Budpar

Pondok Santai Tanjung Watu Krus, Objek Wisata Baru yang Laris di Liburan Natal

Suara Flores

MAUMERE, SUARAFLORES.NET — Objek Wisata Pondok Santai Tanjung Watukrus yang baru saja di buka mulai tanggal 23 Desember 2018 yang berlokasi di Liang Goa, Desa Bola, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, “laris manis di serbu” para pengunjung saat liburan Natal.

Meski belum seratus persen sempurna karena masih dalam proses pengerjaan, namun sudah ramai dikunjungi warga. Sejak di buka pada tanggal 23 Desember 2018, hingga tanggal 1 Januari 2019 pengunjung sudah mencapai 700 orang lebih.

Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari kecamatan Bola, namun ada yang berasal dari daerah kecamatan lain di kabupaten Sikka. Sebagian besar pengunjung yang datang adalah orang tua dan anak-anak. Mereka memilih berwisata keluarga karena lokasi tersebut sangat nyaman. Bagi pengunjung yang datang di kenakan tarif Rp. 10.000 perorang yang di buka mulai pagi hingga jam 10 malam.

Meskipun objek wisata ini belum sempurna, namun kesejukan udara melalui hembusan angin semilir pantai mampu memikat para pengunjung. Pengunjung yang datang bisa menempati bangku yang telah di sediakan di pondok  sambil menikmati desiran ombak yang terus bernyanyi menambah suasana semakin tenteram dan damai.

Bagi pengunjung yang ingin mengambil gambar, bisa langsung  menaiki tangga menuju ke puncak bukit. Meskipun harus berkeringat, namun rasa lelah akan terbayar karena pengunjung bisa menikmati view pondok dan pantai serta hijaunya rumput yang begitu indah.

Selain itu, pengunjung juga bisa mengambil gambar di pinggir pagar-pagar. Suasana ini pun terasa indah bak terasa seakan lagi berada di atas kapal. Sementara bagi pengunjung yang ingin mandi langsung ke laut, bisa menggunakan pelampung yang telah di sediakan.

Suara Flores

Pemilik sekaligus pengelola Pondok Santai Tanjung Watu Krus Vinsensius Ferrel mengisahkan, Pondok Santai Watu Krus yang ia dirikan selama hampir tiga tahun itu hanya berbekal motivasi dan perjuangan murni dari pengalamannya merantau sekitar 18 tahun di Batam.

Baca juga: ‘TOUR de FLORES’ Bangkitkan Determinasi dan Motivasi Pariwisata NTT

Baca juga: Pulau Flores, “Surga yang Jatuh ke Bumi”

Semuanya ia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Mulai dari penggalian jalan, pembuatan pondok, pembuatan tangga, pemasangan pagar keliling, pemasangan lampu, pembuatan kolam ikan, serta penanaman rumput dan bunga-bunga.

Modalnya pun ia tanggung sendiri. Modal yang ia peroleh berasal dari hasil penjualan ternak babi yang ia pelihara. Uang dari hasil penjualan itu, ia kumpul dan membeli bahan-bahan untuk pembuatan pondok indah tersebut.

“Saya pernah merantau di Batam selama hampir 18 tahun. Di sana saya bekerja di hotel, restoran, dan juga penginapan. Ketika pulang kampung dan melihat potensi wisata di disini, saya akhirnya mendirikan pondok ini”, kata Bapa Feri Alumni SPO Santo Isidorus Boawae ini.

Ia melanjutkan, meskipun masih kekurangan dana untuk penyelesaian pekerjaannya, direncanakan pondok tersebut akan dikembangkan dengan pembuatan home stay dan cafe.  Untuk itu, ia berharap semoga pemerintah dapat  membantunya. (yordan).

To Top