Peristiwa

Paus Fransiskus Minta Uskup Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan Muslim

Suara Flores
Paus Fransiskus

SUARAFLORES.NET — Paus Fransiskus meminta para uskup Indonesia untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan umat Islam, dengan menarik inspirasi dari dokumen inovatif yang ditandatanganinya tahun ini dalam kunjungan ke Uni Emirat Arab.

Dalam terang keprihatinan atas meningkatnya intoleransi di Indonesia yang mayoritas Muslim, Paus Fransiskus mengatakan kepada para uskup untuk berusaha mempraktekkan prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam dokumen “Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama,” yang ditandatanganinya di Abu Dhabi pada bulan Februari dengan Ahmed Al Tayeb, Imam Besar Al Azhar.

Dokumen itu yang dianggap banyak pihak sebagai tonggak penting dalam relasi umat Muslim dan Kristen mengajak orang Kristen dan Muslim untuk saling menghargai dan bekerja sama demi kebaikan bersama.

Ajakan paus disampaikan selama kunjungan Ad Limina oleh 36 uskup Indonesia ke Vatikan pada 8-16 Juni.

“Kami didorong (oleh paus) untuk membawa dokumen itu sampai ke akar rumput,” kata Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kepada seperti dilansir ucanews.com pada 18 Juni 2019.

Mgr Suharyo mengakui, di Indonesia, dokumen tersebut sudah mulai dipelajari, termasuk oleh kelompok Muslim.

Ia mengatakan, menanggapi permintaan paus, KWI akan akan mendalaminya secara khusus.

“Dalam sidang KWI bulan November, dokumen itu akan dijadikan bahan hari studi,” katanya, sambil menyebut dokumen itu berisi nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi tantangan kemanusiaan bersama.

Sejak diluncurkan, kelompok Muslim moderat Indonesia menyatakan apresiasinya terhadap pesan-pesan dalam dokumen tersebut.

Said Aqil Siradj, ketua Nahdatul Ulama, organisasi Muslim terbesar di Indonesia, mengatakan pesan dokumen itu sejalan dengan komitmen mereka untuk mengakhiri permusuhan antara Muslim dan non-Muslim.

Dokumen itu, kata dia, juga sejalan dengan komitmen NU yang menerima konsep negara bangsa, menolak khilafah dan mewujudkan perdamaian dunia.

Baca juga: Penuh Gembira Vatikan Terima Kunjungan Ad Limina 36 Uskup Indonesia

Baca juga: Akhir Kunjungan Ad Limina, Padre Marco dan Para Uskup dari Indonesia Misa di Makam Santo Petrus

Ahmad Nurcholish, ketua divisi pendidikan di Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengatakan bahwa jika para uskup menindaklanjuti permintaan paus, itu akan sangat membantu segala upaya untuk mempertahankan toleransi beragama di Indonesia.

Dia mengatakan dokumen itu sangat relevan dengan situasi saat ini, di mana “sekat-sekat primordial dan sentimen keagamaan kembali menguat dalam satu dekade terakhir yang mengoyak relasi antarumat beragama.”

Hal itu, jelasnya, dipicu oleh menguatnya politik identitas keagamaan, makin eksisnya kelompok ekstrim, masih banyaknya mayoritas yang enggan untuk bicara di ruang publik menyikapi intoleransi dan adanya ruang pembiaran oleh pemerintah.

“Dengan merekatkan kembali relasi Islam Katolik di tanah air, diharapkan menjadi potret dan inspirasi bagi relasi antarumat beragama di level yang lebih luas, baik nasional maupun internasional,” katanya.

Kunjungan ad limina adalah kunjungan rutin lima tahunan para uskup dari setiap negara untuk memberikan laporan terkait kondisi di negara mereka kepada Tahta Suci.

Uskup Suharyo mengatakan, dalam kunjungan itu, Vatikan juga mendorong para uskup untuk “terus mengembangkan keterlibatan Gereja Katolik dalam persoalan lingkungan hidup, kesenjangan kaya miskin dan hormat kepada martabat manusia.”

Ia menambahkan, mereka juga sempat mengundang paus untuk mengunjungi Indonesia. “Paus sangat ingin mengunjungi Indonesia, hanya waktu yang tepat masih harus dicari dan tentu dibicarakan dengan pemerintah Indonesia,” kata Mgr Suharyo. (ucanews.com).

To Top