Peristiwa

Romanus Woga Terobos Kampung Terisolir, Warga Lompat-Lompat dan Menyebut Kunjungan Itu Sejarah

SUARAFLORES.NT—Setelah menghadiri kegiatan Rembug Stunting Tingkat Kabupaten Sikka, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga menuju Desa Watudiran, Kecamatan Waigete. Di sana, Wakil Bupati meletakkan batu pertama pembangunan tiga ruang kelas SMP Negeri Tiga Waigete.

Ke Watudiran, Romanus Woga bersama beberapa mobil para kepala dinas yang mengikutinya dari belakang. Ia dikawal mobil patroli Dinas Pol PP, mobil Tagana dan mobil Patroli Dinas Perhubungan. Namun mobil yang dikoordinir oleh Wihelmus Sirilus selaku Kadis Perhubungan itu macet alias mogok di sekitar Polsek Waigete.

Setelah melewati Kantor Desa Runut, ruas jalan menuju Watudiran mulai terlihat berlubang dan menganga cukup besar. Mobil yang ditumpangi Wakil Bupati Sikka tampak goyang kiri goyang kanan nyaris mirip para penari lagu Gemu Fa Mi Re ciptaan Nyong Frangko. Kondisi itu pun terlihat pada beberapa titik, sebelum masuk Desa Watudiran.

Watudiran sesungguhnya bukan liputan pertama bagi Suara Flores. Dulu pada kepemimpinan Bupati Drs. Sosimus Mitang (almarhum) ada sejumlah informasi terekam dan terpublikasi, baik Suara Flores Online maupun cetak.

Memang terlihat, ada sedikit perubahan pada pembangunan infranstruktur namun pembangunan rabat yang boleh disebut atas instruksi Bupati Sosimus Mitang dan Wera Damianus itu sudah terlihat pecah-pecah. Batu-batu kerikil sudah berhamburan. Lubang menganga, warga harus ekstra hati-hati, begitu pun Romanus Woga. Fakta kondisi jalan ini butuh perbaikan atau peningkatan.

Beberapa titik lain terlihat ada jamahan kepedulian seperti jalan hotmis walau sepotong saja. Juga sudah ada tiang listrik dan kabel jaringan terpasang.

Romanus Woga mengaku bahagia saat bertemu warga karena ia sudah dapat hadir dan melihat kondisi warga secara langsung. Ia sempat mengatakan bahwa listrik yang diminta itu, kini sudah ada tiang dan kabel.

“Pelan-pelan ee. Jangan keras-keras. Pasti saya dengan Pak Bupati Robi penuhi,” ujarnya saat sambutan peletakkan batu pertama pembangunan tiga ruang kelas SMP Negeri 3 Waigete di Watudiran.

Setelah makan siang dan meletakkan batu pertama bersama Camat Waigete Manyela da Cunha, tokoh masyarakat serta ratusan warga, Romanus Woga mohon diri meninggalkan warga Desa Watudiran. Ia berangkat menuju Kampung Glak di Dusun Glak, Desa Hale, Kecamatan Mapitara.

“Bapa, mama, ba’u sai e. Ami wali Glak man oti ee. Miu lopa moro ia. A’u e’i jalankan Mo’an Bupati Agenda nimun. Nimu istirahat dan harus ga buah-buahan gawan. (Bapa, mama, kami pamit dulu e. Kami mau ke Kampung Glak. Bapa mama jangan marah e. Hari ini saya jalankan 2 agenda bupati. Dia istirahat dan harus banyak makan buah-buahan,” begitu ucap pria tua yang dikenal sebagai motivator penuh humor itu.

Perjalanan kunjungan kerja Wakil Bupati Sikka dilanjutkan ke Kampung Glak. Mobil EB 2 yang berada di depan mobil yang ditumpangi Suara Flores kembali terlihat miring kiri dan miring kanan. Kadang-kadang “terjun” kedalam lubang jalan dan goyang-goyang saat mendaki.

Waktu kurang lebih pukul 14:00 Wita. Di depan mobil EB 2 terlihat mobil patroli Dinas Pol PP Sikka tampak goyang kiri-goyang kanan di tanjakan alias kesulitan melintasi sebuah tanjakan menuju Kampung Glak. Sejumlah angggota Pol PP bergegas turun mencari batu untuk mengganjal ban mobil. Upaya anggota Pol PP yang cepat dan berhasil sehingga perjalanan dilanjutkan.

Kurang lebih pukul 14:30 Wita, rombongan Wakil Bupati Sikka tiba di Kampung Glak. Namun perjalan belum selesai di situ. Rombongan harus menuruni bukit pada ruas jalan tanah berbatu yang menguji nyali dan menguras tenaga.

Suara Flores dan sejumlah staf Humas Protokol Setda Sikka saat itu semobil dengan Romanus Woga yang adalah Mantan Wakil Presiden Koperasi se Asia itu.

Romanus, pria berusia 70 an tahun itu rupanya mulai kelelahan. Namun ia terlihat sangat semangat mungkin karena berhasil tiba di Glak setelah menempuh perjalanan jauh. Bersama sejumlah staf ASN, ia turun dari mobil dinas didampingi ajudannya.

