Nusantara

Pejabat dan Elit Partai Politik Belum 100 Prosen Praktekan 5 Sila Pancasila

Ketua Umum DPP Barisan Relawan Nusantara (Baranusa), Adi Kurniawan.(*)

JAKARTA,SUARAFLORES.NET,- Ideologi Pancasila dan lima sila yang diciptakan oleh Ir.Soekarno hingga kini belum 100 persen dijalankan dan dipraktekan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Para oknum pejabat negara dan para elit partai politik belum 100 persen menjalankan nilai-nilai dari 5 Sila Pancasila dalam praktek berdemokrasi.

Buktinya, korupsi masih merajalela, kemiskinan masih tinggi, intoleransi kian marak, radikalisme makin marak, elit belum dewasa dalam menyikapi persoalan bangsa dan jauh dari rakyat kecil. (kecualis saat pemilu). Dimana, masih banyak elit politik hanya memanfaatkan rakyat untuk kepentingan politik dan golongan, yang akhirnya membuka ruang konflik antar warga dan perpecahan antar rakyat yang bisa berujung disintegrasi bangsa.

‘Pancasila tidak boleh hanya menjadi alat bagi oknum elit-elit partai politik atau para oknum pejabat tinggi negera memuluskan kepentingan politik saja. Pancasila tidak boleh hanya dihafalkan di kepala. Tetapi, Pancasila harus benar-benar dijalankan atau dipraktekan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Elit politik tidak boleh hanya perintahkan rakyat hidup sesuai nilai-nilai 5 Sila Pancasila padahal mereka sendiri jauh dari Pancasila. Kondisi ini sangat memprihatinkan,” tegas Ketua Umum DPP Barisan Relawan Nusantara (Baranusa), Adi Kurniawan, dalam pernyataan tertulisnya yang diterima media ini, belum lama ini, di Jakarta.

Menurut Adi Kurniawan, bagi rakyat, Pancasila itu dirasakan bukan ditanamkan, bukan untuk diperdebatkan lagi, apalagi hanya menjadi bahan untuk dihafalkan semata. Rasa tentang toleransi antar umat beragama, rasa tentang memanusiakan sesama manusia dengan adil juga beradab dalam memperlakukan sesamanya, rasa tentang persatuan dan gotong-royongnya dalam menghadapi berbagai persoalan, rasa tentang pengambilan keputusan dengan cara bermusyawarah dan mufakat antara pimpinan dengan rakyatnya serta rasa keadilan dalam bentuk apapun baik ekonomi, hukum, sosial, politik dan budaya.

Dikatakan Adi, ada fakta-fakta praktek hidup saat ini yang tidak menggambarkan Pancasila, yaitu pertama intoleransi semakin marak. Dimana satu kelompok dengan kelompok warga yang lainnya masih belum bisa menerima perbedaan dalam beragama. Perilaku elit kita yang masih jauh dari perilaku yang beradab. Kedua, kemanusiaan yang terkikis kian dalam sehingga jauh dari sikap yang adil dalam memanusiakan manusia.Ketiga, elit yang tidak dewasa dalam menyikapi segala persoalan-persoalan bangsa.

“Fakta hari ini, kedua kandidat capres dan cawapres yang bertarung dalam Pilpres 2019 tidak mengedepankan persatuan bangsa. Mereka justru menggiring para pendukungnya untuk saling berseteru, bertikai tanpa sadar yang mereka bawa adalah rakyat sebagai pendukung mereka. Persatuan menjadi tergerus. Jiwa gotong-royong kita semakin tenggelam dan kehilangan makna,” ujarnya.

Keempat, lanjut dia, para elit politik sebagai pemimpin rakyat tidak pernah mencerminkan sebagai seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, tetapai memilih senang memperkaya diri sendiri, bermewah-mewahan serta menghamburkan uang tanpa melihat dari mana asal-usul mereka. Dan kelima, kehidupan sosial yang timpang, kemiskinan yang semakin mendalam justru yang selalu menjadi persoalan tanpa sebuah harapan.

“Tak pernah ada musyawarah dan mufakat antara para pemimpin yang berbeda haluan politik. Justru mereka lebih senang bermusyawarah kepada para pemegang saham (uang) dalam membuat sebuah kebijakan yang jauh dari harapan rakyat.Akhirnya, Keadilan sosial masih menjadi mimpi bagi rakyat yang tertidur pulas di bawah ratapan kemiskinan,”tandas Adi.

Menurutnya, situasi politik selama pemilu 2019 yang mencekam, di mana muncul begitu banyak konflik-konflik antara kedua kubuh calon presiden telah membuktikan bahwa elit-elit politik sama sekali tidak mempraktekan nilai-nilai Pancasila dalam hidup berdemokrasi. Padahal, rakyat dan Pemerintah Indonesia bukan baru sekali menyelenggarakan pemilu. Fenomena ini menjadi ujian terbesar bagi Negara Indonesia yang mengaku berdasarkan Pancasila, yang selanjutnya menjadi refleksi bagi para elit politik, karena rakyat mudah terbelah dan terkotak-kotak hanya karena pemilu yang acapkali hanya menguntungkan segelintir elit-elit politik.

“Rakyat hari ini hanya butuh kesejahteraan sesuai janji-janji para elit ketika berkampanye. Rakyat tidak lagi berdebat soal ideologi karena bagi mereka Pancasila sudah final (kecuali diprovokasi elit politik). Ketika mereka lapar, mereka hanya butuh makan. Ketika mereka haus mereka hanya butuh minum. Ketika mereka kehujanan mereka hanya butuh rumah yang layak untuk berteduh. Mereka butuh sekolah murah untuk anak-anak mereka. Mereka butuh puskesmas, rumah sakit dengan dokter dan perawat layak dan murah untuk berobat di kala sakit, dan rakyat juga butuh jalan raya yang baik untuk menjual hasil-hasil produksi pertanian mereka, dan masih banyak yang lainnya,” ungkap Adi yang juga tim relawan Calon Presiden dan Wakil Presiden, Joko Widodo-Maa’ruf Amin ini. (BKr/Sfn)

To Top