Kesehatan

Strategi ROMA “Sulap Sampah Jadi Uang” dan Kurangi Pengangguran

Suara Flores
Tumpukan Sampah di Pasar Alok, Kota Maumere. (Doc.SF)

MAUMERE, SUARAFLORES.NET — Calon Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo dan Calon Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga (ROMA) memiliki strategi jitu untuk menangani sampah, menata kota Maumere, menuju kota yang bersih, sehat dan indah. Mereka menyiapkan jurus ampuh dalam mengelola sampah agar dapat menghasilkan uang, mengurangi pengangguran dan mendorong masyarakat hidup sehat.

Manajemen penanganan sampah yang baik harus dibentuk oleh pemerintah sebagai penggerak pembangunan daerah. Sebagai pengambil kebijakan, calon pemerintahan ROMA memperbanyak armada dan merekrut tenaga kerja yang cukup.

Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dibangun lebih dekat dengan masyarakat atau lingkungan yang mudah dijangkau. Jadwal pengambil sampah di setiap Tempat Pembuangan Sementara diatur setiap 6 jam.  

Dijelaskan Robi Idong bahwa agar sampah dapat menghasilkan uang, maka sebagai pemerintahan yang baru, ROMA menyiapkan tenaga khusus untuk melatih dan memberdayakan masyarakat dengan cara mengolah sampah menjadi berbagai produk termasuk pupuk. Tenaga teknis disiapkan agar masyarakat mengerti dan mampu mengolah sampah menjadi berbagai produk dan menghasilkan uang.

Baca juga: 2 Terminal di Kota Maumere Dibiarkan Kumuh Bertahun-tahun

ROMA telah mempelajari banyak cara dari berbagai sumber, termasuk Ibu Susilowati dan Ir.Oswaldus, M.Si serta  berbagai sumber dari sejumlah daerah.

“Sampah itu dapat menghasilkan uang. Kami telah mempelajari ini dan siap kami terapkan jika seluruh masyarakat kabupaten Sikka memenangkan paket ROMA pada pemilihan umum tanggal 27 Juni 2018 nanti,” ujarnya dalam beberapa kesempatan di Nara Room Hotel beberapa waktu lalu.

Lanjut Robi Idong, sampah juga dapat mengurangi pengangguran. Caranya, memperbanyak tenaga kerja untuk mengangkut sampah dan merekrut tenaga kerja untuk mengolah sampah menjadi uang.

“Sampah kota harus ditangani dengan sistim RT sampai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sejauh ini sudah dilakukan namun ditangani 1×24 jam. Setiap 6 jam sampah harus diangkut. Memperbanyak alat angkut dan tenaga kerja menjadi salah satu solusi mengurangi pengangguran,” ujarnya.

Dalam beberapa kesempatan, calon pemimpin masa depan Sikka yang baru ini memberi solusi untuk mengatasi masalah penataan kota Maumere.

“Sesungguhnya sampah adalah penghasil uang. Di sini kita memberdayakan masyarakat dengan memberikan pelatihan. Kita harus fokus, tidak sekedar omong saja. Kita bicara lingkungan yang sehat, maka masyarakat harus diberdayakan sebagai cara menyadarkan mereka untuk  menjaga lingkungan yang bersih, sehat dan indah,” tandasnya.

Menurut Robi Idong, hal positif yang telah dilakukan Anggota DPRD NTT, Ir. Oswaldus, M.Si,  wakil rakyat asal Sikka dan Ibu Sulilowat harus ditindaklanjuti. Konsep itu telah menjadi rencana kerja pemerintahan ROMA. Konsep pengelolaan sampah dilakukan dengan memperhatikan regulasi atau Perda yang ada.

“Nanti setelah dilantik, kita lihat Perdanya. Ada penambahan atau pengurangan di dalam Perda nanti kita bahas,” tandas pasangan calon yang didukung 2 partai besar yakni Partai Hanura dan PKB itu.

Baca juga: Trans Utara Flores, “Penyambung Lidah dan Perut Rakyat,” Viktory-Joss Siap Selesaikan

Untuk diketahui, Anggota DPRD NTT, Ir. Oswaldus, M.Si, mantan dosen Universitas Katolik (UNIKA) Kupang  dipanggil teman-temannya sebagai DPRD sampah. Cerita sapaan yang sematkan kepada wakil rakyat asal kabupaten Sikka ini bermula dari terobosannya dalam mengolah  sampah menjadi pupuk.

Langkah positif ini dilakukan Anggota DPRD dari PKPI ini sejak menjadi dosen di Universitas Katolik (UNIKA) Kupang. Ia menggerakan sejumlah tenaga kerja dengan upah yang cukup untuk mengolah sampah menjadi pupuk dan menghasilkan uang yang banyak.

“Saya bimbing masyarakat. Saya beri pelatihan dan saya beri mereka uang (upah). Pupuk saya jual di sejumlah dinas di beberapa kabupaten di NTT. Saya beli beberapa unit mobil, termasuk biaya pemilu saat mencalonkan diri pertama kali. Banyak teman-teman mengolok saya. Mereka ingin saya tetap menjalankan usaha itu. Mereka panggil saya DPRD sampah yang sukses. Pemerintah harus tindaklanjut ini,” tandas Oswaldus kepada SUARAFLORES.NET belum lama ini.

Hal yang sama dilakukan oleh Ibu Susilowati, salah satu pegiat lingkungan yang telah dan sedang bekerja keras, menggerakan masyarakat dari kota hingga desa. Ia memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa “sampah adalah emas” yang dibuang dan harus diambil, dipilah, diolah untuk menghasilkan uang.

Media ini menjadi saksi mata dalam kampanye Jokowi-JK di lapangan Kota Baru Maumere beberapa tahun lalu. Ia mengumpulkan berbagai jenis sampah di lapangan itu. Ia menulis surat untuk Jokowi tentang pengelolaan sampah. Berbagai jenis sampah itu diolah menjadi berbagai hiasan untuk dijual.

Salah seorang pengusaha di kota Maumere yang meminta namanya disebutkan mendukung penuh konsep kerja Paket ROMA ini. Baginya, sampah plastik dapat diolah kembali menjadi tali rafia.

“Konsep ini bagus sekali pak. Alat untuk olah sampah plastik menjadi tali raffia itu tidak mahal. Jika Paket ROMA menang maka saya dukung penuh konsep ini,” ujarnya belum lama ini.   (sfn02/tim).

To Top