Warga Glak Lompat-Lompat Sambut Wakil Bupati Sikka Romanus Woga

Ratusan warga sudah menanti sejak pagi. Mereka menyambut rombongan Wakil Bupati penuh gembira dan bahagia dalam sapaan adat, musik seruling dan tarian khas mereka.

Warga kampung Glak lompat-lompat dalam tarian sambil menghitung langkah kurang lebih 30 meter menuju lokasi kegiatan. Belum diketahui jenis tarian lompat-lompat yang nyaris mirip orang Papua itu.

Para penari, penabuh gendang dan peniup seruling dipandu oleh Ferdy salah seorang guru pensiunan. Ferdy tampil penuh semangat bagai pemimpin koor (dirijen, red) di Gereja megah yang kadang-kadang dipadati “manusia-manusia tali satu”.

Ferdi terus pimpin para penari sampai di depan Kapela tua St Benediktus yang berdinding pelupuh dan berlantai tanah. Beberapa warga menyebut kapela itu sudah lama berdiri dan kokoh dengan kondisi fisik yang berlubang di atapnya, di dinding hingga di tanah lantainya.

Romanus Woga disambut Camat Mapitara, Kepala Desa Hale, Ketua BPD, para guru, kader posyandu, tokoh masyarakat, pengurus lingkungan di tenda kunjungan kerja. Warga terus bersorak-sorai.

Warga menyebut bahwa kehadiran Romanus Woga menjadi sejarah baru dan harus ditulis dibuku besar Kampung Glak.

Bagi mereka sejak Kabupaten Sikka terbentuk belum ada kunjungan resmi pemerintah, baik bupati dan wakil bupati Sikka dan juga pimpinan DPRD Sikka.

“Sejak Kabupaten ini terbentuk rimu toe gai lau ia laen bo’u. Ami senang golo Moan Wakil Bupati Sikka bo’u ba’a. Ami bui saena kawu. (Sejak kabupaten ini berdiri, mereka yang pegang tongkat pembangunan belum pernah datang, baik bupati maupun wakil bupati dari periode ke periode belum masuk ke sini. Kami senang sekali hari ini Wakil Bupati datang. Kami sudah tunggu Pak Bupati sejak pagi. Tapi Wakil Bupati yang datang juga kami senang,” kata sejumlah warga di lokasi.

Kunjungan itu dibuka oleh Camat Mapitara. Di hadapan Wakil Bupati Sikka dan ratusan warga, ia pun mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di kampung tersebut.

Beberapa warga dalam dialog menyebutkan sejumlah masalah seperti jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, pendidikan, posyandu hingga tempat ibadah. Mereka heran, desa yang masih jauh dari jamahan pembangunan itu tapi dikatakan desa berkembang.

“Naran A’un Agus. Ami emba’un en susar buno. Lalan amin hemu, listrik di e’on. Moret susar golo. Lakang ni’a ami moat Wakil Bupati. (Saya punya nama Agus. Jalan buruk, listrik tidak ada. Kami di sini susah sekali. Tolong lihat kami Bapa Wakil Bupati,” katanya singkat.

“Kami tidak tahu lagi. Kepala desa lapor bagaimana sampai desa ini masuk kategori desa berkembang,” ujar seorang guru SDN Glak asal Kecamatan Bola dalam kesempatan dialog.

Kecamatan Mapitara memiliki dua wakil rakyat dari partai besar, partai penguasa. Stef Sumandi dari PDI Perjuangan dan Aleks Agato dari Partai Nasdem.

Kehadiran dua politisi muda, kini dipercayakan rakyat termasuk warga Kampung Glak untuk periode kedua. Warga mengaku bahwa pada pemilihan legislatif memberikan dukungan suara kepada dua tokoh hebat dari kaki gunung Api Egon itu.

Warga kepada SuaraFlores.Net berharap kehadiran dua politisi ini menjadi ‘Corong Aspirasi dan Perjuangan Demokrasi’ bagi warga Mapitara termasuk Kampung Glak.

Stef Sumandi, salah satu calon Ketua Fraksi PDI Perjuangan mengaku bahwa dirinya juga mendapat dukungan dari warga Glak. Periode pertama, ia mendapat dua puluh suara, sedangkan periode kedua, ia mendapat 40 suara.

Sedangkan Aleks Agato hingga berita ini diturunkan belum dapat dikonfirmasi SuaraFlores.Net.

Selain kedua politisi tersebut, Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Sikka Germanus Goleng mengatakan bahwa Glak memiliki orang-orang hebat.

“Bersatulah supaya maju. Ada yang punya posisi bagus di kabupaten ini. Ada yang Strata Satu. Harus ada kerjasama. Kami atas nama dinas akan datang lagi untuk kegiatan padat karya,” ujarnya dalam kegiatan tersebut.

Masyarakat Glak menanti jamahan kepedulian melalui pembangungan dari Pemerintahan RoMa dan DPRD Sikka di berbagai bidang. Salam Restorasi dan Merdeka! (yannes/sfn02).

To Top