Sorotan Redaksi

Peluang Besar Akan Direbut Jika Flores Berdiri Jadi Provinsi, Benarkah?

Danau Tri Warna (Kelimutu) Salah Satu Aset Ekonomi dan Pariwisata Dunia di Pulau Flores. (*)

SUARAFLORES.NET,–Wacana pendirian Provinsi Flores telah sangat lama diperjuangkan. Bahkan beberapa tahun silam sudah terbentuk Panitia Pembentukan Provinsi Flores(PPP3F) yang telah mempersiapkan pendirian Provinsi Flores dengan anggaran APBD dari seluruh kabupaten di Flores. Setelah panitia lama bubar, panitia baru pun kembali dibentuk yang diketuai Bupati Ngada, Marianus Sae, dan kawan-kawan. Yang selanjutnya, membentuk tim khusus di Kupang yang terdiri dari tokoh-tokoh Flores-NTT bersama politisi di DPRD NTT di era Gubernur Drs. Frans Lebu Raya, meski Gubernur Frans di satu sisi lebih memperjuangkan NTT sebagai satu kesatuan sebagai provinsi kepulauan.

Dilihat dari dinamika perjuangan pendirian provinsi Flores memang banyak dinamika, akibat sikap pro dan kontra yang berkepanjangan, maka penentuan daerah yang akan menjadi calon ibu kota provinsi Flores pun gagal dalam Musywarah Besar (Mubes) Rakyat Flores. Dari tiga kota, yaitu, Manggarai, Mbay dan Maumere yang mencuat sebagai calon ibu kota, tidak atau belum ada kata sepakat kota mana yang tepat karena tarik ulurnya kepentingan masing-masing (ego daerah). Banyak dana sudah dikeluarkan pemerintah kabupaten, selain untuk pelaksanaan Mubes, juga untuk pembentukan Tim Kajian Provinsi Flores, atau Tim Kajian Ibu Kota Provinsi Flores.

Seiring dimoratoriumnya pemekaran daerah oleh Presiden Joko Widodo, isu pendirian provinsi Flores pun meredup bersama pemekaran kabupaten Adonara dan Kota Maumere, kecuali Malaka. Apalagi Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, dalam kampanye pilgub 2018 lalu menegaskan tidak mendukung pendirian provinsi Flores. Ia lebih mengedepankan mengembangkan pembangunan Flores di berbagai bidang, dan tetap menjadi satu kesatuan dalam sebuah provinsi kepulauan NTT. Hal ini menyebabkan tim khusus tokoh-tokoh Flores yang beberapa kali telah menggelar rapat di Kupang di era Lebu Raya, akhirnya tidak kedengaran lagi suaranya.

Komodo, salah satu aset rakyat Flores yang mendunia. (*)

Perjuangan pendirian provinsi Flores kembali berbunyi ke publik, pasca tulisan Drs. GF. Didinong Say ( pengamat dan pemerhati masalah sosial budaya NTT di Jakarta) yang berjudul “Jalan Mempercepat Kesejahteraan Rakyat Flores.”Dalam tulisan tersebut, putra mantan Bupati Sikka, Lorens Say ini memaparkan kronologi sejarah Flores dan manfaat dari pendirian DOB Flores yang akan berdampak besar pada berbagai sektor pembangunan. Opini Didinong banyak mendapat tanggapan positif dari generasi muda Flores, meskipun oleh para politisi menilai pendirian provinsi Flores hanya akan menjadi lahan kaum radikalis dan terorisme mengembangkan sayap baru. Ini adalah isu aktual yang saat ini sedang terjadi. Meskipun, hal itu sebenarnya bisa diatasi aparat TNI dan Polri, tokoh agama, dan lembaga-lembaga pendidikan di Flores melalui sistem pertahanan teritorial, melalui pendidikan dan sistem budaya dan adat istiadat yang kuat.

