeldoko menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah disepakati bersama, dan tidak ada lagi komitmen Piagam Jakata. Tidak adalagi pemikiran-pemikiran yang lain.

“Hilangkan itu. Organisasi semakin tua, semakin kaya dengan pengalaman, bukan balik lagi (mundur lagi menjadi anak kecil lagi) berpikir dengan hal-hal yang tidak substansial. Mestinya dalam situasi global yang saat ini persaingan yang sangat luar biasa. Kita harus berpikir bagaimana menjadi sebuah bangsa yang tetap eksis di tengah lingkungan global seperti saat ini,” tegasnya disambut tepuk tangan riuh peserta Dies Natalis.

Dia juga mengajak semua pihak untuk berhenti dan tidak lagi sibuk membicarakan tentang politik aliran, politik identitas. Dia mengaku ketika menjadi Panglima TNI selalu menegaskan untuk menghilangkan pemikiran minoritas dan mayoritas. Pasalnya, jika minoritas dan mayoritas tetap dipertajam, maka bangsa Indonesia akan runtuh.

“Saya tegas sering mengatakan dalam posisi saya sebagai panglima TNI waktu itu, hilangkan pemikiran minoritas dan mayoritas. Sepanjang kita masih berpikir minoritas dan mayoritas, maka bangsa ini tidak akan utuh. saya tidak takut-takut ngomong begitu. Bibit itu jangan lagi dipelihara,”ungkapnya.

“Saya mengharapkan mulai dari sekarang dari lingkungan ini, jangan lagi berpikir minoritas dan mayoritas. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita membangun kebersamaan, membangun sebuah kebesaran bangsa ini. Saya sudah menulis, hanya dengan persatuan bangsa indonesia menjadi besar. Selama pikiran mayoritas dan minoritas terus berkembang kita tidak akan menyatu. Kalau ada wartawan yang tulis judul besar “HILANGKAN MINORITAS DAN MAYORITAS” maka saya senang sekali,” ujar Moeldoko.

Baca juga: Kristo Blasin: Pilih pemimpin NTT lihat juga kekuatan partai pengusungnya

Menutup orasinya, Moeldoko mengucapkan terima kasih kepada DPP ISKA yang telah memberikan kesempatan baginya untuk berbicara dalam acara Dies Natalis ke-60 ISKA. Dia berharap ISKA terus memberikan kontribusi dan berpartisipasi dalam membangun dan merawat komitmen kebangsaan.

“Ke depan, saya berharap kontribusi ISKA dalam ikut berpartisipasi harus dimunculkan dan diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia.” tutupnya.

Untuk diketahui, dalam acara Dies Natalis ke-60 Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Katolik (DPP-ISKA) menggadakan Dies Natalis ke-60 yang dihadiri oleh seluruh pengurus pusat dan daerah serta para sarjana dan cendekiawan Katolik se-Indonesia.

Acara yang diadakan di Aula Lantai 15, Kampus Admajaya Jakarta ini dihadiri pula Uskup Mgr. Paulinus Yan Ola, MSF, Menteri ESDM, Igantius Jonan, Staf Khusus Bidang Keamanan dan Inteligen, Jenderal (Purn), Goris Mere, Rektor Universitas Katolik Atma Jaya dan Ketua Umum DPP ISKA, V. Hargo Mandirahardjo serta para mahasiswa dan mahasiswi dan undangan lainnya. Tema besar dalam Dies Natalis kali ini bertajuk,”Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Merawat Komitmen Kebangsaan, Teguhkan Persatuan dan Kesatuan.” (bkr/sfn)

To Top