Ekbis

Warga Dukung Gubernur Jadikan NTT Provinsi Kelor

Tanaman kelor. (Foto: Kelorina)

KUPANG,SUARAFLORES.NET,–Gerakan tanam kelor yang dicanangkan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mendapat dukungan dari Relawan Jokowi Poros Benhil. Pasalnya, gerakan tanam kelor tersebut dapat meningkatkan gisi dan ekonomi rakyat NTT.

“Ini sebuah gerakan yang luar biasa. Selain untuk meningkatkan gizi keluarga dan ekonomi rakyat, kelor juga dapat menghijaukan alam NTT yang tandus. Oleh karena itu, kami mendukung dan siap bekerja menanam kelor di seluruh NTT. Mari kita jadikan NTT Provinsi Kelor,” kata Korwil Rumah Juang Jokowi Poros Benhil NTT,Kornelius Moa Nita di Kupang, minggu lalu dalam pertemuan dengan Kepala Desa Raknamo, Kabupaten Kupang.

Dikatakannya, gerakan tanam kelor adalah sebuah gerakan yang positif dan produktif dalam meningkatkan pendapatan keluarga karena ternyata daun kelor dan biji kelor bernilai rupiah. Hal ini baru diketahui setelah gubernur NTT mengkapenyekan kelor dalam ajang pilgub NTT beberapa waktu lalu.

“Dulu kita tahu kelor tanaman yang hanya dipakai untuk lauk keluarga. Kelor hanya dilihat sebelah mata oleh warga karena dianggap tidak punya harga. Namun, setelah gubernur menjelaskan bahwa kelor ternyata berharga mahal di luar negeri, maka sudah saatnya kelor ditanam secara masal di seluruh lahan pekarangan rumah maupun kebun-kebun petani,” terangnya setelah berdiskusi dengan Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Johanes Tay, pekan lalu.

Sementara itu, Silvester Nong Epy, salah satu relawan Jokowi Kabupaten Sikka, mengatakan, tanaman kelor layak dibudidayakan secara masal di NTT karena cocok dengan alam NTT yang kering. Pasalnya, tanaman kelor ini bisa hidup ditanah yang kering dana berbatu-batu. Meskipun musim kemarau, tanaman ini tetap bertahan dan bertumbuh hijau.

Dikatakannya, apabila tanaman ini mau dijadikan proyek ekonomi rakyat oleh pemerintah, maka harus terus dilakukan sosialisasi yang masif ke seluruh warga desa di NTT.Karena, selama ini warga hanya gunakan kelor untuk konsumsi keluarga ketika tidak ada sayuran lainnya.

Lanjut mantan pendamping program PNPM ini, menerangkan, warga desa berkecencenderungan menanam tanaman yang sesuai permintaan pasar, atau pasarannya sudah jelas. Oleh karena itu, maka pemerintah tidak boleh hanya mendorong masyarakat menanam saja, tetapi harus juga memikirkan pendampingan atau pengawasan dan pemeliharaannya.

“Warga kita biasanya hanya menanam dan membiarkan saja. Oleh karena itu, dinas teknis harus menyiapkan fasilitator yang mendapingi dan mengawasi program ini di seluruh NTT. Saya mengusulkan agar pemerintah merekrut kaum muda NTT yang dilatih untuk mendampingi petani. Bukan saja, bagaimana teknik menanam, tetapi juga mendampingi hingga proses pengolahan dan pemasaran, sehingga program ini dapat maksimal berdaya guna bagi peningkatan ekononi rakyat,” papar Silvester.

Sebelumnya, dalam audiens Relawan Jokowi dengan Kepala Dinas Pertanian NTT, Johanis Tay, dijelaskan Johanis bahwa Gubernur NTT meluncurkan program kelor sebagai salah satu tanam ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Untuk itu, pihaknya telah mendorong warga NTT untuk menanam secara masal, baik di lahan pekarangan rumah, di kebun maupun di lokasi khusus yang dipersiapkan.

Dikatakannya, ketika ditanam dan bertumbuh subur, pada usia 6 bulan sudah dapat dipanen diolah oleh mesin pengering daun kelor. Selanjutnya, daun kelor kering tersebut dijual kepada pembeli dengan harga, Rp5000 per kilogram.

Selain itu, biji kelor yang sudah tua dapat dijual dengan harga mahal. Dia mengaku hasil produksi kelor saat ini sudah ada perusahaan yang membelinya dan dikirim ke Afrika dan Eropa. Oleh karena itu, mengenai pemasaran, dia meminta warga NTT tidak perlu ragu karena pasarannya sudah jelas.

Sementara, terkait mesin pengering daun kelor, kata dia, saat ini pemerintah sedang berusaha bekerja sama dengan pemerintah desa di seluruh NTT agar melalui dana desa dapat dialokasikan untuk membeli mesin pengering daun kelor. Dia berharap, pemerintah desa dapat mendukung usaha ekonomi para petani dengan menyiapkan beberapa unit mesin pengering tersebut.

Secara teknis, kata Johanis, tanaman kelor bisa ditanam di mana saja, bisa ditanam di pekarangan rumah, dan di kebun-kebun petani dengan sistem tumpang sari. Untuk tumpang sari, jaraknya 2,5 meter dari satu lubang ke lubang yang lain, sedangkan untuk lahan khusus kelor jaraknya 1 meter satu sama lain.

Meski demikian, lanjut dia, sebelum lahan ditanami biji kelor atau bibit kelor, lahan harus diperiksa atau dideteksi dengan alat khusus agar bebas dari pestisida. Karena para pembeli hanya membeli daun kelor yang alami alias bebas dari unsur-unsur kimia.

Saat ini, kata dia, pihaknya telah menyiapkan bibit kelor yang berkualitas dan diberikan secara gratis kepada warga atau kelompok petani, dan kelompok-kelompok pemuda yang telah memiliki lahan untuk menanam kelor. (Iwn/sft)

To Top