Infrastruktur

Proyek SPAM Senilai 2,9 Miliar di Ndori Diduga Mubasir

Suara Flores
Pipa Proyek SPAM 2,9 Miliar Tampak Tidak Ditanam

ENDE, SUARAFLORES.NET — Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) senilai Rp2,9 miliar di Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur  (NTT) diduga mubasir. Pasalnya, sejak dikerjakan pada tahun 2016 lalu, air dari pipa yang tak ditanam itu tidak mengalir.

Pantauan wartawan di Desa Ndori, ditemukan jaringan pipa tampak berada sampai di tepi jalan. Pipa- pipa itu dibiarkan begitu saja, tidak ditanam (digali) oleh kontraktor yang mengerjakan proyek dari dana APBD II itu. Bahkan, pelaksanaan proyek itu tidak diketahui camat setempat.

“Saya tidak tahu soal proyek ini. Saya baru menjabat di tahun 2017. Apalagi tidak ada jejak laporan proyek itu di kecamatan,” tegas Camat Ndori, Ahmad Liga kepada wartawan akhir pekan lalu.

Dia mengaku tidak punya pegangan dokumen apapun, seperti kontrak kerja, PHO atau FHO yang dilaporkan ke kecamatan. Seharusnya, lanjut dia, minimal kecamatan memegang dokumen PHO, jika proyek itu telah selesai dikerjakan.

“Saya tidak tahu siapa yang kerja proyek itu. Karena tidak ada berita acara penyerahan ke kecamatan”, tegasnya.

Terkait pipa yang dibiarkan berada di tepi jalan, menurut dia, seharusnya kontraktor menanam pipa-pipa tersebut agar tidak menyebabkan kecelakaan bagi warganya yang melintas di jalan raya.

“Setahu saya harus ditanam pipanya. Ini fatal bagi kendaraan roda dua yang melintas,” tambahnya.

Baca juga: Kasus Pelajar Dipaksa Makan Kotoran Manusia, DPRD Sikka Temui Pihak SBSB

Baca juga: Wacana Jual Sikka di Labuan Bajo Ditanggapi Positif Oleh Pelaku Wisata

Sumber mata air proyek pipa tersebut berasal dari Desa Wonda yang dapat memenuhi kebutuhan air bersih warga di 10 desa di Ndori. Faktanya warga di Kecamatan Ndori lebih banyak mengkonsumsi air bersih yang bersumber dari kali yang berada di kecamatan itu. Air kali itu juga sering digunakan warga untuk memandikan hewan peliharaan mereka.

Selain di Ndori, Proyek SPAM tahun 2016 juga berada di sejumlah titik, yakni di Kecamatan Wolowaru, Maurole, Nuabosi, Detusoko dan Nangapenda.

Tidak hanya di Ndori, Proyek SPAM di Nuabosi juga mubasir. PMKRI Cabang Ende sempat menggelar aksi unjuk rasa menuntut aparat penegak hukum untuk mengusut mubasirnya proyek air bersih senilai Rp 4,7 miliar yang dikerjakan 2017 itu.

“Kami mendesak Kejaksaan Tinggi NTT segera melakukan tindakan hukum,” kata PMKRI Cabang Ende, Firmus Rigo.

Firmus Rigo mengatakan bahwa masyarakat di 5 desa di Nuabosi diantaranya, Desa Ndetundora 1, Ndetundora 2, Ndetundora 3, Desa Randotonda dan Desa Embuteru sangat kesulitan air bersih.

“Kami sudah advokasi proyek air bersih yang sama sekali belum dinikmati oleh warga Nuabosi. Dugaan saya, Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan proyek tersebut,” ungkap Firmus.

Dirinya mengatakan, secara teknik ini proyek diduga tidak sesuai perencanaan, sehingga mubasir dan masyarakat sudah sangat kesal dengan proyek tersebut.

Dia mengaku bahwa PMKRI sudah pernah menyuarakan persoalan tersebut, namun sampai saat ini tidak ada penyelesaian dari penegak hukum yang ada di Ende. Oleh karena itu, PMKRI mendesak Kejaksaan Tinggi NTT untuk melakukan penyelidikan terhadap dugaan proyek mubasir tersebut.

“Ini anggaran besar sekali. Kami minta agar Kejati NTT yang lakukan Pulbaket saja. Apakah ada dugaan korupsi atau tidak, itu tugasnya aparat penegak hukum” ungkap Firmus.

Kepala Dinas PUPR Ende,  Ir. Fransiskus Lewang yang hendak dikonfirmasi wartawan di kantornya, Selasa (25/2/2020) tidak berada ditempat. Bahkan dihubungi via telepon sedang berada di luar jangkauan.

“Pak kadis belum masuk kantor,”  kata salah satu staf Dinas PUPR. (Dami)

To Top