Edukasi

Seminar Nasional PMKRI di NTT, Denni Purbasari Tegaskan Pentingnya Pembangunan Manusia Sejak Usia Dini

Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Denni Puspa Purbasari saat menjadi pembicara kunci Seminar Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Aquinas di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu, (18 September 2019).
Para peserta seminar sedang mengikuti Seminar bertema “Pembangunan Berkelanjutan Dalam Memperkokoh Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045’.


KUPANG, SUARAFLORES.NET,–Sejarah membuktikan, perjuangan kemerdekaan Indonesia dan juga bangsa-bangsa dipelopori oleh kaum intelektual. Pernyataan itu disampaikan Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Denni Puspa Purbasari saat menjadi pembicara kunci Seminar Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Aquinas di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu, (18 September 2019).

“Karena itu, gunakan ilmu untuk kebajikan Indonesia. Tanggung jawab sejarah ada di situ,” kata Denni dalam seminar nasional bertopik ‘Pembangunan Berkelanjutan Dalam Memperkokoh Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045’.

Dengan gamblang, doktor bidang Ilmu Ekonomi dari University of Colorado at Boulder ini menjelaskan empat pilar menuju Indonesia Emas 2045, yakni pembangunan SDM dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan dan ketahanan nasional serta tata kelola kepemerintahan.

“Pemerintah sudah menyiapkan skenario Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi pada 2045. Karena itu, hari-hari ini Presiden Jokowi menekankan pentingnya investasi, ekspor dan SDM unggul,” papar Denni Purbasari.

Untuk mencetak sumber daya unggul, Denni menekankan  pentingnya membangun SDM di sepanjang siklus hidup manusia. 

“Semua harus disiapkan sejak anak masih dalam kandungan. Bahkan lebih jauh lagi, sejak calon ibu masih remaja,” kata mantan Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI Boediono itu.

Karena itulah, demi mencegah ‘stunting’ dan pembentukan keluarga berkualitas, Denni menekankan para mahasiswa dan mahasiswi untuk tidka menikah di usia terlalu muda. 

“Di situlah hulunya: keluarga. Orangtua harus siap dulu untuk bisa bertanggungjawab dan memberikan yang terbaik atas kehidupan anak seumur hidupnya nanti,” kata lulusan terbaik dan tercepat dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada 1997 ini.

Khusus bagi anak muda NTT, Denni menegaskan agar mengembangkan produk-produk khas daerah dengan kreativitas milenial. Sembari menunjukkan tenun NTT yang dipakainya, Denni menyampaikan, betapa lebih kuatnya hasil tekstil itu jika diberikan nilai tambah. Kata kuncinya adalah kolaborasi kreativitas yang dicurahkan menjadi kekuatan ekonomi baru.

“Bagi milenial, berikan cerita pada produk ini, misalnya terkait motifnya atau terkait proses pembuatan tenun NTT. Kemas dalam media sosial, beri sentuhan Bahasa Inggris menarik, sehingga menarik lebih banyak turis datang ke desa wisata pembuatan kain khas Timor,” contohnya.

Memungkasi paparananya, Denni Purbasari berpesan agar kader-kader PMKRI tak hanya memiliki kompetensi, dan kreativitas.

“Jangan lupakan integritas sebagai karakter daya saing kita. Di sinilah nilai-nilai keimanan menjadi penguat pada kompetensi yang kita miliki,” katanya.

Selain dihadiri Deputi Kantor Staf Presiden, Seminar pada Konferensi Studi Nasional (KSN) PMKRI yang dibuka Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi juga menghadirkan pembicara lain yakni Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Seknas SDGs Bappenas Setyo Budiantoro, Rektor Universitas Widya Mandira Kupang Pater Philipus Tulle, SVD serta staf bagian pendidikan dan penyuluhan, Komnas HAM Louvikar Alfan Cahasta. (Ar/jj)

To Top