Nusantara

Stimulant Institute Beberkan Hasil Analisa Situasi Selama Respon COVID-19

Suasana pertemuan evaluasi respon COVID-19 di aula rumah jabatan Bupati Sumba Barat pada Kamis (23/7) lalu.

WAIKABUBAK, SUARAFLORES.NET,- Perkumpulan Stimulant Institute (PSI) Sumba membeberkan hasil Analisa situasi selama masa respon COVID-19 periode Maret hingga Juli 2020. Sejumlah temuan lapangan disampaikan kepada Tim Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Kabupaten Sumba Barat.

Temuan lapangan dipresentasikan oleh Program Manager PSI, Margaretha R.Yeni Djelalu, di hadapan peserta yang berasal dari sejumlah organisasi perangkat daerah atau OPD Kabupaten Sumba Barat pada pertemuan evaluasi respon COVID-19 yang digagas pihaknya pada Kamis (23/7) lalu. Pertemuan yang berlangsung di aula rumah jabatan Bupati Sumba Barat ini dibuka dan dipandu oleh Wakil Sekretaris Satgas COVID-19 yang juga Kepala Badan Penanggilangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Barat, Ir. Yanis Eklemens Luther Chr. Loebaloe, M.Si.

Di hadapan peserta, Program Manager PSI, Margaretha R.Yeni Djelalu, menjelaskan 4 komponen yang terdiri dari aspek gender dan inklusi, partisipasi anak, perlindungan anak dan aspek keselamatan dan keamanan. Pada aspek gender dan inklusi, jelas Yeni Djelalu, pihaknya menemukan selama masa respon COVID-19 ada keterlibatan laki–laki dan perempuan dalam setiap kegiatan program yang dilakukan pemerintah daerah dan pemerintah desa. Untuk mendukung kerja pemerintah, pihaknya juga mengangkat dan menugaskan Relawan Desa Membangun (RDM) di 44 desa di Kabupaten Sumba Barat. Selain itu, selama masa respon ini pihaknya juga melaksanakan kegiatan lomba literasi peserta didik jenjang SD, mendukung Dinas Pendidikan dengan mensuport tim penyusun Lembar Belajar Anak atau Lembar Belajar Siswa PAUD dan SD di masa new normal Pendidikan. Di masa respon ini, ada juga aktivitas masyarakat yakni kaum ibu menenun sedangkan kaum bapak ada juga yang berjualan tenunan di pasar tradisional guna menambah penghasilan keluarga.

“Di masa respon COVID-19 ini kami melihat tingginya aktivitas perekonomian di pasar sehingga interaksi masyarakat cukup tinggi. Ada pembagian masker di pasar namun untuk anak-anak yang kurang diperhatikan. Di tingkat keluarga kami melihat ketersediaan bahan makanan masih mencukupi kebutuhan masyarakat, “ujarnya.

Pada aspek partisipasi anak, selama masa respon, pembelajaran dilakukan dari rumah yang disebut dengan BDR. BDR telah berlangung sejak sejak Maret hingga dimulainya tahun ajaran baru. Selama masa respon ini juga kami menemukan ada peserta didik yang masih mengambil bahan belajar di sekolah. Padahal harapan kita adalah lembar belajar siswa diantar guru ke rumah siswa atau orang tua mengambilnya di sekolah. Selama masa respon ini pihaknya juga menyemangati anak-anak dengan lomba literasi bagi peserta didik. Hal ini sangat membantu pelaku kependidikan dan orangtua mengatasi kejenuhan anak di rumah.

Pada aspek perlindungan anak, jelas Yeni Djelalu, pihaknya menemukan sebagian Posyandu telah diaktifkan rata-rata dimulai minggu kedua Juni lalu. Pelayanan posyandu masih terfokus pada layanan imunisasi Bumil dan bayi, sedangkan untuk pemantauan tumbuh kembang anak  yakni pengukuran berat badan dan tinggi badan atau BB, TB/PB  tidak dilakukan. Padahal, kata Yeni Djelalu, hal ini sangat penting karena sangat erat kaitannya dengan masalah stunting. Sementara itu untuk kegiatan Bina Keluarga Balita atau BKB, diskusi BKB juga tidak berjalan karena untuk menghindari kontak fisik. Menurutnya, BKB bisa dilaksanakan asalkan tetap menjaga jarak dan tidak saling menyentuh.

Pada aspek keselamatan dan keamanan, hingga saat ini  di tingkat Kabupaten Sumba Barat belum membuat SOP Penanganan COVID-19 di era tatanan baru atau new normal. Hal ini berdampak padarendahnya kapasitas relawan COVID-19 di tingkat desa guna mempengaruhi masyarakat pelaksanaan penanganan COVID-19. Di samping itu juga berdampak pada kurangnya kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan padahak tingkat interaksi masyarakat selama masa respon ini juga sangat tinggi. Hal lain yang ditemukan pihaknya adalah masalah ketersediaan air bersih yang juga masih kurang sehingga sangat mempengaruhi prinsip keamanan dan keselamatan.

Yeni Djelalu juga menambahkan, pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan bantuan pemerintah yakni masker dan hand sanitizer sudah mulai dibiasakan. Ada yang mengenakan masker saat keluar rumah, namun, sebagian ada yang belum terbiasa atau belum rutin melakukannya. Ditambahkannya pula, selama masa respon ini, pihkanya melihat adanya mobilitas pelaku perjalanan yakni mahasiswa dan migran yang pulang kampung. Hal ini perlu diedukasi terkait protokol kesehatan.

“Ada banyak orang yang pulang kampung. Mereka harus diedukasi agar sama-sama melindungi keluarga, “pintanya.

Yeni Djelalu juga meminta tim Satgas COVID-19 agar menyediakan panduan SOP Kunjungan Rumah bagi guru saat mengantar lembar belajar anak atau lembar belajar siswa dan juga bagi kader dan tenaga kesehatan saat melakukan kunjungan rumah. Ia meminta tim satgas perlu menyediakan alat pelindung diri atau APD bagi mereka.  (bkr/SFN)

To Top