Pulau Kaya Raya tapi Tertinggal

Pulau Flores yang saat ini terdiri dari 10 kabupaten, yaitu Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata di tambah Kabupaten Alor, adalah sebuah kawasan ekonomi potensial yang maha besar. Selain memenuhi syarat pendirian sebuah provinsi dari sisi jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah kabupaten, Flores memiliki potensi pariwisata berkelas dunia, seperti Pulau Komodo, Danau Kelimutu, Wisata Seribu Pulau di Riung, perkampungan adat Bena, Tradisi Penangkapan Ikan Paus di Lamalera, Semana Santa di Larantuka, dan masih begitu banyak obyek wisata alam, religi dan bahari lainnya di Sikka, Flores Timur, Lembata dan Alor.

Tradisi Penangkapan Ikan Paus di Lamalera, Lembata. Salah satu Aset ekonomi dan pariwisata dunia di Pulau Flores. (*)

Di sisi lain, selain berjaya di bidang pariwisata, Pulau FLores adalah pulau yang sangat kaya raya dengan hasil laut, dimana laut Flores kaya akan ribuan jenis ikan, rumput laut, mutiara, dan garam yang luar biasa. Flores juga sangat kaya dan terkenal sebagai penghasil Kopi berkelas dunia (di Manggarai, Ngada dan Hokeng), penghasil kopra, coklat (kakao), Vanili, Cengkeh, Kemiri dan Mente. Dari dulu, para saudagar menjadikan Flores sebagai salah satu markas perdagangan terbesar di kawasan nusa tenggara.

Sementara itu, dari sisi SDM, pulau Flores merupakan lumbung kaum intelektual yang dicetak dari berbagai lembaga pendidikan swasta (Misi Katolik) dan juga sekolah-sekolah negeri milik pemerintah. Setiap tahun, malah orang Flores yang mengenyem pendidikan Imam Katolik dikirim ke seluruh penjuru dunia untuk bertugas menjadi pastor. Dukungan gereja Katolik untuk misi pendidikan putra-putri Flores sudah tak terbantahkan sejarah, sudah begitu banyak para pemimpin dan politisi-politisi hebat Flores (lokal dan nasional dan internasional) lahir dari pendidikan yang berkualitas tinggi dari lumbung-lumbung sekolah seminari, yang tentunya juga didukung oleh sekolah pemerintah. Inilah selumbar harta karun rakyat Flores dari jutaan potensi daerah yang menjadi modal dasar pembangunan Flores ke depan.

Di tengah-tengah kekayaan alam yang luar biasa, Pulau Flores, Lembata dan Alor memang tengah berkembang saat ini. Namun, di sisi lain tingkat kemiskinan yang tinggi (desa-desa masih miskin), penggangguran tinggi (begitu banyak warga keluar daerah mencari kerja), korupsi masin tinggi (banyak pejabat masuk penjara), infrastruktur jalan provinsi dan kabupaten yang masih jauh tertinggal, termasuk Jalan Trans Utara Flores yang dibiarkan berpuluh tahun, desa-desa masih begitu banyak gelap-gulita tanpa listrik, air minum bersih belum maksimal dinikmati rakyat, sekolah-sekolah rusak di desa-desa, kurangnya bidan dan tenaga dokter ahli, fasilitas puskesmas, tidak ada rumah sakit skala besar seperti RSU. WZ. Johanes Kupang, (Warga Flores yang sakit harus dirujuk ke Kupang, Bali dan Surabaya), tidak ada universitas negeri (anak-anak Flores harus ke Kupang, Sulawesi dan Jawa), dan akses ekonomi perkotaan yang kian dikuasai para pendantang membuat putra-putri Flores termarginalkan dalam persaingan ekonomi. Inilah kompleksitas fakta-fakta aktual yang masih dialami rakyat Flores saat ini.

Ikan di Flores, Aset Ekonomi Rakyat yang belum maksimal di olah. (Nttsatu.com)

Urgenkah Provinsi Flores Dibentuk?

