Edukasi

PSI, STC dan Bidang SD Dinas Pendidikan Sumba Barat Desain Lembar Kerja Siswa

Suasana kegiatan penyusunan LKS di SDN Tabulu Dara Waikabubak.

WAIKABUBAK, SUARAFLORES.NET,- Bersama Lembaga mitra yakni Perkumpulan Stimulan Institute dan Save the Children, Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat saat ini merancang atau mendesain bentuk Lembar Kerja Siswa atau LKS. Kegiatan ini melibatkan perwakilan kepala sekolah, pengawas dan guru serta penanggung jawab bidang SD dari Dinas Pendidikan.

Penyusunan LKS ini sebagai salah satu bentuk respon Lembaga mitra dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat menyikapi dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021 yang dimulai bulan Juli 2020 sebagaimana pengumuman Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, pekan lalu. Dalam pengumuman Mendikbud setelah adanya kesepakatan bersama dengan Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri terkait panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran/ tahun akademik 2020/2021 di masa pandemic COVID-19 dinyatakan bahwa tahun ajaran baru tetap dimulai Juli 2020.

Untuk mendukung pelaksanaan tahun ajaran baru, Lembaga mitra Perkumpulan Stimulant Institue (PSI) dan Save the Children (STC) bersama Dinas Pendidikan melakukan serangkaian persiapan seperti pembahasan tata laksana atau standar operasional prosedur (SOP) pembelajaran secara luring atau luar jaringan dan penyusunan LKS. Penyusunan LKS dilaksanakan pada Senin (22/6) bertempat di SDN Tabulu Dara Waikabubak. Dalam penyusunan LKS ini, Dinas Pendidikan menghadirkan tim penyusun yang merupakan perwakilan kepala sekolah, guru dan pengawas. Kegiatan penyusunan LKS ini dibuka oleh Kepala Bidang Sekolah Dasar (Kabid SD) Dinas Pendidikan, Drs. Paulus Ngongo Bili.

Di hadapan tim penyusun LKS, Kabid SD, mengemukakan, pelaksanaan pembelajaran dengan metode luring ini, dibutuhkan peran aktif pengawas, kepala sekolah, guru, orang tua dan anak itu sendiri. Untuk itu, tim penyusun harus bisa merancang LKS yang bisa mengembangkan kompetensi anak terkait Pendidikan karakter, kecakapan hidup serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. LKS yang disusun pun harus mempertimbangkan ketersediaan bahan dan alat di di rumah agar mudah digunakan oleh anak.

Kabid SD, Drs. Paulus Ngongo Bili, menambahkan, pelaksanaan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan pada Zona Hijau dilakukan dengan penentuan prioritas berdasarkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi terlebih dahulu dan mempertimbangkan kemampuan peserta didik untuk menerapkan protokol kesehatan dan menjaga jarak atau physical distancing. Untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) melaksanakan pembelajaran tatap muka terlebih dahulu pada bulan Juli 2020. Untuk jenjang SD paling cepat 2 bulan setelah tingkat SLTA melaksanakan tatap muka di sekolah. Hal sama juga untuk jenjang PAUD baru bisa dilaksanakan tatap muka setelah 2 bulan jenjang SD melaksanakan tatap muka. Untuk itu, kata Kabid Paulus, apabila di masa transisi 2 bulan pertama ini Kabupaten Sumba Barat masih berstatus Zona Hijau maka system Pendidikan bisa dimulai dengan new normal atau kebiasaan baru.

Lebih lanjut dijelaskan Kabid Paulus, guna mendukung pelaksanaan pembelajaran selama masa transisi ini pihaknya bersama Lembaga mitra yakni PSI dan STC menginisiasi pembuatan LKS. Dalam pembuatan LKS ini, pihaknya membagi tim penyusun ke dalam dua kelompok yakni Kelompok Kelas Rendah dan Kelompok Kelas Tinggi. Kelompok Kelas Rendah akan fokus menyusun LKS untuk Kelas 1-3 dengan prioritas utama pembelajaran adalah literasi dan numerasi, sedangkan untuk Kelas Tinggi atau Kelas 4-6 akan fokus pada pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Materi pembelajaran akan fokus pada pengembangan karakter anak, Pendidikan kecakapan hidup, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat sebagaimana protocol COVID-19.

Pantauan media ini, pelaksanaan diskusi penyusunan LKS yang dipandu oleh Silvester Nusa dari Save the Children dan Yoan Paubun dari PSI ini berlangsung dari pagi hingga sore hari. Sesuai rencana yang disepakati, setiap kelompok akan menyelesaikan pembuatan LKS untuk bulan Juli dan Agustus. Namun, Fasilitator Silvester Nusa berharap penyusunan LKS bisa disiapkan juga untuk bulan September bahkan hingga Desember 2020 sebagai antisipasi bila sekolah belum siap melakukan tatap muka di kelas.

Silvester Nusa, menjelaskan, pihaknya bersama Dinas Pendidikan berencana setelah pembuatan LKS dan standar operasional prosedur atau SOP Pembelajaran selesai dilakukan maka akan berdiskusi bersama dengan pihak Dinas Kesehatan, Kantor Kementerian Agama, Bappeda serta Dinas Keuangan dan Aset Daerah guna melihat SOP dan kebutuhan anggaran pembelajaran selama masa pandemic COVID-19. (bkr/SFN)

To Top