Edukasi

Pemerintah Thailand Siap Kerja Sama dengan Pemprov NTT Kembangkan Pariwisata

Wakil Gubernur NTT, Drs. Josep Nae Soi, MM, saat berbicara dengan Duta Besar Thailand, Songphol Sucham dalam kunjungannya ke Kupang, NTT, Rabu (3/7/2019). (Foto:Hum/)berbicara dalam Temu Investasi Masyarakat Ekonomi NTT di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumad (28/6/2019). (Joe)

SUARAFLORES.NET,–Pemerintah NTT dibawa kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Alexander Nae Soi terus membangun hubungan kerja sama dengan berbagai negara asing untuk memajukan SDM pariwisata NTT. Salah satunya adalah membangun kerja sama dengan Pemerintah Negara Thailand.

Duta Besar Thailand, Songphol Sucham, saat berkunjung ke Kupang, NTT menyampaikan komitmennya untuk membangun hubungan kerja sama di berbagai bidang, termasuk peningkatan SDM untuk pariwisata NTT.

Dikatakan Dubes Songphol dalam pertemuan dengan Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, secara terbuka mengungkapkan bahwa Pemerintah Thailand membuka diri  untuk bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT dalam upaya pengembangan pariwisata. Menurut Songphol, melalui Thailand International Cooperation Agency (TICA), ada beberapa pelatihan singkat dan beasiswa pendidikan  bagi masyarakat dari negara lain termasuk Indonesia, khususnya NTT.

“Kami menawarkan pelatihan-pelatihan di bidang pertanian, pendidikan  dan pengembangan sumber daya manusia. Termasuk dalam bidang tourism. Setiap angkatan terdiri dari 10 sampai 15 orang. Kalau NTT tertarik, kita bisa membicarakan lebih lanjut lewat MoU (Memorandum of Understanding),” ujar Dubes) Songphol Sukchan ketika beraudiens dengan Wagub Nae Soi, di Kantor Gubernur NTT, Rabu (3/7/2019).

Lebih jauh, Songphol memberikan apresiasi terhadap perkembangan pesat  pariwisata di NTT. Adapun tujuan audiensi adalah untuk menjajaki kemungkinan kerja sama antara Pemerintah Thailand dengan Pemerintah Provinsi NTT.

Baginya, sebelum ada perjanjian kerja sama, untuk kick off (permulaan) pihaknya bisa memfasilitasi delegasi kecil dari NTT untuk belajar singkat tentang  pariwisata Thailand selama lima sampai tujuh hari. “Kami membuka diri untuk menjadi pasar bagi kopi-kopi asal NTT,” pungkasnya.

Songphol mengaku baru pertama kali datang ke NTT. Namun sudah mengetahui banyak tentang  NTT  karena  telah menjadi salah satu destinasi pariwisata terkemuka di Indonesia.

“Bicara tentang NTT langsung terbayang  Komodo, Kopi, Rumah Tradisional Sumba, Spot Diving beragam yang merupakan surga di bawah laut. Selain itu, ada atraksi-atraksi budaya  dan adat istiadat yang menarik. Kami tentu memberikan dukungan agar pariwisata NTT terus berkembang pesat,” ungkap Songphol.

Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, menyambut gembira tawaran pelatihan vokasional dari Pemerintah Tailand tersebut. Menurutnya, hal itu sesuai dengan  misi Pemerintah Provinsi NTT 5 tahun ke depan  untuk mengirim banyak anak muda NTT menjalani berbagai pelatihan di luar negeri.

“Thailand itu luar biasa dalam pengembangan pariwisata. Orang kalau datang ke sana, pasti langsung terkesan dan akan datang kembali. Ini yang mau kita pelajari. Kita pasti akan follow up secepatnya tawaran ini. Apalagi pariwisata menjadi leading sector (sektor terdepan)  sekaligus prime mover (penggerak utama) ekonomi NTT,” kata Nae Soi .

Pemerintah Provinsi NTT , lanjut Nae Soi, sangat gembira dengan tawaran kerja sama perdagangan terutama untuk komoditas kopi.  Dengan berbagai penghargaan dan pengakuan internasional atas kualitas kopi-kopi NTT, ekspor  ke Thailand tentu dapat dilakukan.

“Kita pasti akan ekspor kopi ke Thailand. Potensi permintaan (kopi)  tinggi, sekarang tinggal daerah penghasil kopi, apakah bisa siapkan kopi dalam jumlah banyak? Kita terus dorong dan genjot pemerintah kabupaten khususnya   kita punya kepala dinas  (pertanian dan perkebunan) untuk bekerja lebih keras dan menangkap peluang ini,” jelas Wagub saat ditemui usai audiensi dengan Dubes Thailand.

Untuk diketahui, Thailand adalah salah satu negara tujuan wisata internasional di dunia yang paling diburu. Dengan angka kunjungan wisatawan asing mencapai sekitar 38 juta pada tahun 2018, negara ini patut menjadi pusat studi banding pengembangan pariwisata Indonesia terutama dari propinsi NTT . (SP/HUM-NTT/fortuna)

To Top