Melihat kompleksitas persoalan ketertinggalan Flores, jawaban dari pertanyaan Urgenkah Provinsi Flores Dibentuk adalah sangat urgen. Meski otonomi daerah menitikberatkan kabupaten dan kota, namun peluang lebih besar akan diraih rakyat Flores bila berdiri sendiri sebagai sebuah provinsi. Menurut aktivisi LSM, Silvester Nusa, S.Sos, selain mendapatkan perhatian anggaran yang lebih besar dan pembangunan infrastruktur di kawasan pulau-pulau terluar dan terkecil akan lebih terintegrasi, juga ada peluang besar lainnya, yaitu: Pertama, penghematan biaya koordinasi. Selama ini, biaya koordinasi para pejabat pemerintah seperti Bupati dan para Pimpinan OPD cukup besar ke Kupang. Hanya untuk rapat koordinasi saja, kalau seorang bupati sekali jalan membawa uang jalan sebesar Rp20.000,- dan dalam setahun kalau 20 kali perjalanan dinas, maka begitu besar uang yang dikeluarkan. Begitu juga para kepala dinas dan badan lainnya.Jika rapat koordinasi di Flores, maka ada penghematan biaya cukup besar, dan biayanya hanya biaya bensin dan penginapan.

Kedua, membuka lapangan kerja baru. Dengan terbentuk Provinsi Flores, maka akan ada pembukaan lapangan kerja baru. Banyak pemuda dan pemudi yang bisa menjadi pegawai dan pejabat provinsi di kantor gubernur dan legislative serta berbagai perusahaan swasta dan lain-lain. Selain di jalur birokrasi, akan nada banyak lapangan kerja di sektor swasta yang dengan sendirinya akan terbuka karena kebutuhan dari sebuah provinsi. Dengan demikian, puluhan ribu lapangan pekerjaan akan terbuka, karena berbagai perusahaan swasta, pabrik dan industri pun dibangun. Saat ini, lapangan kerja di FLores sangat terbatas, sehingga banyak generasi muda memilih keluar daerah. Setiap tahun, ada ribuan sarjana yang diwisuda, dan sebagian besar dari para sarjana itu tak bisa bekerja karena perekrutan PNS dan Fasilitator Desa, LSM, Swasta, dan lain-lain sangat terbatas.

Jalur Trans Utara Pulau Flores yang rusak setiap tahun. (Foto: Pos Kupang)

Ketiga, akses masyarakat kuliah akan lebih mudah. Hingga saat ini, sebagian besar putra-putri Flores yang harus melanjutkan pendidikan tinggi di Kupang, dan di tempat lainnya karena tidak ada Universitas Negeri, Sekolah Tinggi Negeri, Politeknik Negeri dan lainnya di Flores. Sekolah negeri sangat dibutuhkan pemuda dan pemudi atau masyarakat Flores untuk berkesempatan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan karena lebih murah dan berkualitas. Adanya sekolah negeri ini berdampak pada perputaran ekonomi lokal yang akan terus berkembang maju. Kebutuhan kost, foto copy, kios dan toko ATK, kuliner, rumah makan, jasa ojek dan transportasi lainnya akan berkembang.

Keempat, konsentrasi pembangunan ekonomi lebih berkembang
Pembangunan akan lebih focus karena bentangan pulau yang panjang sehingga ada sedikit penghematan biaya karena lebih banyak di darat ketimbang daerah pulau yang menghabiskan begitu banyak biaya. Memang ada beberapa pulau kecil tapi itu tak seberapa. Dengan menjadi provinsi, maka Flores sebagai sebuah kawasan ekonomi dan industri baru akan sangat berkembang, karena didukung dengan potensi alam kelautan dan perikanan, perkebunan dan pertanian, pariwisata yang didukung dengan sumber daya manusia (SDM).Letak strategis kawasan ekonomi Pulau Flores di tengah jalur perdagangan antara Kupang, Bima, Bali, Ujung Pandang, dan Surabaya dipastikan makin lancar dan berkembang untuk mendukung kemajuan pembangunan ekonomi Rakyat Flores. (bungkornell/ suaraflores.net)

To Top